Pakar Soroti Pengaruh Geopolitik Perang Ukraina terhadap Perekonomian Indonesia
Ketegangan geopolitik di Eropa Timur, khususnya konflik bersenjata di Ukraina, memberikan dampak berantai yang tidak bisa diabaikan oleh negara berkembang seperti Indonesia. Seorang pengamat hubungan ...
Ketegangan geopolitik di Eropa Timur, khususnya konflik bersenjata di Ukraina, memberikan dampak berantai yang tidak bisa diabaikan oleh negara berkembang seperti Indonesia. Seorang pengamat hubungan internasional menekankan pentingnya mencermati situasi ini untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan peta kekuatan global.
Kredibilitas Analis dan Pendekatan Akademis
Subhan Yusuf, yang menyelesaikan studi magister di Civitas University, Warsawa, Polandia, dikenal sebagai pengamat teliti dengan pendekatan berbasis data empiris. Berada di jantung Eropa Timur memberinya perspektif unik tentang dinamika perang yang sebenarnya jarang terlihat dari kejauhan. “Ketika Anda tinggal di Polandia, perbatasan dengan Ukraina bukan sekadar garis di peta tapi realitas sehari-hari. Gelombang pengungsi, perubahan rute perdagangan, hingga ancaman rudalah yang menempa analisis kami,” tutur Subhan dalam sebuah forum diskusi terbatas di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurutnya, banyak analisis dari luar kawasan seringkali terlalu menyederhanakan kompleksitas konflik ini. “Perang ini bukan hanya soal pertempuran dua negara, melainkan perebutan pengaruh antara kekuatan besar dengan seluruh Eropa sebagai panggungnya. Indonesia perlu memahami betapa dalamnya keterkaitan itu,” imbuhnya. Dengan pengalamannya, Subhan mencoba membangun jembatan pemahaman antara publik Indonesia dan realitas Eropa Timur.
Pelajaran Geopolitik dari Konflik Ukraina
Dalam paparannya, Subhan menguraikan setidaknya tiga pelajaran besar yang dapat dipetik. Pertama, tentang kemandirian energi. Perang tersebut memutus jalur pasokan gas Rusia ke Eropa, sehingga memaksa negara-negara Eropa berburu pasokan alternatif. Hal ini, menurut Subhan, secara tidak langsung memberi keuntungan positif bagi Indonesia karena minyak kelapa sawit dan biodiesel semakin dilirik sebagai opsi energi terbarukan. “Harga CPO sempat melonjak dan pasar ekspor kita ke Eropa terbuka lebih lebar, meskipun di sisi lain ada ketidakpastian,” ujarnya.
Kedua, pentingnya diversifikasi aliansi. Indonesia selama ini berusaha menjaga politik luar negeri bebas aktif. Namun, perang di Ukraina memperlihatkan bahwa setiap pilihan kebijakan—bahkan abstain di PBB—memiliki konsekuensi diplomatik. “Kita perlu menjaga keseimbangan, tetapi juga harus memperkuat kemitraan dengan kawasan-kawasan yang selama ini kurang digarap, seperti Eropa Timur,” katanya. Subhan mencontohkan bahwa Polandia, sebagai negara anggota Uni Eropa yang paling vokal menentang invasi Rusia, bisa menjadi mitra strategis di Dewan Keamanan dan kawasan.
Ketiga, sistem ketahanan pangan nasional. Perang menghambat ekspor gandum dari Ukraina dan Rusia, dua lumbung pangan dunia. Indonesia yang mengimpor sebagian besar gandum untuk mi instan dan roti sempat merasakan lonjakan harga. “Ini peringatan agar kita tidak bergantung pada satu kawasan. Pengembangan sorgum, sagu, dan singkong sebagai alternatif harus dipercepat,” tegas Subhan. Ia juga menyoroti bahwa inflasi pangan adalah ancaman nyata bagi negara dengan populasi besar seperti Indonesia.
Peluang Ekonomi di Balik Krisis
Meski cenderung pesimistis terhadap penyelesaian konflik dalam waktu dekat, Subhan justru melihat adanya peluang ekonomi yang bisa dimanfaatkan. Banyak perusahaan Eropa yang selama ini beroperasi di Rusia mulai hengkang dan mencari basis produksi baru di Asia Tenggara. “Indonesia bisa menjadi magnet investasi manufaktur, terutama di sektor tekstil, alas kaki, dan komponen otomotif. Apalagi dengan kestabilan politik dan pertumbuhan ekonomi kita yang relatif tinggi,” jelasnya. Ia mendorong pemerintah untuk proaktif menjemput relokasi tersebut melalui perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara Eropa Timur.
Subhan juga menyoroti peningkatan jumlah mahasiswa dan turis asal Polandia dan sekitarnya yang mulai melirik Asia sebagai alternatif. “Bali dan Yogyakarta semakin dikenal di sana. Ini sektor jasa yang bisa kita genjot dengan promosi langsung di kota-kota seperti Warsawa, Krakow, dan Praha,” sarannya. Menurutnya, hubungan people-to-people adalah fondasi kokoh untuk investasi jangka panjang.
Urgensi Diplomasi Publik
Di akhir diskusi, Subhan menekankan pentingnya diplomasi publik sebagai alat untuk mengimbangi citra Indonesia yang seringkali hanya dikenal sebagai negara wisata. “Kita perlu lebih banyak mengirim akademisi, seniman, dan jurnalis ke Eropa Timur untuk menceritakan kisah sukses Indonesia dalam demokrasi dan toleransi. Jangan sampai dunia hanya melihat kita dari satu sisi saja,” tuturnya. Ia mengusulkan program beasiswa bersama dan residensi budaya sebagai langkah awal konkret.
Pandangan Subhan mengingatkan bahwa perang di belahan bumi lain bukanlah isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Dari harga bahan pokok hingga arah kebijakan luar negeri, semua saling terhubung dalam benang merah geopolitik yang kian kompleks.
(Konten ini merupakan hasil wawancara eksklusif dengan narasumber terkait.)
Comments (0)