Aceh — Repsol Ride Story Pilih Aceh untuk Program Bentang Cerita
Program Bentang Cerita: Repsol Ride Story resmi menetapkan Provinsi Aceh sebagai destinasi ekspedisi komunitas sepeda motor selanjutnya. Keputusan ini dium
Program Bentang Cerita: Repsol Ride Story resmi menetapkan Provinsi Aceh sebagai destinasi ekspedisi komunitas sepeda motor selanjutnya. Keputusan ini diumumkan melalui rilis resmi panitia pada 3 April 2026, menandai babak baru dalam rangkaian perjalanan bermotor yang menggabungkan eksplorasi rute, dokumentasi budaya, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Berdasarkan dokumen perencanaan yang diterima redaksi, kegiatan akan berlangsung selama tujuh hari mulai 18 hingga 24 Mei 2026, melintasi lintas kabupaten di Aceh dengan total jarak tempuh diperkirakan 1.240 kilometer.
Fase 1: Pengumuman dan Registrasi Peserta
Pantia mengumumkan slot peserta terbatas untuk 50 unit sepeda motor dengan kriteria khusus. Berikut kronologi fase awal:
- 3 April 2026: Repsol mengumumkan pemilihan Aceh melalui kanal media sosial resmi dan situs komunitas. Unggahan tersebut menuliskan, “Bentang Cerita hadir di tanah rencong, mengajak riders mengukir cerita di antara hutan, pegunungan, dan pesisir sejarah.”
- 4–18 April 2026: Masa pendaftaran daring dibuka. Data dari panitia menunjukkan 387 pendaftar dari seluruh Indonesia bersaing melalui seleksi berkas dan pengalaman touring.
- 20 April 2026: Hasil seleksi diumumkan. Sebanyak 50 peserta utama dan 10 peserta cadangan ditetapkan. Komposisi peserta meliputi 30% dari Aceh dan Sumatera Utara, 45% dari Pulau Jawa, dan sisanya dari wilayah lain.
- 25 April 2026: Pengarahan teknis secara daring membahas peta rute, titik istirahat, dan protokol keselamatan. Setiap peserta diwajibkan memiliki asuransi perjalanan dan surat keterangan sehat.
Data penting: Biaya partisipasi ditanggung penuh oleh sponsor, termasuk bahan bakar, akomodasi, konsumsi, dan suvenir eksklusif edisi “Bentang Cerita Aceh”.
Fase 2: Pelaksanaan Ekspedisi (18–24 Mei 2026)
Rute resmi dirilis pada 2 Mei 2026 melalui koordinasi dengan komunitas motor lokal dan Dinas Pariwisata Aceh. Berikut rencana perjalanan hari per hari:
- Hari 1 (18 Mei) – Banda Aceh ke Calang: Start dari titik nol Banda Aceh, melintasi jalan pesisir barat sejauh 220 km. Peserta singgah di kawasan tsunami untuk dokumentasi sejarah.
- Hari 2 (19 Mei) – Calang ke Meulaboh: Jarak 170 km menyusuri pantai dan area konservasi penyu. Di Meulaboh, peserta melakukan kegiatan tanam mangrove bersama komunitas lingkungan.
- Hari 3 (20 Mei) – Meulaboh ke Blangpidie: Rute 195 km dengan pemandangan hutan tropis. Teknis: sepeda motor disarankan menggunakan ban dual-purpose untuk menghadapi jalan berlumpur di segmen tertentu.
- Hari 4 (21 Mei) – Blangpidie ke Takengon: Pendakian ke dataran tinggi Gayo, menempuh 240 km melalui jalan berkelok di ketinggian 1.200 mdpl. Suhu udara diperkirakan menyentuh 14°C dini hari.
- Hari 5 (22 Mei) – Istirahat di Takengon: Hari bebas untuk eksplorasi perkebunan kopi dan danau Laut Tawar. Diadakan sesi berbagi pengalaman dan fotografi.
- Hari 6 (23 Mei) – Takengon ke Lhokseumawe: Rute 225 km menuruni pegunungan menuju pesisir timur, melewati kawasan hutan lindung.
- Hari 7 (24 Mei) – Lhokseumawe ke Banda Aceh: Kembali ke titik awal via jalan nasional Banda Aceh–Medan sejauh 190 km, diakhiri seremoni penutupan di Taman Ratu Safiatuddin.
Data penting: Tim mekanik dan ambulans disiagakan sepanjang rute, bekerja sama dengan rumah sakit daerah. Konsumsi BBM diperkirakan 7.500 liter untuk seluruh peserta, disediakan oleh stasiun pengisian mitra di setiap titik pemberhentian.
Fase 3: Dampak dan Evaluasi
Berdasarkan proyeksi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh, kegiatan ini diharapkan memberikan dampak ekonomi langsung sebesar Rp1,8 miliar kepada pelaku usaha lokal, termasuk penginapan, rumah makan, dan pemandu wisata. Repsol juga mengalokasikan dana Rp300 juta untuk program tanggung jawab sosial di tiga desa titik singgah, berupa renovasi fasilitas air bersih dan pembangunan tempat istirahat wisatawan.
Pemerintah Aceh melalui Kepala Dinas Pariwisata, M. Nasir Syamaun, S.Pd., M.Si., menyambut kegiatan ini sebagai “katalis promosi wisata berbasis petualangan yang memperkuat citra Aceh sebagai destinasi aman dan ramah.” Sementara itu, Repsol Indonesia melalui Manajer CSR, Rina Wijayanti, menegaskan bahwa pemilihan Aceh tidak lepas dari potensi rute yang menantang sekaligus kaya nilai sejarah dan budaya.
Evaluasi akan dilakukan pada Juni 2026 untuk mengukur capaian indikator: partisipasi masyarakat, liputan media, dan peningkatan kunjungan wisata pasca-acara. Data awal dari survei daring terhadap peserta menunjukkan 92% responden menyatakan siap merekomendasikan rute Aceh kepada komunitas touring lainnya.
Comments (0)