UTBK Digelar di Tengah Pandemi, Peserta Wajib Bermasker

Di tengah ketidakpastian akibat pandemi global, pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) tetap berlangsung dengan penyesuaian yang signifikan. Salah satu lokasi yang menjadi saksi adaptasi ini...

Jul 12, 2026 - 10:06
0 0
UTBK Digelar di Tengah Pandemi, Peserta Wajib Bermasker

Di tengah ketidakpastian akibat pandemi global, pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) tetap berlangsung dengan penyesuaian yang signifikan. Salah satu lokasi yang menjadi saksi adaptasi ini adalah kompleks pendidikan tinggi di kawasan Cinere, Depok, yang pada akhir pekan lalu menjadi tempat berlangsungnya ujian bagi ribuan calon mahasiswa. Pemandangan yang tidak biasa terlihat jelas: seluruh peserta hadir dengan penutup wajah, menjaga jarak, dan mengikuti serangkaian prosedur kesehatan sebelum memasuki ruang ujian. Ini bukan sekadar ujian akademik, melainkan juga ujian ketahanan sistem pendidikan di masa krisis.

Protokol Kesehatan Ketat di Setiap Tahap

Penyelenggaraan UTBK gelombang pertama ini menjadi bukti bahwa sektor pendidikan terus berupaya mencari keseimbangan antara keberlangsungan proses seleksi dan keselamatan publik. Setiap peserta diwajibkan melalui beberapa tahap pemeriksaan sebelum duduk di depan komputer. Suhu tubuh diukur di gerbang masuk, tangan dibersihkan dengan cairan antiseptik, dan masker menjadi aksesori wajib yang tidak bisa ditawar. Panitia yang bertugas juga mengenakan pelindung wajah dan sarung tangan, menciptakan suasana yang lebih mirip dengan klaster medis daripada ruang perkuliahan biasa.

Area ujian didesain ulang sedemikian rupa. Jarak antara satu stasiun komputer dengan lainnya diperlebar, memastikan tidak terjadi kontak fisik yang tidak perlu. Sirkulasi udara dan pencahayaan pun menjadi perhatian khusus untuk mengurangi risiko penyebaran virus. Para peserta diinstruksikan untuk tidak berkumpul, baik sebelum maupun setelah ujian. Bahkan, waktu kedatangan dibuat bergelombang guna menghindari penumpukan di titik-titik tertentu. Semua langkah ini diambil dengan satu tujuan: memutus rantai penularan sambil tetap memberi kesempatan yang adil bagi calon mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

Antara Tekanan Ujian dan Kekhawatiran Pandemi

Bagi banyak peserta, UTBK kali ini membawa dimensi psikologis yang jauh lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Beban belajar selama masa pembatasan sosial yang berkepanjangan sudah cukup menantang, namun kecemasan akan kemungkinan tertular Covid-19 menambah lapisan tekanan tersendiri. Seorang peserta mengaku deg-degan bukan hanya karena soal-soal yang harus dijawab, tetapi juga karena setiap kali melihat orang di sekitarnya batuk atau bersin. Namun demikian, keinginan untuk lolos Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) mengalahkan rasa takut itu.

Pihak penyelenggara dalam hal ini Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) telah menerbitkan panduan detail yang menjadi acuan bagi semua pusat ujian. Panduan itu mencakup tata cara masuk ruangan, penggunaan alat tulis pribadi, hingga larangan berinteraksi secara fisik. Sosialisasi dilakukan secara masif melalui kanal digital agar tidak ada peserta yang datang tanpa pemahaman yang cukup. Kendati demikian, di lapangan tetap muncul dinamika seperti antrean panjang yang sulit dihindari atau peserta yang terpaksa melepas masker sejenak karena merasa sesak. Panitia lokal di setiap kampus diberi wewenang untuk mengambil keputusan situasional selama masih sejalan dengan protokol utama.

Simbol Adaptasi dan Harapan Baru

Pemandangan di kampus yang menjadi lokasi ujian hari itu bukan sekadar liputan biasa. Ini adalah potret sebuah bangsa yang berusaha keras melanjutkan langkah meski badai belum reda. Peserta yang datang dari berbagai penjuru kota, dengan beragam latar belakang, bersatu dalam narasi yang sama: pendidikan tidak boleh terhenti oleh wabah. UTBK menjadi ajang unjuk diri sekaligus penegasan bahwa generasi muda tidak akan menyerah pada situasi.

Beberapa peserta terlihat menggunakan masker kain beraneka motif, mencerminkan sedikit sentuhan personal di tengah aturan seragam. Ada yang membawa bekal sendiri dari rumah untuk menghindari pembelian makanan di luar, ada pula yang langsung dijemput oleh keluarga setelah ujian selesai tanpa menunda waktu. Semua gerak-gerik itu menjadi bagian dari narasi besar tentang bagaimana masyarakat beradaptasi dengan kenyataan baru. Di sisi lain, perguruan tinggi negeri yang menjadi tempat ujian pun mendapatkan pengalaman berharga dalam mengelola kerumunan di era physical distancing—sebuah keterampilan yang akan sangat berguna ketika perkuliahan tatap muka kembali digelar.

Pelaksanaan UTBK di tengah pandemi ini memang menimbulkan pro dan kontra. Sebagian kalangan menilai ujian tetap bisa dilakukan secara daring penuh, sementara yang lain berpendapat infrastruktur dan pengawasan belum memadai untuk menjamin integritas tes jarak jauh. Terlepas dari perdebatan itu, gelombang pertama yang telah berlangsung relatif aman dan tertib. Tidak ada laporan klaster penularan yang berasal dari lokasi ujian, menunjukkan bahwa protokol yang diterapkan cukup efektif. Hal ini menjadi bekal optimisme untuk pelaksanaan ujian pada gelombang-gelombang berikutnya.

Di balik setiap layar komputer yang menyala pagi itu, tergambar wajah-wajah penuh harap. Mereka adalah calon-calon pemimpin, ilmuwan, seniman, dan profesional yang menolak dikalahkan oleh ketidakpastian. Dengan bermodalkan masker dan semangat, mereka menuliskan kode masa depan melalui setiap jawaban yang diketik. Bukan hanya nasib akademik yang dipertaruhkan, melainkan juga kepercayaan bahwa krisis ini bisa dilalui tanpa harus mengorbankan hak dasar untuk belajar dan berkembang. Ujian tulis berbasis komputer itu pun berubah menjadi lebih dari sekadar seleksi—ia menjadi monumen kecil ketangguhan manusia di tengah salah satu periode paling menantang dalam sejarah modern.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User