Bencana alam dahsyat mengguncang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026), ketika banjir bandang menerjang lembah sungai di wilayah pegunungan Himalaya. Ratusan jemaah haji Hindu yang sedang dalam perjalanan suci menuju Gunung Kailash dikhawatirkan menjadi korban dalam musibah yang telah menelan lebih dari 950 jiwa dan membuat lebih dari 4.400 orang dinyatakan hilang. Tragedi ini menjadi salah satu bencana alam terdahsyat yang melanda kawasan Himalaya dalam dekade terakhir.
Menurut laporan resmi dari Kementerian Pariwisata Nepal, sebanyak 668 turis asing dari 34 negara dilaporkan hilang kontak sejak Rabu pagi. Di antara mereka, mayoritas adalah jemaah ziarah yang tengah menempuh rute menuju Gunung Kailash, situs suci bagi umat Hindu, Buddha, Jain, dan agama-agama Tibet. Pemerintah India melaporkan setidaknya 287 warganya hilang, menjadikan mereka kelompok terbesar di antara warga negara asing yang belum ditemukan. Selain itu, 80 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, dan 25 warga Kanada juga termasuk dalam daftar yang belum diketahui keberadaannya.
Kronologi Bencana: Dari Longsor Gletser hingga Tsunami Lumpur
Bencana ini bermula ketika sebagian gletser di kawasan pegunungan Tibet runtuh dan jatuh ke lembah sungai Lhende, yang terletak sekitar 20 kilometer dari perbatasan Rasuwagadhi. Material longsor berupa es, batu, dan lumpur mengalir deras ke sungai Bhotekoshi yang membelah perbatasan Nepal-Tibet. Dalam hitungan menit, gelombang lumpur dan air bah menghantam pemukiman, pos imigrasi, hingga infrastruktur jalan raya di kedua sisi perbatasan.
Video yang diverifikasi oleh kantor berita internasional memperlihatkan gelombang material yang mengamuk menelan Gedung Imigrasi Pelabuhan Gyirong, fasilitas imigrasi multilantai yang menjadi titik penyeberangan utama bagi para peziarah. Pada saat kejadian, ratusan jemaah sedang menunggu proses imigrasi untuk melanjutkan perjalanan ke Tibet. Mereka tidak memiliki banyak waktu untuk menyelamatkan diri.
| Negara | Jumlah Hilang |
|---|---|
| India | 287+ |
| Amerika Serikat | 80+ |
| Australia | 34 |
| Inggris | 33 |
| Kanada | 25 |
| Malaysia | Belum dikonfirmasi |
| Lainnya (34 negara) | 209+ |
Perjalanan Ziarah yang Berubah Menjadi Tragedi
Gunung Kailash, dengan ketinggian 6.638 meter di atas permukaan laut, merupakan salah satu situs paling suci dalam agama Hindu. Gunung ini dipercaya sebagai tempat tinggal Dewa Shiva dan istrinya, Parvati. Setiap tahun, ribuan peziarah dari India dan berbagai belahan dunia menempuh perjalanan panjang dan berat untuk mencapai gunung tersebut melalui rute Nepal-Tibet. Ziarah ini sempat terhenti selama beberapa tahun akibat pandemi COVID-19 dan ketegangan diplomatik antara India dan China, namun baru kembali dilakukan sejak tahun lalu.
Salah satu kelompok peziarah yang terdampak berasal dari yayasan spiritual pimpinan Sadhguru. Dalam pernyataannya di media sosial, Sadhguru mengungkapkan bahwa kelompoknya kehilangan kontak dengan 77 peziarah dan 3 relawan saat mereka berada di kantor imigrasi perbatasan. "Banjir bandang yang mengerikan telah terjadi di Gyirong, Tibet, dan salah satu kelompok Kailash kami terjebak di dalamnya. Saat dalam perjalanan pulang, mereka berada di kantor imigrasi ketika banjir melanda," tulis Sadhguru.
Sementara itu, Syed Sadique, pemilik agen perjalanan di India selatan, mengungkapkan keputusasaannya. Agen perjalanannya mengirimkan hampir 60 orang dalam ziarah ini, dan kini 36 di antaranya hilang, termasuk putranya yang bertugas sebagai pemandu wisata. "Kami telah menghubungi semua nomor telepon yang kami miliki, namun tidak ada yang menjawab," kata Sadique kepada Reuters.
