Penemuan Mayat di Apartemen Saladdin Mansion Gegerkan Warga Depok

Depok, Lurusin.com — Suasana Apartemen Saladdin Mansion yang terletak di kawasan Cilodong, Kota Depok, mendadak berubah mencekam pada Sabtu pagi (24/5/2025

Jul 08, 2026 - 01:35
0 0
Penemuan Mayat di Apartemen Saladdin Mansion Gegerkan Warga Depok

Depok, Lurusin.com — Suasana Apartemen Saladdin Mansion yang terletak di kawasan Cilodong, Kota Depok, mendadak berubah mencekam pada Sabtu pagi (24/5/2025). Sesosok mayat pria paruh baya ditemukan di dalam salah satu unit hunian dalam kondisi sudah tidak bernyawa dan mulai membusuk. Penemuan ini pertama kali dipicu oleh aroma tidak sedap yang menguar dan dikeluhkan sejumlah penghuni di lantai 7 gedung tersebut.

Berdasarkan penelusuran tim redaksi, korban diketahui bernama Andi Prasetyo, 54 tahun, seorang konsultan properti yang telah tinggal seorang diri di unit nomor 721 selama lebih dari dua tahun. Tidak ada catatan tamu atau aktivitas mencurigakan yang terekam kamera pengawas dalam beberapa hari terakhir, sehingga kematian korban sempat tidak terdeteksi oleh lingkungan sekitar.

Kronologi Penemuan Jasad

Peristiwa ini bermula ketika seorang petugas kebersihan apartemen yang rutin bertugas di lantai 7 mencium bau tidak sedap yang semakin kuat dari arah unit 721. Petugas tersebut lantas melapor kepada satuan keamanan gedung. Setelah beberapa kali mencoba menghubungi penghuni lewat interkom dan telepon seluler tanpa respons, pihak manajemen memutuskan untuk melapor ke Polsek Cilodong.

Tim kepolisian tiba di lokasi sekitar pukul 09.30 WIB bersama petugas pemadam kebakaran dan tim medis. Proses pembukaan pintu dilakukan secara prosedural dengan disaksikan oleh manajemen apartemen, ketua RT setempat, dan dua orang saksi dari penghuni lain. Saat pintu berhasil dibuka, petugas mendapati korban sudah terbujur kaku di lantai ruang tengah dengan posisi terlentang.

“Petugas kebersihan kami yang pertama kali melapor. Setelah pintu dibuka, memang korban langsung terlihat dalam kondisi meninggal. Tidak ada tanda-tanda pembobolan atau kekerasan fisik. Kami langsung memasang garis polisi dan menyerahkan sepenuhnya ke pihak berwajib,” ujar Rudi Hartono, Manajer Operasional Apartemen Saladdin Mansion.

Penyelidikan dan Dugaan Sementara

Kapolsek Cilodong AKP Dedi Kurniawan yang memimpin langsung olah tempat kejadian perkara (TKP) menyatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, tidak ditemukan luka akibat benda tajam atau tanda penganiayaan pada tubuh korban. Namun, kondisi jasad yang sudah mengalami pembusukan cukup lanjut membuat polisi memperkirakan korban telah meninggal lebih dari tiga hari.

“Pintu dalam keadaan terkunci dari dalam, tidak ada indikasi perampokan. Di dekat jasad ditemukan obat-obatan untuk hipertensi dan diabetes. Dugaan awal korban meninggal karena sakit mendadak yang tidak tertolong. Namun kami tetap menunggu hasil autopsi dari RS Bhayangkara untuk memastikan penyebab pasti kematian,” tegas AKP Dedi.

Tim identifikasi menyita sejumlah barang bukti, antara lain ponsel korban, beberapa strip obat, buku catatan kesehatan, serta sebotol air mineral yang ditemukan di meja ruang tamu. Tidak ditemukan surat wasiat atau pesan terakhir yang mencurigakan. Pihak kepolisian juga meminta rekaman CCTV apartemen untuk memastikan adakah orang lain yang masuk ke unit tersebut dalam sepekan terakhir.

Reaksi Pihak Keluarga

Keluarga korban yang berdomisili di Yogyakarta sudah dihubungi dan langsung bertolak ke Depok. Adik kandung korban, Sari (48), mengaku terakhir berkomunikasi via telepon dengan kakaknya sekitar seminggu lalu dalam kondisi biasa-biasa saja. Menurut Sari, korban memang memiliki riwayat diabetes dan hipertensi yang mengharuskannya rutin minum obat.

“Kakak saya memang tinggal sendiri setelah bercerai tiga tahun lalu. Saya sudah sering mengingatkan untuk jaga kesehatan, beliau bilang baik-baik saja. Kami ikhlas, ini sudah takdir,” tutur Sari dengan suara bergetar saat ditemui di lobi RS Bhayangkara.

Pihak keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah dan tidak akan menuntut pihak manapun. Rencananya, setelah proses autopsi dan administrasi selesai, jenazah akan diterbangkan ke Yogyakarta untuk dimakamkan di pemakaman keluarga.

Fenomena Kematian Soliter di Kota Besar

Peristiwa di Saladdin Mansion menambah daftar panjang kasus kematian soliter atau yang dikenal dengan istilah “lonely death” di kawasan perkotaan. Fenomena ini kian mengkhawatirkan seiring meningkatnya jumlah individu lajang atau pekerja urban yang tinggal sendiri di hunian vertikal. Minimnya interaksi sosial antar-penghuni apartemen membuat seseorang bisa meninggal berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, tanpa diketahui.

Pengamat sosiologi perkotaan dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Arifianti, menilai kecenderungan ini adalah dampak dari renggangnya solidaritas sosial di tengah gaya hidup metropolitan. “Di apartemen, tetangga bisa tidak saling kenal nama. Tidak ada komunitas yang saling peduli. Ini berbeda dengan lingkungan perkampungan, di mana satu warga saja tidak terlihat sudah langsung dicari,” jelasnya saat dihubungi Lurusin.com.

Menyikapi hal tersebut, manajemen Apartemen Saladdin Mansion berencana mengaktifkan kembali program “Neighbourhood Watch” dengan mendorong penghuni untuk saling mengenal dan peduli terhadap unit di sekitarnya. Selain itu, pemeriksaan rutin akan dilakukan bagi unit-unit yang tidak menunjukkan aktivitas dalam kurun waktu tertentu, dengan tetap menghormati privasi penghuni.

Hingga berita ini diturunkan, aparat kepolisian masih mendalami kemungkinan lain di luar kematian wajar. Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat urban untuk menjaga komunikasi dengan kerabat, terutama mereka yang memilih hidup sendiri di kota besar. (Kontributor Lurusin.com/M. Arif Rahman)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User