Senator Legarda Serukan Solusi Berbasis Alam Atasi Banjir Berulang

MANILA, Filipina — Setiap musim hujan tiba, jalan-jalan utama di Metro Manila kembali berubah menjadi sungai darurat yang mengancam jiwa dan harta penduduk

Senator Legarda Serukan Solusi Berbasis Alam Atasi Banjir Berulang

MANILA, Filipina — Setiap musim hujan tiba, jalan-jalan utama di Metro Manila kembali berubah menjadi sungai darurat yang mengancam jiwa dan harta penduduk. Banjir yang terulang hampir setiap tahun tidak lagi bisa dipandang sebagai masalah teknis semata yang terselesaikan dengan pembangunan gorong-gorong atau pompa air besar-besaran. Senator Filipina Loren Legarda menegaskan dalam pernyataannya pada Rabu bahwa di balik genangan air yang merendam permukiman padat, terdapat kerentanan ekologis yang mengharuskan perubahan fundamental dalam cara pemerintah dan masyarakat menghadapi bencana hidrometeorologi. Bagi Legarda, solusi terletak pada kombinasi antara infrastruktur kelas dunia dan intervensi berbasis alam yang mampu memperbaiki keseimbangan lingkungan secara menyeluruh.

Dalam konteks iklim yang semakin tidak menentu, banjir besar yang sempat melumpuhkan sebagian ibu kota Filipina beberapa waktu lalu bukan sekadar peringatan, melainkan manifestasi dari degradasi ekosistem yang terjadi selama dekade. Pembangunan berlebihan, deforestasi di lahan tangkapan air, dan konversi lahan basah menjadi kawasan komersial telah menghilangkan paru-paru alami kota sekaligus penyerap air berlebih. Legarda menekankan bahwa pendekatan konvensional yang hanya mengandalkan drainase dan stasiun pompa ibarat menaruh perban di luka yang sebenarnya memerlukan operasi besar-besaran untuk menyelamatkan jaringan kehidupan di atasnya. Ketika hutan gundul dan lahan basah hilang, air hujan tidak punya tempat pergi kecuali merendam rumah-rumah warga.

Ketika Infrastruktur Teknis Tak Cukup Berdaya

Pemerintah setempat selama ini mengandalkan serangkaian proyek infrastruktur megah untuk mengendalikan air. Mulai dari kanal drainase, floodway, hingga stasiun pompa dengan kapasitas ribuan liter per detik dibangun habis-habisan menggunakan dana publik yang tidak sedikit. Namun pada kenyataannya, setiap badai besar yang menghantam Luzon masih berhasil membuat sistem tersebut kewalahan. Air bukan lagi sekadar masalah mekanis yang bisa dialihkan dengan pipa, melainkan fenomena ekologis yang bereaksi langsung terhadap kondisi permukaan bumi.

Data historis menunjukkan bahwa Metro Manila dan kawasan sekitarnya kehilangan lebih dari 70 persen lahan basah alami akibat urbanisasi agresif sejak era 1980-an. Akibatnya, daya resap tanah menurun drastis dan air hujan yang seharusnya ditampung alam kini menghantam permukaan beton lalu meluncur deras ke permukiman rendah dalam waktu singkat. Legarda menilai, anggaran pembangunan infrastruktur abu-abu yang melonjak setiap tahun justru menciptakan rasa aman semu jika tidak diimbangi dengan pemulihan fungsi ekosistem di hulu.

"Banjir berulang tidak bisa diperlakukan hanya sebagai masalah pengendalian banjir yang menuntut pembangunan infrastruktur drainase, tetapi menuntut solusi preventif berbasis alam yang lebih luas. Langkah-langkah ini harus melengkapi drainase yang dirancang dengan baik, stasiun pompa, floodway, dan struktur lainnya."

Restorasi Ekosistem sebagai Perisai Hidup

Dalam visi yang disampaikan Legarda, solusi berbasis alam bukanlah konsep abstrak, melainkan intervensi konkret yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Di tingkat hulu, reforestasi di daerah tangkapan air menjadi langkah krusial untuk memperlambat aliran permukaan dan meningkatkan infiltrasi air ke dalam lapisan tanah. Pohon-pohon besar dengan sistem perakaran yang kuat berfungsi sebagai penahan alami yang jauh lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan tembok beton.

Sementara itu, di kawasan pesisir dan muara sungai, rehabilitasi mangrove dan pemulihan padang lamun menjadi benteng hidup yang meredam gelombang pasang serta menstabilkan garis pantai. Di dalam kota sendiri, Legarda mengusulkan penerapan green infrastructure seperti taman hujan, atap hijau, dan trotoar permeabel yang memungkinkan air meresap ke tanah alih-alih menggenang di jalan beraspal. Setiap meter persegi permukaan yang bisa menyerap air adalah investasi jangka panjang untuk menyelamatkan generasi mendatang dari ancaman banjir tahunan.

Paradigma Baru Pengelolaan Bencana

Perubahan paradigma dari reaktif menjadi preventif menjadi inti dari seruan senator yang juga dikenal sebagai advokat lingkungan dan perubahan iklim ini. Ia menegaskan bahwa solusi berbasis alam tidak dimaksudkan untuk menggantikan infrastruktur teknis, melainkan untuk melengkapi dan memperkuatnya. Drainase modern, stasiun pompa, dan sistem pengendali banjir konvensional tetap dibutuhkan, namun daya tahannya akan berlipat ganda jika ekosistem di sekitarnya berfungsi optimal.

Pendekatan ini juga menuntut koordinasi lintas sektor yang selama ini seringkali bekerja dalam silo. Badan pengelolaan sungai, dinas kehutanan, perencanaan kota, hingga pemerintah daerah harus duduk dalam satu meja untuk menyusun peta jalan restorasi ekosistem yang terintegrasi dengan rencana tata ruang. Tanpa sinkronisasi kebijakan, solusi alam akan gagal total karena tekanan pembangunan terus memakan ruang hidup ekosistem.

Legarda juga mengingatkan bahwa Filipina berada di garis depan dampak perubahan iklim. Suhu laut yang meningkat memicu badai tropis dengan intensitas lebih tinggi dan curah hujan ekstrem yang semakin sering. Dalam kondisi seperti ini, menunda aksi preventif berarti membiarkan miliaran peso kerugian ekonomi dan ratusan ribu jiwa terus terancam setiap tahunnya. Kita tidak bisa terus-menerus berlari mengejar air yang sudah menggenang; kita harus memastikan tanah kita mampu menampungnya sejak awal.

Dengan mengusulkan pendekatan berbasis alam sebagai komponen utama kebijakan pengendalian banjir, Legarda membuka wacana bahwa ketahanan kota masa depan tidak hanya diukur dari ketebalan beton, tetapi dari kesehatan ekosistem yang mampu bekerja bersama manusia. Apakah seruan ini akan diikuti dengan komitmen anggaran dan regulasi yang tegas, menjadi tantangan berikutnya yang harus dijawab pemerintahan saat ini.