Fenomena Aphelion Diklaim Picu Meriang, Cek Faktanya di Sini

Beredar di media sosial sebuah tangkapan layar yang menyatakan bahwa fenomena Aphelion—titik terjauh Bumi dari Matahari—menjadi penyebab banyak orang merasa meriang atau tidak enak badan. Klaim te...

Jul 12, 2026 - 07:18
0 0
Fenomena Aphelion Diklaim Picu Meriang, Cek Faktanya di Sini

Beredar di media sosial sebuah tangkapan layar yang menyatakan bahwa fenomena Aphelion—titik terjauh Bumi dari Matahari—menjadi penyebab banyak orang merasa meriang atau tidak enak badan. Klaim tersebut mengaitkan posisi Bumi yang lebih jauh dari Matahari dengan penurunan suhu udara secara drastis, sehingga tubuh manusia kedinginan dan rentan sakit. Narasi ini menyebar luas dan menimbulkan keresahan, terutama saat sebagian wilayah tengah memasuki musim pancaroba. Lurusin melakukan verifikasi forensik terhadap klaim tersebut untuk memisahkan spekulasi dari fakta ilmiah.

Asal dan Pola Klaim yang Beredar

Klaim ini pertama kali diidentifikasi melalui unggahan di platform perpesanan yang menampilkan gambar ilustrasi orbit Bumi dengan teks penjelasan. Dalam klaim tersebut dituliskan bahwa saat Aphelion, suhu Bumi turun drastis hingga menyebabkan hawa dingin yang menusuk, memicu gejala meriang, flu, dan batuk karena perbedaan suhu ekstrem. Teks serupa kerap muncul menjelang bulan Juli, bertepatan dengan posisi Aphelion yang biasanya terjadi pada awal bulan tersebut. Tangkapan layar yang sama telah beredar sejak 2021 dan muncul kembali setiap tahun dengan sedikit modifikasi. Pola ini mengindikasikan klaim tersebut bersifat siklus dan dihidupkan kembali tanpa pembaruan data ilmiah.

Verifikasi Ilmiah tentang Aphelion dan Suhu Bumi

Berdasarkan verifikasi terhadap data astronomi dari lembaga antariksa internasional, posisi Aphelion pada tahun-tahun terkini jatuh pada tanggal 5 atau 6 Juli, dengan jarak Bumi-Matahari sekitar 152,1 juta kilometer. Sebagai perbandingan, pada titik terdekat (Perihelion) di awal Januari, jaraknya sekitar 147,1 juta kilometer. Selisih jarak sekitar lima juta kilometer ini hanya mengakibatkan perbedaan intensitas radiasi matahari sebesar kira-kira 6,8 persen. Secara absolut, variasi tersebut terlalu kecil untuk mengubah suhu permukaan Bumi secara signifikan dalam jangka pendek.

Faktanya, suhu rata-rata global tidak didikte oleh jarak Bumi-Matahari, melainkan oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi sebesar 23,5 derajat terhadap bidang orbitnya. Kemiringan inilah yang memicu pergantian musim. Saat Aphelion terjadi di Juli, belahan Bumi utara justru mengalami musim panas karena bagian tersebut lebih condong menghadap Matahari. Data dari badan meteorologi global menunjukkan bahwa Juli dan Agustus sering kali merupakan bulan dengan suhu tertinggi di banyak negara subtropis. Untuk wilayah Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, dampak musiman tidak setajam negara empat musim, tetapi suhu rata-rata harian tetap stabil antara 26 hingga 33 derajat Celsius sepanjang tahun, tanpa anomali turun drastis yang bisa memicu hawa dingin penyebab meriang massal.

Bertentangan dengan klaim viral, tidak terdapat bukti bahwa Aphelion menyebabkan penurunan suhu yang membuat tubuh kedinginan hingga jatuh sakit. Suhu turun secara lokal bisa terjadi karena cuaca harian—hujan, angin, atau front dingin—yang tidak terkait dengan posisi orbit. Badan kesehatan dunia juga tidak pernah mengeluarkan peringatan tentang risiko kesehatan terkait fenomena Aphelion.

Penyebab Meriang yang Sebenarnya

Gejala meriang, yang biasanya berupa rasa dingin disertai tubuh menggigil, merupakan respons alami sistem imun terhadap infeksi atau peradangan, bukan akibat penurunan suhu udara luar secara langsung. Saat tubuh melawan virus atau bakteri, pusat pengatur suhu di otak meningkatkan set point tubuh, sehingga suhu tubuh naik dan otot berkontraksi untuk menghasilkan panas—itulah yang dirasakan sebagai meriang. Paparan udara dingin memang dapat menurunkan daya tahan lokal pada saluran napas, tetapi suhu lingkungan yang rendah itu sendiri bukanlah penyebab langsung infeksi. Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa penyakit infeksi pernapasan lebih banyak dipengaruhi oleh mobilitas virus musiman dan faktor imunitas individu, bukan sekadar perubahan suhu.

Klaim yang menyebut cuaca dingin akibat Aphelion sebagai biang meriang mengabaikan mekanisme fisiologis ini. Apalagi, jika klaim tersebut beredar di bulan Juli di Indonesia yang sedang mengalami musim kemarau dengan suhu hangat, kontradiksinya semakin nyata. Kalaupun ada orang meriang pada periode itu, penjelasan yang masuk akal adalah sirkulasi virus seperti influenza atau adenovirus yang terjadi sepanjang tahun, bukan karena Bumi bergeser menjauh.

Kesimpulan Verifikasi

Setelah memeriksa klaim melalui pendekatan astronomi, meteorologi, dan medis, Lurusin menyimpulkan bahwa narasi yang menyatakan fenomena Aphelion menimbulkan dampak meriang akibat cuaca Bumi lebih dingin adalah HOAX. Klaim ini termasuk kategori misinformasi yang disebarkan tanpa dasar ilmiah. Posisi Aphelion tidak memicu penurunan suhu mendadak yang bisa langsung menyebabkan gangguan kesehatan seperti meriang. Masyarakat diimbau untuk selalu menyaring informasi yang diterima dan mengandalkan sumber resmi sebelum membagikan narasi yang berpotensi menyesatkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User