JAKARTA — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa guru memegang peran sentral dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah forum pendidikan nasional yang menyoroti pentingnya ekosistem sekolah sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda Indonesia.
Menurut Abdul Mu’ti, guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran di ruang kelas. Lebih dari itu, guru adalah agen pembentukan karakter dan peradaban yang menentukan arah tumbuh kembang anak didik. Ia menyebut budaya sekolah yang sehat tidak lahir secara otomatis, melainkan harus dibangun secara sadar melalui keteladanan para pendidik setiap hari.
"Guru juga menjadi agen pembentukan karakter dan peradaban. Tanpa guru yang hadir dengan sepenuh hati, budaya sekolah aman dan nyaman hanya akan menjadi slogan di dinding," ujar Abdul Mu’ti dalam paparannya.
Kronologi dan Konteks Kebijakan
Pernyataan Mendikdasmen ini muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu keamanan sekolah, mulai dari kasus perundungan, kekerasan antar siswa, hingga tekanan akademik yang berlebihan. Pemerintah menilai perlu ada pendekatan menyeluruh yang menempatkan guru sebagai ujung tombak perubahan.
Berikut rangkaian perkembangan yang melatarbelakangi penegasan tersebut:
- Evaluasi ekosistem sekolah — Kementerian melakukan pemetaan terhadap kondisi budaya sekolah di berbagai daerah, menemukan kesenjangan besar antara sekolah yang memiliki kepemimpinan guru kuat dan yang belum.
- Penguatan peran guru — Guru didorong tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi pembimbing, pendamping, dan teladan perilaku bagi siswa.
- Penekanan pada rasa aman — Sekolah diminta memastikan tidak ada ruang bagi kekerasan, diskriminasi, maupun perundungan dalam bentuk apa pun.
- Kolaborasi lintas pihak — Kepala sekolah, komite, orang tua, dan masyarakat diminta bersinergi menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Guru sebagai Agen Peradaban
Dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional, sosok guru diposisikan sebagai penggerak utama transformasi. Abdul Mu’ti menekankan bahwa kualitas interaksi antara guru dan murid menjadi indikator paling jujur dari sehat atau tidaknya sebuah sekolah. Sekolah yang aman, menurutnya, adalah sekolah yang warganya saling menghargai dan merasa diterima.
Ia juga mengingatkan bahwa pembentukan karakter tidak bisa diukur hanya dari nilai ujian. Kejujuran, empati, disiplin, dan tanggung jawab merupakan kompetensi yang harus ditanamkan melalui pembiasaan sehari-hari di sekolah. Di sinilah peran guru menjadi tidak tergantikan oleh teknologi maupun sistem administrasi apa pun.
Lebih lanjut, kementerian mendorong sekolah untuk memperkuat program yang mendukung kesehatan mental siswa, layanan bimbingan konseling yang aktif, serta mekanisme pelaporan yang aman ketika terjadi kekerasan. Guru dilatih agar peka terhadap perubahan perilaku siswa, yang sering menjadi sinyal awal adanya masalah.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Meski arah kebijakan sudah jelas, tantangan di lapangan tetap besar. Beban administratif guru, keterbatasan sarana, dan kesenjangan kualitas antar daerah menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Tanpa dukungan sistem yang memadai, imbauan tentang budaya sekolah aman berisiko berhenti sebagai wacana.
Karena itu, Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru sebagai prasyarat. Guru yang sejahtera dan dihargai, katanya, lebih mampu menghadirkan diri secara utuh bagi murid-muridnya. Investasi pada guru dinilai sebagai investasi paling strategis untuk masa depan bangsa.
Pada akhirnya, budaya sekolah aman dan nyaman adalah hasil kerja kolektif. Guru menjadi kunci, tetapi keberhasilannya bergantung pada dukungan seluruh ekosistem pendidikan. Dengan menempatkan guru di pusat, harapan membangun generasi yang berkarakter dan beradab menjadi lebih realistis untuk diwujudkan.
Comments (0)