Begini Proses BBM Diuji Sebelum Sampai ke SPBU
Jakarta - PT Pertamina Patra Niaga selaku Subholding Commercial & Trading Pertamina menegaskan komitmennya menjaga kualitas bahan bakar minyak (BBM) yang disalurkan ke masyarakat. Mulai dari bensin,
Jakarta - PT Pertamina Patra Niaga selaku Subholding Commercial & Trading Pertamina menegaskan komitmennya menjaga kualitas bahan bakar minyak (BBM) yang disalurkan ke masyarakat. Mulai dari bensin, solar, hingga avtur, seluruh produk dijamin memiliki mutu seragam sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) dan spesifikasi internasional. Proses pengujian dan pengawasan mutu dilakukan secara ketat sejak di fasilitas pengolahan kilang hingga ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Pengawasan Berlapis: Dari Kilang, Laboratorium, hingga Distribusi
Menurut laporan yang dihimpun Lurusin.com, Pertamina Patra Niaga menerapkan sistem manajemen mutu terintegrasi dalam rantai pasok BBM. Setiap tahap produksi dimonitor, mulai dari pemrosesan minyak mentah di kilang, penyimpanan di terminal BBM, hingga pengiriman menggunakan mobil tangki ke SPBU. Sebelum produk dinyatakan layak jual, sampel BBM diuji di laboratorium milik Pertamina yang telah terakreditasi, meliputi parameter fisik-kimia, angka oktan (RON), kadar sulfur, dan kontaminan lainnya.
Impurities: Reduksi Zat Pengotor untuk Mutu Optimal
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menerangkan salah satu fokus utama pengelolaan mutu adalah reduksi impurities atau zat pengotor. “Dalam minyak mentah secara alamiah terkandung berbagai senyawa yang dapat menurunkan performa mesin dan mencemari lingkungan. Karena itu, proses pengolahan kami dirancang untuk menekan kandungan ini hingga di bawah ambang batas yang ditetapkan,” ujarnya melalui keterangan resmi yang diterima Lurusin.com, Senin lalu.
“Salah satu kunci kualitas BBM Pertamina adalah pengelolaan impurities. Kami secara konsisten mereduksi zat pengotor seperti sulfur, garam, asam naftenat, nitrogen, serta logam berat seperti nikel, vanadium, dan merkuri yang secara alami terbawa dalam minyak mentah.”
Proses penghilangan impurities dilakukan melalui serangkaian teknologi di kilang, seperti hydrotreating untuk mengurangi sulfur dan nitrogen, desalting untuk memisahkan garam, serta proses distilasi dan ekstraksi untuk menyingkirkan logam berat. Setelah melalui penyaringan awal, produk intermediat akan diuji kembali di laboratorium mutu sebelum blending menjadi BBM jadi yang memenuhi spesifikasi.
Dengan pengawasan ini, Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa bensin seperti Pertamax Turbo (RON 98), Pertamax (RON 92), hingga solar yang mengandung biodiesel mendapat perlakuan yang sama ketatnya. "Kami tidak hanya menjual BBM, tetapi juga memberikan jaminan perlindungan mesin dan lingkungan bagi konsumen," tambah Roberth.
Sebagai bagian dari transparansi, Pertamina juga secara rutin menggelar uji petik bersama dengan lembaga independen, seperti LAPI ITB dan Sucofindo, untuk menguji mutu BBM di SPBU. Hasil uji tersebut dipublikasikan untuk memastikan tidak ada penyimpangan kualitas selama pendistribusian hingga ke tangki konsumen.
Komitmen Lingkungan dan Kepatuhan Global
Selain melindungi mesin, reduksi impurities juga berperan penting dalam menekan emisi gas buang berbahaya. Dengan kadar sulfur yang rendah, pembakaran BBM menghasilkan lebih sedikit sulfur dioksida (SO2) yang berkontribusi pada polusi udara dan hujan asam. Standar Euro 4 yang diterapkan sejak beberapa tahun lalu mensyaratkan bensin dengan sulfur maksimal 50 ppm, dan Pertamina memastikan produknya memenuhi bahkan melampaui standar tersebut.
Dari serangkaian proses pengujian dan pengendalian mutu ini, konsumen di SPBU dapat yakin bahwa setiap liter BBM yang dibeli telah melewati serangkaian pemeriksaan teknis yang ketat. (tim/red)
Comments (0)