Sep 01, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

AS Baihak Perjanjian Minyak Venezuela, AS Kuasai 65 Miliar Barel Cadangan

Washington, D.C. — Pemerintah Amerika Serikat merilis rincian terbaru mengenai perjanjian minyak raksasa dengan Venezuela yang diumumkan Presiden Donald Tr

AS Baihak Perjanjian Minyak Venezuela, AS Kuasai 65 Miliar Barel Cadangan

Washington, D.C. — Pemerintah Amerika Serikat merilis rincian terbaru mengenai perjanjian minyak raksasa dengan Venezuela yang diumumkan Presiden Donald Trump pada 28 Agustus 2026. Perjanjian ini memberikan kendali mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak terbukti kepada AS — angka yang mengalahkan cadangan terbukti AS sendiri yang saat ini mencapai sekitar 46 miliar barel. Gedung Putih menyebutnya sebagai perjanjian minyak terbesar dalam sejarah dunia.

Langkah strategis ini merupakan kelanjutan dari misi militer Januari lalu yang berhasil menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro atas tuduhan narkoterrorisme dan perdagangan narkoba. Kini, Washington bergerak lebih jauh untuk mengamankan dominasi energi di benua Amerika selama berdekade-dekade ke depan.

Peran Sentral North American Blue Energy Partners

Di balik perjanjian ini berdiri sebuah entitas swasta bernama North American Blue Energy Partners (NABEP), perusahaan yang dimiliki pengusaha Venezuela Alejandro Betancourt. NABEP saat ini merupakan operator minyak swasta terbesar kedua di Venezuela setelah Chevron. Perusahaan ini akan menjadi mitra joint venture bagi pemerintah AS dalam pembentukan entitas baru yang mengelola ladang minyak Venezuela.

Pemerintah Venezuela di bawah Presiden Sementara Delcy Rodríguez memberikan hak konsesi selama 100 tahun atas 17 ladang minyak kepada NABEP. Banyak ladang minyak yang termasuk dalam paket ini sebelumnya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan Rusia dan Tiongkok, yang kini dialihkan ke bawah kendali baru yang berpusat di Washington.

"NABEP akan memiliki auditor, pengacara, dan penasihat AS yang bereputasi, dan perjanjian pemerintah AS dengan NABEP tunduk pada hukum AS dan berada di bawah yurisdiksi pengadilan AS," demikian pernyataan resmi Gedung Putih dalam fact sheet yang dirilis Senin malam.

Saham Pentagon dan Jaminan Harga Minyak

Rincian terpenting yang diungkapkan Gedung Putih adalah Pentagon akan memiliki 35% saham di perusahaan patungan tersebut. Selain itu, Departemen Luar Negeri AS mendapat jaminan untuk membeli 20% dari total produksi minyak dengan harga biaya (cost basis). Ini berarti AS tidak hanya menguasai cadangan minyak secara strategis, tetapi juga mendapatkan akses langsung terhadap pasokan energi berbiaya rendah.

Betancourt selaku pemilik NABEP berkomitmen untuk menginvestasikan $100 miliar dalam infrastruktur minyak baru di Venezuela. Angka ini menunjukkan skala ambisi perjanjian tersebut — sebuah proyek infrastruktur energi skala masif yang menurut Gedung Putih tidak akan menimbulkan biaya bagi pemeriksi AS.

Kekuasaan Veto dan Kendali Penuh AS

Pemerintah AS tidak hanya menjadi pemegang saham mayoritas. Gedung Putih menegaskan bahwa AS memiliki hak veto terhadap anggota dewan direksi perusahaan patungan. Sebagian besar anggota dewan direksi akan berasal dari AS, memberikan kendali penuh atas pengambilan keputusan strategis.

Perjanjian ini secara resmi ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Keterlibatan dua pejabat senior tersebut menunjukkan bahwa perjanjian ini tidak hanya berdimensi ekonomi, tetapi juga militer dan geopolitik.

