Bantah Klaim Trump, Iran Tegaskan Tidak Ada Pertemuan dengan AS di Qatar
Teheran, Lurusin.com — Pemerintah Iran secara tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut akan ada pertemuan tingkat tinggi antara Washington dan Teheran di Doha, Qa
Teheran, Lurusin.com — Pemerintah Iran secara tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut akan ada pertemuan tingkat tinggi antara Washington dan Teheran di Doha, Qatar. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa tidak ada jadwal pertemuan atau negosiasi dalam bentuk apa pun dengan pihak AS dalam waktu dekat.
Pernyataan Baghaei yang disampaikan kepada wartawan pada Senin (29/6) waktu setempat ini sekaligus mematahkan pengumuman Trump yang sebelumnya menyebut bahwa pembicaraan kedua negara akan berlangsung pada Selasa (30/6). Menurut laporan kantor berita IRNA yang dipantau media kami, Baghaei yang juga menjabat sebagai juru bicara tim negosiasi Teheran itu menekankan bahwa saat ini fokus utama Republik Islam Iran adalah memastikan implementasi nota kesepahaman (MoU) pengakhiran perang yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak dua pekan lalu.
"Kami tidak memiliki jadwal pertemuan atau negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat. Prioritas kami saat ini adalah memastikan seluruh ketentuan dalam MoU dijalankan sebagaimana mestinya," ujar Baghaei seperti dikutip dari laporan yang diterima redaksi.
Bantahan ini muncul di tengah ketegangan diplomatik yang masih menyelimuti hubungan kedua negara. MoU yang dimaksud merupakan hasil dari pembicaraan intensif yang difasilitasi oleh pihak ketiga dan diharapkan menjadi landasan bagi proses perdamaian yang lebih komprehensif. Namun, perbedaan interpretasi tentang langkah-langkah konkret pasca-penandatanganan mulai mencuat ke permukaan.
Pemerintahan Trump sebelumnya mengklaim bahwa Washington dan Teheran akan menggelar pertemuan langsung di ibu kota Qatar untuk membahas implementasi perjanjian tersebut. Namun pernyataan resmi dari Teheran melalui Baghaei justru menunjukkan bahwa kesepakatan yang telah dicapai masih memerlukan sejumlah langkah teknis dan praktis sebelum kedua pihak bisa duduk dalam satu meja perundingan formal.
Para pengamat menilai bahwa perbedaan narasi ini mencerminkan masih adanya jurang kepercayaan antara kedua negara. Iran tampaknya berhati-hati untuk tidak terburu-buru kembali ke meja perundingan langsung sebelum ada jaminan bahwa komitmen yang tertuang dalam MoU benar-benar dihormati oleh pihak Amerika Serikat.
Situasi ini juga menunjukkan bahwa meskipun telah ada titik temu dalam bentuk MoU, jalan menuju normalisasi hubungan kedua negara masih panjang. Kedua belah pihak masih harus menyamakan persepsi tentang apa yang telah disepakati dan bagaimana menerjemahkannya dalam kebijakan nyata di lapangan.
Sejauh ini, belum ada respons resmi dari pihak Gedung Putih atau Departemen Luar Negeri AS terkait bantahan keras dari Teheran ini. Sementara itu, Qatar yang selama ini berperan sebagai penengah dalam dialog tidak langsung antara Iran dan AS, masih terus mendorong komunikasi antara kedua pihak untuk menjaga momentum perdamaian yang telah terbangun.
Comments (0)