Kustini Sri Purnomo: Profil dan Kinerja Bupati Sleman

Kustini Sri Purnomo: Profil dan Kinerja Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo adalah Bupati Sleman periode 2021–2026, dilantik pada 26 Februari 2021. Ia merupakan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sekaligus istri dari Bupati Sleman dua p

Jul 12, 2026 - 02:57
0 0
Kustini Sri Purnomo: Profil dan Kinerja Bupati Sleman

Kustini Sri Purnomo: Profil dan Kinerja Bupati Sleman

Kustini Sri Purnomo adalah Bupati Sleman periode 2021–2026, dilantik pada 26 Februari 2021. Ia merupakan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sekaligus istri dari Bupati Sleman dua periode sebelumnya, Sri Purnomo. Kustini mencatat sejarah sebagai bupati perempuan pertama di Kabupaten Sleman. Dalam Pilkada 2020, ia berpasangan dengan Danang Maharsa dan meraih 49,12% suara mengalahkan tiga pasangan calon lainnya.

Profil dan Latar Belakang

Kustini Sri Purnomo lahir di Sleman pada 1 Juni 1967. Ia menempuh pendidikan di SMEA Negeri 1 Yogyakarta dan kemudian melanjutkan studi di bidang manajemen. Sebelum terjun ke politik praktis, Kustini aktif dalam berbagai organisasi sosial kemasyarakatan, termasuk sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman selama dua periode (2010–2020) mendampingi suaminya, Sri Purnomo, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Sleman. Pengalaman panjangnya di PKK memberinya pemahaman mendalam tentang isu-isu pemberdayaan perempuan, kesehatan keluarga, dan pembangunan berbasis komunitas. Karir politiknya dimulai ketika ia dipercaya PDIP untuk maju sebagai calon Bupati Sleman pada Pilkada 2020, meneruskan estafet kepemimpinan suaminya yang telah menjabat selama 2010–2015 dan 2016–2021.

Program Unggulan dan Kinerja

Sejak menjabat, Kustini meluncurkan program Sapa Warga (Silaturahmi dan Aspirasi Warga) yang menjadi andalan komunikasi langsung dengan masyarakat. Program ini dijalankan secara rutin setiap bulan di berbagai kalurahan dengan format dialog interaktif antara bupati beserta jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) dan warga. Hingga November 2023, program ini telah menjangkau lebih dari 80 kalurahan di Sleman, menyerap lebih dari 2.800 aspirasi warga dengan tingkat tindak lanjut mencapai 73%.

Di sektor ekonomi, Kustini mendorong program Sleman Bangkit yang fokus pada pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19. Program ini mencakup pemberian bantuan modal usaha bagi 12.000 pelaku UMKM pada tahun 2022, pelatihan digital marketing bagi 5.600 pelaku usaha, serta pengembangan 17 desa wisata baru. Hasilnya, angka kemiskinan di Sleman berhasil diturunkan dari 8,12% pada tahun 2021 menjadi 7,21% pada tahun 2023, di bawah rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi Sleman juga mencatat pemulihan signifikan dari kontraksi 2,14% pada 2020 menjadi tumbuh 5,08% pada tahun 2022.

Kustini juga memperkenalkan inovasi pelayanan publik melalui Sleman Smart Regency. Pada tahun 2023, sebanyak 147 layanan publik telah terintegrasi dalam satu aplikasi, termasuk sistem antrean daring di puskesmas, perizinan usaha mikro, dan layanan kependudukan. Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap pelayanan publik meningkat dari 81,4 pada 2021 menjadi 84,9 pada 2023.

Tantangan dan Kontroversi

Pemerintahan Kustini menghadapi tantangan serius dalam penanganan sampah setelah penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan pada Juli 2023. Krisis sampah yang melanda Sleman dan wilayah aglomerasi Yogyakarta ini menimbulkan ketidakpuasan warga karena sampah menumpuk di berbagai titik. Meskipun Pemkab Sleman kemudian membangun 72 Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) di tingkat kalurahan, implementasinya belum merata dan baru 40% yang beroperasi optimal pada awal 2024.

Kritik juga muncul terkait penanganan kemacetan di kawasan wisata, terutama di jalur Prambanan–Kaliurang. Meskipun telah ada rencana pembangunan jalan lingkar utara, realisasinya masih terkendala pembebasan lahan. Selain itu, pengelolaan parkir di kawasan wisata kerap menjadi sorotan karena minimnya transparansi pendapatan retribusi. Isu tata ruang juga mencuat dengan maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi vila dan penginapan komersial di kawasan Uluwatu hingga Pakem, yang mengancam predikat Sleman sebagai lumbung pangan Yogyakarta dengan lahan pertanian seluas 17.880 hektar yang terus menyusut setiap tahunnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User