Sagu Tulehu Tetap Bertahan, Pangan Tradisional Penopang Ekonomi Warga
Produksi sagu tradisional di Negeri Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah, terus bergeliat di tengah derasnya arus modernisasi pangan. Bahan pokok warisan leluhur itu masih menjadi tumpuan ekonomi bagi rat
Produksi sagu tradisional di Negeri Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah, terus bergeliat di tengah derasnya arus modernisasi pangan. Bahan pokok warisan leluhur itu masih menjadi tumpuan ekonomi bagi ratusan keluarga pesisir yang mengandalkan hutan sagu sebagai lumbung penghidupan. Tim Lurusin.com menyaksikan langsung bagaimana warga setempat mempertahankan rantai produksi sagu secara turun-temurun, dari penebangan pohon sagu hingga pengolahan tepung siap jual.
Dari Hutan ke Dapur, Sagu Tak Pernah Mati
Berbeda dengan komoditas pertanian lain yang rentan gagal panen, sagu memiliki ketahanan alami. Pohon sagu tidak mengenal musim; ia bisa dipanen kapan saja setelah berusia sekitar 10–15 tahun. Di Tulehu, hampir setiap rumah tangga memiliki akses ke lahan sagu, baik milik sendiri maupun komunal. Setiap batang sagu dewasa bisa menghasilkan 200–400 kilogram tepung basah, cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sekaligus dijual ke pasar Ambon dan sekitarnya.
Pengolahan sagu masih dilakukan secara manual dengan peralatan sederhana. Warga memarut empulur batang sagu menggunakan alat pemarut mekanis bertenaga diesel, kemudian mencuci dan menyaringnya berulang kali untuk memisahkan pati. Proses ini menyerap tenaga kerja lokal, terutama ibu rumah tangga yang terlibat dalam pengemasan dan penjemuran.
“Dari kecil kami sudah biasa makan papeda. Sekarang anak-anak pun masih suka, tapi olahannya kami buat bervariasi—ada sinole, sagu bakar, sampai kue bagea. Harganya lumayan, satu kampil sagu kering bisa dijual Rp200 ribu. Kalau lagi banyak pesanan, bisa dapat lebih,” ujar Mama Rina, produsen sagu olahan di Dusun Waai, saat berbincang dengan wartawan Lurusin.com.
Ekonomi Berbasis Sagu dan Tantangan yang Dihadapi
Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah melalui Dinas Koperasi dan UKM telah mendorong pelaku usaha sagu untuk membentuk koperasi. Dengan begitu, mereka bisa memotong rantai distribusi panjang yang selama ini membuat harga di tingkat produsen tertekan. Koperasi juga memfasilitasi peminjaman alat modern seperti pengering mekanis agar produksi tidak sepenuhnya bergantung pada sinar matahari.
Kendati demikian, ancaman mulai terlihat. Alih fungsi lahan menjadi lahan permukiman dan perkebunan kelapa sawit kecil-kecilan membuat luasan hutan sagu menyusut. Generasi muda pun sebagian besar lebih memilih bekerja di sektor jasa atau menjadi buruh migran. Namun, menurut laporan Lurusin.com, masih banyak pemuda yang melihat potensi ekonomi dalam diversifikasi produk sagu. Berbagai inovasi muncul, mulai dari mi sagu instan, keripik sagu aneka rasa, hingga tepung sagu kemasan premium yang menembus pasar daring nasional.
Dengan ketahanan pangannya yang tinggi, sagu Tulehu bukan sekadar menu tradisional yang mengisi piring warga Maluku. Ia adalah penanda identitas budaya dan tulang punggung ekonomi rakyat yang, jika dikelola dengan tepat, akan terus menjadi napas kesejahteraan masyarakat pesisir. Lurusin.com akan terus memantau perkembangan pangan lokal yang tetap hidup di tengah gempuran zaman.
Comments (0)