Pendaki Berbobot 145 Kg Alami Keram di Gunung Gede Pangrango, Proses Evakuasi Berlangsung Dramatis
Pendakian Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat menjadi saksi sebuah operasi penyelamatan yang menegangkan dan penuh perjuangan. Seorang pendaki pria bernama Roby, yang memiliki bobot tubuh 145 kilogra
Pendakian Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat menjadi saksi sebuah operasi penyelamatan yang menegangkan dan penuh perjuangan. Seorang pendaki pria bernama Roby, yang memiliki bobot tubuh 145 kilogram, mendadak mengalami keram kaki hebat saat sedang melanjutkan perjalanannya. Peristiwa ini sontak menyedot perhatian setelah video detik-detik evakuasinya menyebar luas dan menjadi viral di berbagai platform media sosial.
Kronologi Kejadian
Berdasarkan laporan yang dihimpun di lapangan, Roby sedang melakukan pendakian bersama rekan-rekannya ketika tiba-tiba ia merasakan otot kakinya menegang dan tidak bisa digerakkan. Keram yang menyerangnya begitu intens sehingga ia sama sekali tidak mampu melanjutkan perjalanan maupun turun secara mandiri. Kondisi ini diperparah dengan berat badan pria tersebut yang mencapai 145 kilogram, menjadikan proses evakuasi sebagai tantangan fisik luar biasa bagi tim penolong.
Tim relawan dan petugas dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) segera bergerak begitu menerima laporan. Medan gunung yang terjal dan sempit dengan kontur tanah yang tidak stabil memaksa tim untuk menerapkan teknik evakuasi khusus. Mengingat ukuran tubuh korban yang jumbo, penggunaan tandu standar dinilai kurang efektif dan berisiko memperlambat laju penurunan.
“Evakuasi memakan waktu cukup panjang dan melibatkan banyak personel yang harus bergantian karena medan dan beban yang harus dibawa. Keselamatan korban serta tim evakuasi menjadi prioritas utama,” ujar salah satu relawan yang terlibat dalam operasi tersebut.
Teknik Evakuasi Menggunakan Sarung
Video yang beredar viral memperlihatkan momen krusial saat relawan mengambil keputusan untuk menggunakan sarung sebagai alat bantu evakuasi darurat. Dalam rekaman tersebut, tampak Roby berada dalam posisi digendong oleh seorang relawan dengan bantuan sarung yang dilingkarkan sebagai penopang tubuhnya. Teknik ini dipilih untuk mendistribusikan beban berat tubuh Roby sekaligus memberikan pegangan yang lebih aman bagi para relawan yang berjalan di lintasan menurun dan licin.
Operasi yang melibatkan belasan personel ini harus dilakukan secara estafet. Para relawan secara bergantian memikul dan menyeret tubuh Roby dengan sangat hati-hati. Ekspresi kelelahan bercampur keteguhan terlihat jelas di wajah para penolong yang berjuang melawan gravitasi dan rasa lelah. Waktu tempuh yang seharusnya bisa dilalui dalam hitungan jam menjadi berlipat ganda akibat kondisi darurat ini, menambah kadar drama dalam proses penyelamatan.
Roby akhirnya berhasil dievakuasi dan dibawa ke pos pendakian untuk mendapatkan penanganan medis. Tidak ada cedera serius yang dialaminya selain kelelahan dan keram otot yang sudah mereda. Insiden ini menjadi pengingat keras bagi para pendaki untuk selalu memperhitungkan kemampuan fisik dan kondisi kesehatan sebelum memutuskan untuk menaklukkan jalur pendakian, terutama bagi mereka yang memiliki berat badan di luar batas rata-rata. Pihak TNGGP juga terus mengimbau agar para pendaki tidak memaksakan diri jika merasa tidak kuat menjalani trek yang menantang. Liputan mendalam mengenai prosedur keselamatan pendakian dan tantangan evakuasi di medan ekstrem ini dirangkum secara eksklusif oleh tim redaksi Lurusin.com.
Comments (0)