Di balik gemerlap statusnya sebagai salah satu raksasa teknologi dunia, Korea Selatan kini menghadapi krisis sosial yang kian mencemaskan: kesenjangan digital antargenerasi. Fenomena yang dikenal sebagai grey digital divide ini membuat jutaan warga lanjut usia (lansia) merasa terasing di tanah air mereka sendiri, terdesak oleh otomatisasi layanan publik dan komersial yang serba cepat.
Ironi ini terlihat nyata di berbagai fasilitas publik. Di sebuah pusat komunitas lansia di Suwon, selatan Seoul, puluhan warga senior mengikuti program pelatihan bertahan hidup digital yang digelar pemerintah. Mereka berjuang memahami instruksi layar sentuh ponsel pintar dan mesin pemesanan mandiri (kios cetak tiket).
"Anda tidak bisa melakukan apa pun tanpa aplikasi ponsel atau mesin kios. Ini terlalu berat bagi orang tua seperti kami," ujar Hwang, salah seorang peserta pelatihan di Suwon.
Realitas Pahit di Ruang Publik
Investigasi di lapangan memperlihatkan bahwa peralihan sistem konvensional ke digital telah mengikis kemandirian para lansia secara sistematis. Berbagai kasus diskriminasi teknologi tanpa sadar terjadi setiap hari:
- Sistem Pemesanan Tiket: Sejumlah klub bisbol profesional terpaksa mengalokasikan kembali tiket fisik di loket stadion setelah marak laporan lansia memegang uang tunai dan memohon bantuan kepada anak muda untuk membelikan tiket lewat mesin otomatis.
- Krisis Transportasi Harian: Sebanyak 90 persen sopir taksi kini mengandalkan aplikasi transportasi daring, sementara lebih dari 80 persen warga berusia di atas 60 tahun masih menghentikan taksi secara manual dengan melambaikan tangan di pinggir jalan.
- Akses Layanan Kesehatan dan Perbankan: Ketiadaan literasi digital menutup akses lansia terhadap pendaftaran rumah sakit, layanan perbankan daring, serta meningkatkan kerentanan mereka terhadap kejahatan siber berteknologi tinggi.
Pengalaman getir dialami Park (71), seorang pensiunan pegawai negeri sipil. Ia menceritakan momen traumatis saat menghabiskan waktu lebih dari 30 menit di tepi jalan protokol Seoul hanya untuk mencari tumpangan.
"Taksi-taksi itu terus melewati saya begitu saja hanya untuk menjemput penumpang muda yang berdiri beberapa meter di samping saya karena mereka memakai aplikasi. Saya merasa benar-benar tidak berguna," keluh Park.
Jurang Generasi Akibat Akselerasi Ekonomi
Survei pemerintah terbaru mencatat fakta mengejutkan: sebanyak 60 persen warga Korea Selatan berusia di atas 60 tahun kesulitan mengakses layanan publik dan komersial berbasis digital. Angka tersebut sangat timpang jika dibandingkan dengan kelompok usia di bawah 40 tahun, yang tingkat kesulitannya hanya berada di angka 6 persen.
Pakar bisnis lansia dari Universitas Kangnam di Seoul, Profesor Kim Jeung-kun, menegaskan bahwa jurang digital di Negeri Ginseng jauh lebih curam dibanding negara maju lainnya. Hal ini dipicu oleh industrialisasi dan digitalisasi yang dipadatkan hanya dalam hitungan dekade, sementara negara-negara Barat melaluinya selama berabad-abad.
Kini, otoritas Korea Selatan berkejaran dengan waktu untuk menyediakan pendampingan literasi digital berskala nasional, memastikan generasi pembangun ekonomi bangsa tidak tertinggal di era kecerdasan buatan.
Comments (0)