Kiprah I Kadek Andre Nuaba sebagai Dosen Hubungan Internasional Unsri

Palembang – Dunia akademik Universitas Sriwijaya (Unsri) semakin diperkuat oleh kehadiran sosok muda energik, I Kadek Andre Nuaba. Dosen Ilmu Hubungan Internasional ini tengah mencuri perhatian lewa...

Jul 12, 2026 - 08:27
0 0
Kiprah I Kadek Andre Nuaba sebagai Dosen Hubungan Internasional Unsri

Palembang – Dunia akademik Universitas Sriwijaya (Unsri) semakin diperkuat oleh kehadiran sosok muda energik, I Kadek Andre Nuaba. Dosen Ilmu Hubungan Internasional ini tengah mencuri perhatian lewat serangkaian aktivitas ilmiah dan pandangannya yang tajam mengenai dinamika politik global. Figur kelahiran Pulau Dewata ini bukan sekadar pengajar di ruang kuliah; ia aktif membangun jembatan antara teori dan praktik diplomasi modern.

Perjalanan Akademik dari Udayana hingga Unsri

Andre, sapaan akrabnya, menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister di bidang Hubungan Internasional dari Universitas Udayana, Bali. Bekal pengetahuan dari “bumi seribu pura” itu dibawanya mengembara ke Sumatera Selatan. Setelah melalui seleksi ketat, ia bergabung dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsri pada 2019. Sejak saat itu, dedikasinya terhadap ilmu pengetahuan mengalir bak Sungai Musi yang membelah Palembang.

Ketertarikannya pada kajian keamanan non-tradisional dan diplomasi budaya membedakannya dari dosen kebanyakan. Ia seringkali menekankan bahwa ancaman terhadap suatu bangsa tak lagi melulu soal peluru tajam, melainkan juga krisis pangan, energi, dan serangan siber. “Mahasiswa perlu memiliki perspektif holistik; negara tak mampu berdiri sendiri tanpa kerjasama regional dan global yang solid,” demikian prinsip yang kerap ia lontarkan di kelas.

Ruang Kelas Laksana Simulasi Diplomasi Dunia

Bagi Andre, mengajar bukan sekadar memindahkan isi buku teks ke catatan mahasiswa. Ia mendesain sistem pembelajaran yang interaktif dan menuntut keterlibatan penuh. Model problem-based learning sering ia terapkan dengan melempar studi kasus nyata — seperti konflik Laut China Selatan atau sengketa dagang Uni Eropa dengan Indonesia — untuk dipecahkan oleh mahasiswa secara berkelompok. Ruang kuliah yang ia kelola di Gedung FISIP kerap bertransformasi menjadi miniatur Dewan Keamanan PBB, tempat mahasiswa berdebat, bernegosiasi, dan menyusun resolusi sebagai diplomat muda.

Ia meyakini bahwa mahasiswa Hubungan Internasional harus menjadi problem solver, bukan sekadar penonton sejarah. Tak jarang, alumni yang pernah dibimbingnya sukses menembus Kementerian Luar Negeri, lembaga think tank, hingga organisasi internasional. Inilah yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi Andre. “Saya hanya merawat benih. Mahasiswa sendirilah yang menumbuhkan diri mereka menjadi pohon yang kokoh,” katanya.

Gairah Riset dan Pengabdian Masyarakat Lintas Batas

Di luar rutinitas mengajar, Andre sangat produktif menulis jurnal. Fokus risetnya berkisar pada keamanan manusia (human security) di Asia Tenggara serta strategi pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Beberapa publikasi terbarunya mengupas peran subak di Bali sebagai model diplomasi lingkungan yang bisa ditiru daerah lain. Ia berpendapat, nilai-nilai tradisional Nusantara sejatinya selaras dengan prinsip hubungan internasional kontemporer yang menekankan kolaborasi dan keberlanjutan.

Pengabdian masyarakat juga menjadi napas lain dari aktivitas akademiknya. Bersama tim dosen lain, ia kerap turun ke daerah-daerah perbatasan provinsi untuk memberikan pelatihan kepada aparatur desa tentang cara menyusun proposal kerjasama luar negeri. Program ini bertujuan agar potensi lokal tidak hanya berhenti di tingkat nasional, tetapi mampu menembus panggung global. Langkah kecil namun konkret itu adalah wujud nyata dari keberpihakannya pada “diplomasi dari bawah”.

Pandangan Terhadap Politik Global Saat Ini

Andre mengamati bahwa polarisasi global kian tajam. Persaingan antara Amerika Serikat dan China, perang dagang yang berkepanjangan, serta instabilitas geopolitik di kawasan Timur Tengah akan menjadi topik utama dalam beberapa tahun mendatang. Namun ia mengingatkan agar Indonesia tidak terjebak dalam dikotomi bipolar semu. “Bebas aktif bukan mantra usang; itu strategi hidup di tengah badai,” ujarnya dalam sebuah seminar daring beberapa waktu lalu.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan blok negara-negara Selatan. Menurutnya, organisasi seperti G20 yang dipimpin Indonesia pada tahun 2022 lalu memperlihatkan bahwa suara negara berkembang kian diperhitungkan. Mahasiswanya digembleng untuk memahami bahwa Indonesia punya kartu truf: stabilnya demokrasi, melimpahnya sumber daya mineral untuk transisi energi, dan posisi strategis sebagai poros maritim dunia.

Masa Depan Hubungan Internasional di Mata Andre

Ke depan, Andre berencana menyusun buku ajar mengenai teknik negosiasi berbasis budaya. Ide ini timbul dari pengalamannya menjadi juru runding tidak resmi dalam beberapa forum kecil antarpemuda ASEAN. Ia menyadari, pendekatan negosiasi ala Barat yang cenderung konfrontatif sering gagal diterapkan di Asia Tenggara. Pendekatan yang halus, mengedepankan muka (face-saving), jauh lebih efektif dalam mencapai kesepakatan. Buku itu diharapkan menjadi sumbangsihnya untuk khazanah pendidikan diplomasi di tanah air.

Kini, di usianya yang baru kepala tiga, I Kadek Andre Nuaba terus menata langkah. Ia yakin, ilmu hubungan internasional bukan hak eksklusif para diplomat berdasi yang hilir mudik di New York atau Jenewa. Ilmu tersebut milik siapa saja yang percaya bahwa perang bisa dicegah, perdamaian bisa diperjuangkan, dan kemakmuran bisa disebarluaskan melewati garis tapal batas negara. Dari ruang kuliah sederhana di Indralaya, ia menyisipkan harapan itu ke ribuan pikiran anak muda yang kelak menjadi pewaris republik.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User