Jalan Raya Putus, Operasi Pencarian Terkendala
Bencana ini tidak hanya menelan korban jiwa, namun juga menghancurkan infrastruktur vital di kawasan tersebut. Jalan Raya Pasang Lhamu, yang menghubungkan Kathmandu dengan distrik Rasuwa, mengalami kerusakan parah setelah banjir bandang menerjang Sungai Trishuli. Sekitar 40 kilometer jalan utama hanyut terbawa arus, memutus akses transportasi ke daerah terdampak. Pemerintah Nepal kemudian membuka jalur alternatif melalui rute Tokha–Chhahare–Gadkhar Bridge–Aapre–Narja–Lachyang–Saramthali–Patikharka, namun kondisi jalan yang berupa tanah dan sempit menyulitkan kendaraan besar termasuk truk bantuan.
Lebih dari 100 kendaraan terjebak di hutan Gijel, Distrik Rasuwa, akibat longsor dan lumpur yang menutupi jalan. Seorang supir yang membawa bantuan dari Bidur melaporkan bahwa mereka sudah terjebak sejak Minggu sore hingga Senin pagi tanpa perkembangan berarti. Beberapa relawan yang membawa bantuan memilih untuk kembali dari Lachyang setelah menyadari kondisi jalan yang sangat buruk.
Selain infrastruktur jalan, 12 proyek pembangkit listrik tenaga air di distrik Rasuwa dan Nuwakot juga mengalami kerusakan serius. Asosiasi sektor swasta yang menaungi perusahaan listrik melaporkan bahwa setidaknya 900 pekerja belum dapat dipertanggungjawabkan keberadaannya. Di Proyek Listrik Air Upper Trishuli-1 sendiri, setidaknya 576 orang dilaporkan hilang, dengan diperkirakan 300 dari mereka terjebak di dalam terowongan proyek.
Upaya Penyelamatan dan Respons Internasional
Tim pencari dan penyelamat yang terdiri dari Tentara Nepal, Kepolisian Bersenjata, dan Kepolisian Nepal dikerahkan secara massif untuk menjangkau daerah-daerah terpencil yang terisolasi. Helikopter dikerahkan untuk mencari korban selamat dan menjatuhkan bantuan darurat kepada ribuan orang yang terputus akses di kawasan pegunungan yang sulit dijangkau.
Pemerintah India telah mengevakuasi ribuan orang dari negara bagian yang berbatasan dengan Nepal, termasuk Bihar, Uttar Pradesh, dan Uttarakhand, karena banjir mengancam DAS Gandak. Pemerintah Bihar membuka seluruh 36 gerbang Bendungan Gandak di Valmikinagar sebagai langkah pencegahan, dengan sekitar 86.000 kubik air per detik dialirkan dari bendungan tersebut.
Di tingkat internasional, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan bahwa pengumpulan informasi yang akurat dari kawasan terpencil tersebut masih menjadi tantangan besar karena keterbatasan infrastruktur lokal. Menteri Luar Negeri Penny Wong mengumumkan bantuan senilai 3,6 juta dolar Australia untuk komunitas yang terdampak banjir di sepanjang perbatasan Nepal-China.
Perubahan Iklim sebagai Faktor Pemicu
Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa runtuhnya gletser yang memicu bencana ini kemungkinan besar terkait dengan dampak perubahan iklim. Suhu yang meningkat di kawasan Himalaya menyebabkan pencairan gletser yang semakin cepat, meningkatkan risiko terjadinya fenomena yang dikenal sebagai GLOF (Glacial Lake Outburst Flood) atau banjir danau gletser. Fenomena ini menjadi ancaman serius bagi komunitas pegunungan di seluruh kawasan Himalaya, termasuk para peziarah yang setiap tahun menempuh rute-rute berbahaya untuk mencapai situs-situs suci.
Sengupta, seorang ahli ekologi, menekankan bahwa meskipun pariwisata bukanlah pemicu langsung runtuhnya gletser, cara pengelolaan jumlah wisatawan perlu mendapat perhatian lebih besar terhadap ekosistem pegunungan yang rapuh. "Kita perlu menghargai kerapuhan ekosistem gunung ini, dan juga menghargai para peziarah yang menjalankan perjalanan suci mereka," ujarnya.
Tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi ribuan keluarga di berbagai negara yang kini menanti kabar dari orang-orang tercinta. Pertanyaan yang sama terus menggelayut di benak mereka: apakah jemaah yang mereka cintai berhasil menyeberangi perbatasan sebelum banjir melanda, atau mereka menjadi bagian dari korban yang hingga kini belum ditemukan?
Comments (0)