Muktamar di Tambakberas Teladani Khidmat Mbah Wahab Chasbullah

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas di Jombang, Jawa Timur, bukan sekadar lembaga pendidikan Islam. Lokasi ini adalah ruang sejarah yang merekam jejak

Jul 09, 2026 - 07:25
0 0
Muktamar di Tambakberas Teladani Khidmat Mbah Wahab Chasbullah

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas di Jombang, Jawa Timur, bukan sekadar lembaga pendidikan Islam. Lokasi ini adalah ruang sejarah yang merekam jejak perjuangan KH. Abdul Wahab Chasbullah, ulama yang darinya lahir spirit pengabdian tanpa pamrih—khidmat—yang membentuk wajah Islam Nusantara. Muktamar yang berlangsung di kompleks pesantren ini menjadi panggung untuk membedah kembali warisan etos kerja Mbah Wahab, jauh dari narasi mitos, sepenuhnya berbasis catatan arsip dan fakta organisasi.

Pondok Bahrul Ulum: Fondasi Historis

Berdasarkan dokumen resmi Nahdlatul Ulama (NU), Pondok Bahrul Ulum didirikan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah pada 1914 sepulang dari studinya di Makkah. Lahir pada 1888 di Jombang, Mbah Wahab mengawali pendidikannya di lingkungan pesantren tradisional namun dengan cepat dikenal sebagai pemikir progresif. Jejak intelektualnya terekam dalam korespondensi dengan ulama Timur Tengah dan naskah-naskah pergerakan yang kini menjadi koleksi digital Perpustakaan Nasional. Ia menggabungkan keilmuan kitab kuning dengan kepekaan organisasi modern—suatu langka pada zamannya.

Peran Mbah Wahab sebagai salah satu founding father NU tercatat dalam notulensi rapat persiapan di Surabaya tahun 1925-1926. Bersama KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wachid Hasyim, ia merancang konstitusi jam’iyyah yang kelak menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia. Pesantren Tambakberas sendiri berfungsi sebagai basis pengkaderan dan sandaran pergerakan. Data terkini menunjukkan lembaga ini menaungi lebih dari 10.000 santri dari seluruh provinsi, dengan puluhan unit pendidikan formal dan non-formal.

Kronologi Muktamar

Muktamar bertema “Meneladani Khidmat Mbah Wahab Chasbullah” diselenggarakan selama tiga hari dengan rangkaian agenda yang terstruktur secara ketat.

  1. Ziarah dan Tawasul Pembuka — Makam KH. Abdul Wahab Chasbullah di dalam kompleks pesantren menjadi titik awal. Pengasuh pondok memimpin doa bersama, menandaskan dimensi spiritual bahwa khidmat berakar pada keikhlasan, bukan pamrih duniawi.
  2. Simposium Arsip dan Sejarah — Sejarawan NU dan peneliti dari universitas Islam menyajikan dokumen primer: salinan tulisan tangan Mbah Wahab, surat kepada pemerintah kolonial soal pendidikan, dan catatan pribadi tentang konsep jihad. Salah satu temuan yang dipaparkan adalah manuskrip berisi gagasan penguatan ekonomi pesantren melalui koperasi—ditulis tahun 1930-an, mendahului kebijakan serupa oleh pemerintah.
  3. Lokakarya Aktualisasi Khidmat — Peserta dari berbagai organisasi kepemudaan Islam dibagi dalam enam kelompok diskusi. Agendanya: menerjemahkan prinsip pengabdian Mbah Wahab dalam konteks kepemimpinan pesantren, politik kebangsaan, dan pemberdayaan ekonomi desa. Hasil lokakarya dirangkum dalam dokumen rekomendasi setebal 17 halaman.
  4. Pencanangan Program “Khidmat Nusantara” — Panitia mengumumkan pengiriman 120 dai dan guru selama 40 hari ke daerah terpencil di Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur, dimulai Oktober mendatang. Program ini meniru pola dakwah Mbah Wahab yang pada 1920-an berkeliling Jawa mendirikan madrasah swadaya.

Statistik dan Data Penting

  • Pendirian: 1914 (diverifikasi dari prasasti peresmian di gerbang kompleks).
  • Jumlah santri: 10.240 orang pada tahun ajaran 2025 (data registrasi pondok).
  • Peran NU: Mbah Wahab menjabat Rais Aam NU ke-3 (1947–1971), sebelumnya memprakarsai Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang menggerakkan santri melawan Sekutu.
  • Warisan kebijakan: Penolakan terhadap jabatan politik formal (tercatat menolak tawaran menjadi calon wakil presiden 1945) demi menjaga independensi pesantren.

Relevansi di Era Disrupsi

Pidato penutup muktamar, yang disampaikan oleh pengasuh pondok tanpa teks, mengetengahkan bahwa krisis kepercayaan publik terhadap organisasi massa Islam dapat dijawab dengan menghidupkan kembali model pengabdian Mbah Wahab: berbasis data, menolak politik transaksional, dan berorientasi pada tindakan konkret. Muktamar ini, demikian penegasan pengasuh, bukan sekadar perayaan nostalgia, melainkan audit atas sejauh mana lembaga pendidikan Islam masih setia pada akar pendiriannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User