Lidia Thorpe Desak Royal Commission, Sebut Rasisme Bak Kanker

CANBERRA — Senator Australia dari keturunan Djab Wurrung, Gunnai, dan Gunditjmara, Lidia Thorpe, kembali mengguncang panggung politik Negeri Kanguru. Ia me

Lidia Thorpe Desak Royal Commission, Sebut Rasisme Bak Kanker

CANBERRA — Senator Australia dari keturunan Djab Wurrung, Gunnai, dan Gunditjmara, Lidia Thorpe, kembali mengguncang panggung politik Negeri Kanguru. Ia menyamakan rasisme dengan penyakit mematikan sembari mendesak pembentukan royal commission—komisi penyelidikan tertinggi di Australia—untuk membongkar akar diskriminasi rasial yang menurutnya terus menggerogoti masyarakat.

"Rasisme itu seperti kanker. Jika dibiarkan, ia akan menyebar dan menghancurkan segalanya," ujar Thorpe, seraya menegaskan bahwa royal commission memiliki kekuatan untuk "meminta pertanggungjawaban semua orang".

Pernyataan Thorpe bukan sekadar retorika. Ia bergabung dengan gelombang seruan yang kian menguat dari berbagai kalangan—aktivis, akademisi, hingga komunitas masyarakat adat—yang menilai Australia membutuhkan penyelidikan nasional yang independen dan berkekuatan penuh untuk menjawab persoalan rasisme sistemik.

Apa Itu Royal Commission?

Royal commission adalah bentuk penyelidikan publik tertinggi dalam sistem hukum Australia. Berbeda dengan komite parlemen biasa, lembaga ini memiliki kewenangan luar biasa: memaksa saksi hadir, memerintahkan penyerahan dokumen, hingga merekomendasikan penuntutan pidana.

Sejarah Australia mencatat sejumlah royal commission yang mengubah wajah bangsa. Royal Commission into Aboriginal Deaths in Custody pada 1987–1991 membongkar kematian warga pribumi di dalam tahanan. Ada pula Royal Commission into Institutional Responses to Child Sexual Abuse (2013–2017) yang mengguncang berbagai lembaga besar. Bagi Thorpe, rasisme layak mendapatkan perlakuan serupa—penyelidikan menyeluruh yang tak bisa dihindari siapa pun.

"Sebuah royal commission akan memiliki kekuatan untuk meminta pertanggungjawaban semua orang—dari institusi pemerintah, korporasi, hingga individu," tegas senator asal Victoria itu.

Sosok Lidia Thorpe

Lidia Thorpe bukan wajah baru dalam perjuangan melawan diskriminasi. Ia adalah perempuan Aborigin pertama yang menjadi senator mewakili negara bagian Victoria. Sebelum duduk di Senat federal, ia berkarier di parlemen negara bagian dan aktif membela hak-hak masyarakat adat.

Pada Februari 2023, Thorpe mundur dari Partai Hijau (Greens) dan memilih menjadi senator independen. Langkah itu diambil agar ia bisa bebas menyuarakan sikapnya terhadap proposal Voice to Parliament yang ia anggap tidak cukup jauh membela kedaulatan masyarakat adat. Referendum Voice pada Oktober 2023 akhirnya ditolak mayoritas pemilih Australia—sebuah momen yang menurut banyak pengamat membuka kembali luka lama tentang posisi warga pribumi di negeri mereka sendiri.

Thorpe juga dikenal lewat aksi-aksi beraninya. Saat Raja Charles III berkunjung ke Canberra pada Oktober 2024, ia meneriakkan "You are not our king" di hadapan sang raja—sebuah protes terbuka terhadap warisan kolonialisme yang hingga kini masih dirasakan masyarakat First Nations.

Mengapa Seruan Ini Menguat?

Berbagai survei nasional berulang kali mencatat tingginya angka diskriminasi terhadap masyarakat Aborigin dan Torres Strait Islander, para migran, serta komunitas minoritas lainnya. Ketimpangan juga tampak nyata pada indikator kesehatan, pendidikan, dan peradilan pidana—warga pribumi Australia dipenjara dalam proporsi yang jauh lebih besar dibanding kelompok masyarakat lain.

Bagi para pendukung royal commission, pendekatan sektoral selama ini—program-program pemerintah yang tersebar di berbagai lembaga—dinilai gagal menjawab akar masalah. Yang dibutuhkan, kata mereka, adalah cermin besar bagi bangsa: penyelidikan yang memaksa setiap institusi membuka catatannya di depan publik.

Thorpe menegaskan, tanpa mekanisme yang memiliki kekuatan memaksa, seruan antirasisme hanya akan berakhir sebagai jargon belaka. Frasa "hold everyone to account" menjadi kata kunci yang ia ulang berkali-kali.

Jalan yang Masih Panjang

Hingga kini, pemerintah federal Australia belum memberi sinyal akan memenuhi seruan tersebut. Pembentukan royal commission memerlukan keputusan politik di tingkat tertinggi, dan sejarah menunjukkan pemerintah kerap ragu membuka penyelidikan yang berpotensi menyeret banyak pihak.

Namun tekanan terus berdatangan. Setiap suara baru—termasuk dari seorang senator yang gigih seperti Thorpe—membuat seruan ini semakin sulit diabaikan. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Australia memiliki masalah dengan rasisme, melainkan apakah negeri itu berani menghadapinya secara terbuka.

Sebagaimana kanker, rasisme tidak akan sembuh dengan menutup mata. Dan bagi Lidia Thorpe, pengobatan pertama dimulai dengan keberanian untuk mendiagnosisnya—di depan umum, di bawah sumpah, dengan kekuatan hukum penuh.

[SOCIAL_TWEET]: Senator Lidia Thorpe menyebut rasisme seperti kanker dan mendesak pembentukan royal commission di Australia. "Hanya itu yang bisa meminta pertanggungjawaban semua orang," tegasnya. #LidiaThorpe #Australia #Rasisme [SOCIAL_TG]: 🚨 Senator Lidia Thorpe sebut rasisme di Australia bak kanker. Ia mendesak pembentukan royal commission — penyelidikan tertinggi berkekuatan hukum penuh — untuk meminta pertanggungjawaban semua pihak. Akankah Canberra berani bertindak? Selengkapnya di Lurusin.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User