Merapi Luncurkan Awan Panas 2 Km, Warga Diimbau Jauhi Zona Bahaya
Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan pada siang hari ini, 8 Juli 2026. Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengemba
Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan pada siang hari ini, 8 Juli 2026. Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), gunung api teraktif di Indonesia itu meluncurkan awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai 2 kilometer ke arah tenggara.
"Awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo maksimal 45 mm dan durasi 120 detik. Jarak luncur diperkirakan mencapai 2.000 meter dari puncak," ujar Kepala BPPTKG dalam keterangan tertulis.
Data instrumental dari pos pengamatan menunjukkan awan panas mulai meluncur pada pukul 13.17 WIB. Material vulkanik yang meluncur didominasi oleh guguran lava dari kubah barat daya yang telah terbentuk sejak fase efusif beberapa bulan terakhir. Volume kubah lava sendiri saat ini tercatat mencapai lebih dari 1,6 juta meter kubik.

Berdasarkan analisis citra satelit dan pengamatan visual dari Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) di beberapa titik, kolom asap membubung hingga ketinggian sekitar 800 meter dari puncak kawah. Angin pada saat kejadian bertiup ke arah barat, sehingga potensi sebaran abu vulkanik mengarah ke wilayah Kabupaten Magelang.
Berikut beberapa poin penting yang dirilis oleh BPPTKG:
- Zona bahaya: Radius 7 kilometer dari puncak untuk sektor selatan-barat daya, serta 5 kilometer untuk sektor tenggara.
- Status: Masih bertahan pada Level III atau Siaga sejak ditetapkan pada November 2020.
- Potensi lanjutan: Guguran lava dan awan panas masih berpotensi terjadi sewaktu-waktu, terutama saat terjadi hujan di area puncak.
- Rekomendasi: Warga di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III diminta tidak beraktivitas dalam radius bahaya.
Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten telah mengaktifkan posko kesiapsiagaan. Evakuasi mandiri belum diperintahkan, namun desa-desa di lereng selatan seperti Glagaharjo, Kepuharjo, dan Umbulharjo diminta meningkatkan kesiapan logistik dan jalur evakuasi.
BPPTKG juga mengingatkan agar warga mewaspadai bahaya sekunder berupa lahar dingin apabila terjadi hujan di puncak. Material vulkanik yang telah terdeposit di aliran sungai-sungai yang berhulu di Merapi, seperti Kali Gendol, Kali Boyong, Kali Kuning, dan Kali Woro, berpotensi terbawa arus dan menimbulkan banjir lahar di pemukiman sepanjang bantaran sungai.
"Kami mengimbau agar seluruh pihak tetap tenang namun waspada. Ikuti arahan dari BPBD setempat dan jangan mudah terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," tegas Kepala Pelaksana BPBD DIY.
Hingga pukul 15.00 WIB, belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur akibat peristiwa ini. Kegiatan penambangan di alur sungai yang berhulu di Merapi telah dihentikan sementara berdasarkan rekomendasi BPPTKG. Aktivitas pendakian juga masih ditutup total sejak status Siaga diberlakukan.
Pemantauan secara kontinu terus dilakukan melalui jaringan seismograf dan CCTV yang terpasang di beberapa titik strategis. Masyarakat dapat mengakses informasi terkini melalui kanal resmi BPPTKG dan BPBD setempat.
Comments (0)