Menghidupkan Diskusi Kritis: Bonnie Triyana Ajak Gen Z Bedah Marhaenisme

Sejarawan dan penulis Bonnie Triyana menggagas sebuah forum pembacaan buku di Lebak yang bukan sekadar ritual intelektual, melainkan sebuah upaya menghidupkan kembali tradisi diskusi yang mulai terger...

Jul 12, 2026 - 09:38
0 0

Sejarawan dan penulis Bonnie Triyana menggagas sebuah forum pembacaan buku di Lebak yang bukan sekadar ritual intelektual, melainkan sebuah upaya menghidupkan kembali tradisi diskusi yang mulai tergerus arus informasi instan. Kegiatan bedah buku bertema Marhaenisme ini diselenggarakan sebagai respons atas kegelisahan bahwa generasi muda semakin jarang meluangkan waktu untuk bertukar pikiran secara mendalam. Di hadapan puluhan peserta yang didominasi Gen Z, Bonnie menekankan bahwa memahami Marhaenisme bukan berarti kembali ke romantisme ideologi masa lalu, tetapi membedahnya sebagai alat analisis yang tajam untuk membaca realitas hari ini.

Dari Lebak ke Ruang Digital: Membaca Realitas dengan Kacamata Marhaenis

Lebak dipilih bukan tanpa alasan. Wilayah yang pernah menjadi laboratorium sosial dalam sejarah perjuangan agraria Indonesia ini menyimpan konteks lokal yang kuat tentang marhaen—kaum kecil pemilik alat produksi terbatas yang bermartabat. Namun, diskusi tidak berhenti pada problem agraris. Bonnie mengajak peserta untuk mentranslasikan konsep marhaen ke dalam konteks kontemporer. Di era digital, siapa yang sebenarnya menjadi marhaen? Pertanyaan itu memancing perdebatan hangat. Para peserta mengidentifikasi bahwa saat ini ada jutaan kreator konten, pengemudi daring, dan pekerja lepas yang secara teknis memiliki alat produksi—ponsel pintar, kendaraan, koneksi internet—tetapi sesungguhnya terperangkap dalam struktur ketergantungan terhadap platform raksasa. Mereka adalah petani digital yang menggarap lahan algoritma tanpa pernah bisa memanen sepenuhnya hasil kerja keras mereka sendiri.

Marhaenisme di Tengah Tirani Algoritma

Bonnie Trriyana memetakan bagaimana kapitalisme ekonomi digital bekerja dengan mekanisme yang lebih halus dibandingkan kapitalisme industrial klasik. Jika dulu para buruh dieksploitasi di pabrik, hari ini setiap pengguna media sosial adalah buruh tak berbayar yang memproduksi data dan perhatian. Marhaenisme digital, dalam diskusi itu, dimaknai sebagai upaya untuk menolak menjadi sekadar komoditas dalam ekosistem algoritma. Bonnie mengkritik model bisnis yang mengagungkan pertumbuhan tak terbatas dengan menjadikan pengguna sebagai asset. Dengan mengacu pada pemikiran Bung Karno, ia menunjukkan bahwa semangat marhaenis menuntut kedaulatan penuh atas alat produksi. Dalam konteks kekinian, kedaulatan itu berarti hak atas data, transparansi algoritma, dan sistem ekonomi platform yang tidak bersifat pemangsa. Para peserta diajak membayangkan alternatif: platform koperasi, aplikasi berbasis komunitas, dan model bisnis digital yang berorientasi pada kesejahteraan kolektif, bukan akumulasi kapital.

Kudatuli: Titik Balik yang Tak Boleh Dilupakan

Untuk memperkuat argumen tentang pentingnya ruang diskusi, Bonnie mengangkat kembali peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) yang menyeruak pada 1996. Berdasarkan verifikasi historis, peristiwa itu merupakan penyerbuan kantor PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, yang berujung pada pengambilalihan paksa kepemimpinan partai oleh kubu yang didukung rezim Orde Baru. Peristiwa ini bukan sekadar konflik internal partai politik. Bonnie menekankan bahwa Kudatuli adalah simbol pembungkaman terhadap ruang perbedaan pendapat. Runtuhnya markas diskusi politik itu menjadi preseden kelam tentang apa yang terjadi ketika negara menutup ruang dialektika. Dalam konteks generasi Z, pelajaran dari Kudatuli sangat relevan. Meski hari ini tidak ada tank yang menggedor markas diskusi, ancaman terhadap ruang dialog hadir dalam bentuk polarisasi digital, ujaran kebencian, dan penekanan opini oleh gerombolan siber. Bonnie mengajak peserta untuk melihat bahwa demokrasi tidak hanya dirawat di bilik suara, tetapi juga di warung kopi, layar ponsel, dan forum-forum kecil seperti bedah buku di Lebak.

Strategi Merawat Berpikir Kritis di Era Banjir Informasi

Bagian akhir diskusi diisi dengan perumusan konkret tentang bagaimana generasi muda bisa merawat daya kritis. Bonnie Triiyana menawarkan beberapa strategi. Pertama, membangun kebiasaan membaca secara mendalam, bukan sekadar mencerna potongan konten berdurasi 30 detik. Kedua, menginisiasi ruang-ruang diskusi luring secara berkala di komunitas masing-masing. Ketiga, mempraktikkan verifikasi informasi forensik terhadap setiap data yang diterima. Keempat, mempelajari sejarah sebagai cermin untuk menganalisis kekuasaan. Bonnie menegaskan bahwa berpikir kritis bukanlah bakat alamiah, tetapi keterampilan yang harus dilatih seperti otot. Dalam konteks Marhaenisme, berpikir kritis adalah alat utama bagi marhaen modern untuk membebaskan diri dari jerat eksploitasi digital. Peserta diskusi, yang sebagian besar adalah mahasiswa dan pekerja kreatif, menyepakati untuk membentuk jaringan diskusi mandiri. Mereka berkomitmen untuk tidak sekadar menjadi konsumen konten, tetapi juga produsen pengetahuan yang memerdekakan. Acara bedah buku di Lebak itu pun menandai titik awal, bukan akhir, dari perjalanan panjang membangkitkan intelektualitas generasi muda melalui ideologi yang dihidupkan kembali dengan konteks kekinian.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User