Pria AS Kira Sakit Bahu Cuma Cedera Otot, Dua Tahun Kemudian Divonis Kanker
Eric Dillon, seorang pria asal Texas, Amerika Serikat, merasakan sakit di bahunya dan meyakini itu hanya cedera otot akibat aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan pertama yang ia jalani sempat mengonfirm
Eric Dillon, seorang pria asal Texas, Amerika Serikat, merasakan sakit di bahunya dan meyakini itu hanya cedera otot akibat aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan pertama yang ia jalani sempat mengonfirmasi dugaan adanya cedera rotator cuff, yaitu kerusakan pada otot dan tendon yang mengelilingi sendi bahu. Dengan terapi fisik dan peregangan rutin, rasa nyeri yang ia alami pun perlahan mereda.
Namun, selama dua tahun berikutnya, ketidaknyamanan di bahu itu muncul kembali secara berkala. Dillon mengira hal itu wajar dan menganggap gejalanya bisa diatasi hanya dengan mengubah posisi tidur atau mengurangi tingkat aktivitas. Ia tidak menyangka bahwa keluhan yang dianggap sepele itu justru menyimpan bahaya serius di dalam tubuhnya.
Hingga suatu ketika, rasa sakit yang tak kunjung hilang sepenuhnya mendorong Dillon untuk menjalani pemeriksaan lebih mendalam. Hasil pencitraan dan biopsi memberikan kejutan besar: ditemukan tumor ganas di area bahunya. Dokter mendiagnosis Dillon mengidap kanker yang selama dua tahun berkamuflase sebagai cedera otot biasa. Sel-sel ganas itu telah bersembunyi di balik gejala yang awalnya hanya dianggap sebagai robekan kecil pada tendon.
“Saya benar-benar tidak menyangka. Saya pikir ini hanya cedera biasa yang bisa sembuh sendiri. Ternyata kanker,” ungkap Dillon dalam laporan yang diterbitkan media kami. Diagnosis tersebut sontak mengubah hidupnya. Ia harus menjalani serangkaian pengobatan intensif, mulai dari operasi hingga terapi lanjutan, untuk melawan sel kanker yang sudah menggerogoti jaringan di sekitar bahunya.
Kisah Dillon menjadi peringatan bahwa gejala nyeri otot atau sendi yang persisten tidak boleh dianggap enteng. Banyak kasus kanker tulang atau jaringan lunak yang awalnya menyerupai cedera fisik biasa, sehingga kerap terlambat terdeteksi. Para ahli kesehatan pun mengingatkan agar masyarakat tidak menunda pemeriksaan jika merasakan nyeri yang tak kunjung membaik, apalagi jika disertai pembengkakan, demam yang tidak jelas sebabnya, atau penurunan berat badan drastis tanpa alasan.
Kini Dillon bertekad untuk membagikan pengalamannya agar lebih banyak orang waspada terhadap sinyal-sinyal tubuh yang tak biasa. “Lebih baik memeriksakan diri lebih awal daripada menyesal kemudian,” tambahnya. Perjalanan Dillon menghadapi kanker ini diharapkan dapat mendorong kesadaran akan pentingnya deteksi dini terhadap penyakit yang sering kali tidak menampakkan gejala spesifik pada tahap awal. Laporan selengkapnya mengenai kisah Dillon dapat diikuti melalui Lurusin.com.
Comments (0)