Rupiah Dibuka Rp18.090 per Dolar AS, IHSG Berbalik Melemah

Pasar keuangan domestik mengawali pekan dengan catatan kurang menggembirakan pada Senin (13/7/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah, seiring dengan langkah Indeks Har...

Jul 13, 2026 - 13:31
0 0
Rupiah Dibuka Rp18.090 per Dolar AS, IHSG Berbalik Melemah

Pasar keuangan domestik mengawali pekan dengan catatan kurang menggembirakan pada Senin (13/7/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah, seiring dengan langkah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak volatile dan akhirnya masuk ke teritori negatif.

Rupiah Tertekan Sejak Awal Sesi

Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah ditransaksikan pada level Rp18.090 per dolar AS saat pembukaan. Posisi ini merefleksikan depresiasi tipis dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di kisaran Rp18.050. Tekanan terhadap mata uang Garuda muncul di tengah menguatnya indeks dolar AS (DXY) ke level 104,80, seiring dengan meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh sentimen eksternal, termasuk ketidakpastian geopolitik dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang kembali mendekati 4,75%. Kondisi ini memicu aliran modal keluar dari aset-aset berdenominasi rupiah dan memperberat langkah mata uang lokal.

IHSG Sempat Menghijau Sejenak

Sementara itu, IHSG membuka perdagangan dengan optimisme terbatas. Indeks sempat naik ke posisi 7.255, didorong oleh rebound saham-saham konsumer dan infrastruktur yang sudah terkoreksi dalam beberapa hari sebelumnya. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Memasuki setengah jam pertama perdagangan, indeks berbalik arah dan melorot ke 7.180, atau melemah sekitar 0,7% dari level penutupan Jumat pekan lalu.

Aksi jual investor asing menjadi katalis utama pembalikan arah IHSG. Tercatat di pasar reguler, investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp350 miliar pada sesi pagi. Saham-saham perbankan besar dan emiten batubara menjadi sasaran utama lego, seiring dengan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global dan harga komoditas yang cenderung turun.

Sentimen Global dan Domestik

Pelaku pasar masih mencermati rilis data ekonomi utama Amerika Serikat yang dijadwalkan akhir pekan ini, termasuk angka inflasi konsumen dan produsen. Jika inflasi tetap tinggi, peluang kenaikan suku bunga lanjutan akan kembali menguat dan berpotensi menekan aset berisiko lebih dalam. Dari dalam negeri, minimnya katalis positif membuat investor cenderung wait and see. Rencana penerbitan obligasi pemerintah dalam jumlah besar untuk membiayai defisit fiskal juga turut menambah kehati-hatian.

Di sisi lain, Bank Indonesia disebut telah melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi untuk meredam volatilitas rupiah. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membalikkan arah di tengah tekanan global yang besar.

Proyeksi dan Antisipasi

Para analis memperkirakan bahwa selama aliran modal asing masih keluar dari pasar Indonesia, rupiah dan IHSG akan sulit untuk rebound signifikan dalam jangka pendek. Seorang analis dari sebuah sekuritas menuturkan, "Pasar masih menunggu kejelasan arah kebijakan The Fed. Sampai ada sinyal dovish yang kredibel, aset emerging market termasuk Indonesia akan tetap tertekan."

Dengan demikian, pelaku pasar disarankan untuk mengatur ulang strategi investasi dengan memfokuskan pada saham-saham defensif yang memiliki ketahanan terhadap fluktuasi nilai tukar. Sementara itu, pergerakan rupiah pada perdagangan esok hari akan sangat bergantung pada hasil lelang obligasi AS dan data inflasi yang dirilis malam ini.

Hingga akhir sesi perdagangan Senin, pasar akan terus memantau pernyataan pejabat The Fed dan pergerakan harga komoditas sebagai petunjuk arah selanjutnya bagi rupiah dan bursa saham Indonesia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User