Skeptisisme dan Risiko Politik

Meskipun pemerintah Trump menyampaikan perjanjian ini dengan penuh optimisme, sejumlah analis energi menyampaikan kekhawatiran serius. Mereka menilai bahwa akan dibutuhkan waktu bertahun-tahun — bahkan puluhan tahun — untuk memulihkan produksi minyak Venezuela yang telah lama terbengkalai akibat sanksi internasional dan penurunan investasi.

"Perjanjian ini memiliki risiko politik yang signifikan, karena pemerintahan masa depan di Venezuela atau AS dapat menentang perjanjian ini," ujar seorang mantan penasihat energi pemerintah AS yang tidak disebutkan namanya.

Beberapa pengamat juga mempertanyakan legalitas perjanjian ini, mengingat status Venezuela yang masih dalam masa transisi politik pasca penangkapan Maduro. Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah pemerintah sementara Venezuela memiliki otoritas hukum penuh untuk mengikat negara dalam perjanjian jangka panjang seperti ini?

Latar Belakang Kontroversial Alejandro Betancourt

Alejandro Betancourt, sosok yang berdiri di balik NABEP, memiliki rekam jejak bisnis yang cukup kompleks. Ia sebelumnya dikenal sebagai pendiri Derwick Associates, perusahaan yang pernah terlibat dalam proyek pembangkit listrik di Venezuela. Investigasi oleh OCCRP (Organized Crime and Corruption Reporting Project) mengungkap bahwa Derwick pernah bermitpat dengan Gazprombank milik Rusia dalam usaha patungan yang disebut Gazprombank Latin America Ventures untuk mengeksplorasi minyak Venezuela.

Betancourt juga merupakan kepala administrasi O'Hara, grup investasi internasional yang menjadi pemegang saham terbesar Pacific Rubiales Energy pada 2015. Ia dikenal sebagai pemegang saham utama perusahaan kacamata hitam Hawkers yang berbasis di Spanyol, serta pendiri Auro, perusahaan transportasi VTC di Spanyol.

Dampak terhadap Peta Energi Dunia

Perjanjian ini mengubah peta geopolitik energi secara mendasar. Dengan 65 miliar barel cadangan minyak terbukti, AS tidak hanya memperluas cadangan energinya, tetapi juga menggeser pengaruh Rusia dan Tiongkok di Amerika Latin. Ladang minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan-perusahaan Rusia dan Tiongkok kini berpindah tangan ke entitas yang berada di bawah kendali Washington.

  • 65 miliar barel cadangan minyak terbukti yang dikuasai AS
  • 100 tahun masa konsesi atas 17 ladang minyak
  • $100 miliar investasi infrastruktur yang dijanjikan NABEP
  • 35% saham yang dimiliki Pentagon
  • 20% produksi dijamin untuk dibeli Departemen Luar Negeri dengan harga biaya

Bagi Venezuela, perjanjian ini merupakan titik balik yang ambigu. Di satu sisi, investasi besar ini berpotensi memulihkan sektor minyak yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi negara. Di sisi lain, hak konsesi selama 100 tahun dan kendali mayoritas AS menimbulkan kekhawatiran tentang kedaulatan energi Venezuela dalam jangka panjang.

Reaksi Internasional dan Prospek ke Depan

Komentator internasional memperkirakan bahwa perjanjian ini akan memicu respons dari Rusia dan Tiongkok, dua negara yang kehilangan aset energi strategis di Venezuela. Analis juga menunjukkan bahwa perjanjian semacam ini biasanya membutuhkan ratifikasi dari legislatif, namun proses transisi Venezuela yang belum stabil membuat mekanisme oversight tersebut menjadi kabur.

Seiring berjalannya waktu, pertanyaan besar tetap menghantui: apakah perjanjian ini akan benar-benar menghasilkan minyak dalam jumlah besar bagi AS, atau sekadar menjadi kemenangan geopolitik jangka pendek yang menyembunyikan risiko jangka panjang? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User