JAKARTA — PT Bach Multi Global Tbk Resmi Tercatat di Bursa Efek Indonesia

Ruang utama Bursa Efek Indonesia (BEI) pagi itu tampak lebih padat dari biasanya. Sejumlah eksekutif berdiri di samping layar besar yang menampilkan grafik

Jul 08, 2026 - 16:25
0 0
JAKARTA — PT Bach Multi Global Tbk Resmi Tercatat di Bursa Efek Indonesia

Ruang utama Bursa Efek Indonesia (BEI) pagi itu tampak lebih padat dari biasanya. Sejumlah eksekutif berdiri di samping layar besar yang menampilkan grafik perdagangan perdana. Tepat pukul 09.30 WIB pada Rabu (8/7/2026), kode saham BACH secara resmi menyala di papan perdagangan, menandai pencatatan saham perdana PT Bach Multi Global Tbk. Jajaran manajemen perusahaan hadir lengkap, diikuti konferensi pers yang berlangsung segera setelah seremoni penutupan perdagangan sesi pertama.

Struktur Penawaran dan Dana yang Dikumpulkan

BACH melepas 500 juta lembar saham atau setara 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO. Harga penawaran ditetapkan pada Rp240 per saham, sehingga total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp120 miliar. Berdasarkan prospektus yang telah dipublikasikan, 60 persen dana akan digunakan untuk ekspansi infrastruktur teknologi dan pusat data mini di tiga kota, sementara sisanya dialokasikan untuk modal kerja dan pengembangan produk layanan cloud enterprise.

Proses penawaran umum berlangsung dari 1 hingga 4 Juli 2026. Tingkat kelebihan permintaan (oversubscription) tercatat sebesar 1,7 kali pada pooling institusional. Pemegang saham utama pasca-IPO tetap dikendalikan oleh pendiri, Aldo Bramantyo, dengan kepemilikan langsung sebesar 62 persen.

Manajemen dan Komitmen Pascapencatatan

Konferensi pers yang digelar usai seremoni menampilkan jajaran direksi lengkap: Direktur Utama Aldo Bramantyo, Direktur Teknologi Nadia Pramesti, Direktur Keuangan Rizky Wardhana, dan Komisaris Utama Hendra Kusuma. Dalam pemaparannya, manajemen menekankan posisi perusahaan sebagai penyedia solusi layanan teknologi terintegrasi untuk segmen korporasi menengah.

“Kami tidak sedang mengejar valuasi tinggi semata. Fokus kami adalah memperkuat kapasitas lokal agar klien tidak perlu lagi bergantung pada infrastruktur luar negeri,” ujar Aldo Bramantyo dengan nada datar, menatap lurus ke arah wartawan.

Pernyataan itu merespons pertanyaan mengenai tekanan profitabilitas yang dihadapi perusahaan teknologi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Cold, calculated, and straight to the point—begitu gaya komunikasi sang direktur utama sepanjang sesi tanya jawab.

Peta Ekspansi dan Risiko Terukur

Pascapencatatan, BACH menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 25 persen year-on-year hingga akhir 2027. Ekspansi akan dilakukan melalui pembangunan fasilitas data tier-3 di Semarang, Surabaya, dan Makassar. Langkah ini merupakan bagian dari strategi menjauhi persaingan langsung dengan pemain global yang telah lebih dulu menguasai Jakarta.

Namun, prospektus secara transparan mencantumkan sejumlah risiko: ketergantungan pada impor komponen server yang rentan terhadap fluktuasi nilai tukar, serta perubahan kebijakan perlindungan data yang dapat meningkatkan biaya kepatuhan. Tidak ada bumbu optimisme berlebihan dalam dokumen itu — hanya data, probabilitas, dan skenario mitigasi.

Hingga penutupan perdagangan hari pertama, saham BACH stagnan di level Rp242, naik tipis 0,83 persen dari harga IPO. Volume transaksi mencapai 42 juta lot, menunjukkan minat pasar yang moderat tanpa gejolak spekulatif. Sebuah pencatatan yang boring secara sekilas, namun justru itulah yang menunjukkan stabilitas yang dicari investor institusional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User