Respons Sampah di Kali Gendong, Pansus DPRD DKI Kaji Pembangunan Biopori Jumbo
Jakarta - Permasalahan sampah yang kembali menumpuk di Kali Gendong, Penjaringan, Jakarta Utara, mendapat perhatian serius dari jajaran legislatif. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, sebelumnya men
Jakarta - Permasalahan sampah yang kembali menumpuk di Kali Gendong, Penjaringan, Jakarta Utara, mendapat perhatian serius dari jajaran legislatif. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, sebelumnya menyampaikan bahwa salah satu pemicu utama fenomena ini adalah terbatasnya kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang berujung pada penutupan sementara. Menindaklanjuti situasi darurat tersebut, Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta kini tengah mengkaji langkah strategis pembangunan biopori jumbo sebagai solusi jangka pendek maupun panjang.
Kondisi Darurat dan Instruksi Koordinasi
Ketua Pansus Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta, Judistira Hermawan, mengonfirmasi bahwa TPST Bantargebang saat ini sudah mengalami kelebihan muatan (overload). Kondisi ini memicu efek domino, di mana sampah akhirnya terpaksa dibuang atau meluber ke aliran kali dan badan-badan jalan. Menurut laporan yang dihimpun media kami, Judistira menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah meminimalisir tumpukan sampah yang mengganggu estetika dan fungsi infrastruktur vital.
"Terkait tumpukan sampah di Kali Gedong Jakarta Utara, ini segera saya akan koordinasikan antar SKPD, ya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Sumber Daya Air (SDA), termasuk Pak Wali Kota Jakarta Utara, agar ini segera ditangani," ujar Judistira kepada awak media kami, Senin (21/6/2026).
Politisi tersebut menekankan bahwa penanganan ini tidak hanya terfokus pada satu titik, melainkan harus menyeluruh. Ia meminta seluruh jajaran terkait untuk menjaga kebersihan kali dan waduk di semua wilayah, seraya memperingatkan agar sampah tidak lagi memenuhi badan-badan jalan. Dalam masa transisi ini, pemanfaatan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang ada akan dioptimalkan untuk menampung limbah warga. "Dalam situasi seperti ini, kita akan mintakan jajaran terkait dijaga kali atau waduk, saya kira semua wilayah, juga dijaga jangan sampai sampah juga penuh di badan-badan jalan," imbuhnya.
Kajian Biopori Jumbo sebagai Solusi
Di tengah krisis kapasitas TPST Bantargebang, Pansus tidak hanya berfokus pada penanganan reaktif. Judistira mengungkapkan bahwa pihaknya sedang mengkaji secara mendalam pembangunan biopori jumbo. Teknologi ini diharapkan mampu menjadi alternatif pengurai sampah organik langsung di sumbernya atau di tingkat TPS. Berbeda dengan biopori konvensional yang berukuran kecil, biopori jumbo dirancang untuk mengolah volume sampah organik yang lebih besar, sehingga secara signifikan dapat mengurangi beban kiriman sampah ke Bantargebang.
Laporan media kami mencatat, inisiatif ini muncul sebagai respons atas fakta bahwa sebagian besar sampah yang menyumbat Kali Gendong berasal dari limbah domestik warga sekitar yang tidak terkelola. Dengan adanya biopori jumbo, sampah organik dapat diurai menjadi kompos dan resapan air, alih-alih memenuhi aliran sungai. Langkah ini dinilai selaras dengan upaya DPRD untuk menghadirkan kebijakan pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan di Ibu Kota.
Comments (0)