Sep 14, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Sains

TOKYO — Harimoto Bersaudara Bertekad Runtuhkan Dominasi Tenis Meja Tiongkok

Dua atlet tenis meja bersaudara asal Jepang, Tomokazu Harimoto dan adiknya, Miwa Harimoto, melancarkan deklarasi berani di kancah olahraga internasional. M

TOKYO — Harimoto Bersaudara Bertekad Runtuhkan Dominasi Tenis Meja Tiongkok

Dua atlet tenis meja bersaudara asal Jepang, Tomokazu Harimoto dan adiknya, Miwa Harimoto, melancarkan deklarasi berani di kancah olahraga internasional. Membawa darah atlet dari orang tua yang berasal dari Tiongkok, keduanya bertekad menggeser hegemoni Negeri Tirai Bambu yang selama puluhan tahun menguasai cabang olahraga tenis meja dunia.

Persaingan sengit ini kian memanas menjelang gelaran Asian Games di Nagoya. Tomokazu yang kini berusia 23 tahun dan bertengger di peringkat empat dunia, bersama Miwa yang berusia 18 tahun di peringkat tiga dunia wanita, memproyeksikan pergeseran kekuatan besar dalam beberapa tahun ke depan.

"Saya ingin menjadikan enam hingga sepuluh tahun ke depan sebagai era bagi Jepang," tegas Tomokazu dalam wawancaranya bersama Nikkei Asia.

Akar Tiongkok di Balik Panji Samurai

Latar belakang keluarga Harimoto menyimpan narasi migrasi dan metamorfosis yang unik. Ibu mereka, Zhang Ling, merupakan mantan atlet nasional Tiongkok yang sempat berlaga di Kejuaraan Dunia 1995. Pada tahun 1998, kedua orang tua mereka memutuskan pindah ke Sendai, Jepang, untuk bekerja sebagai pelatih klub tenis meja lokal.

Kendati lahir dan tumbuh di Jepang, status kewarganegaraan tidak didapatkan secara otomatis sejak lahir. Pada tahun 2014, Tomokazu dan Miwa resmi memperoleh kewarganegaraan Jepang bersama sang ayah, Zhang Yu, yang kemudian mengadopsi nama Yu Harimoto. Naturalisasi ini menjadi pintu masuk resmi bagi keduanya untuk membela bendera Jepang di turnamen internasional.

Ayah mereka menanamkan disiplin ketat sejak dini, meski tetap menyeimbangkannya dengan pendidikan formal dan kesehatan anak-anaknya.

"Filosofi keluarga kami adalah kesehatan nomor satu, lalu pendidikan, baru setelah itu tenis meja. Saya dan istri ingin anak-anak melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan pada setiap tahap usia dengan benar," tutur Yu Harimoto.

Sorotan Identitas dan Friksi Geopolitik

Fenomena Harimoto bersaudara menciptakan dinamika yang kompleks antara dua negara adidaya Asia Timur tersebut. Di satu sisi, keduanya sangat fasih berbicara dalam bahasa Mandarin dan memiliki basis penggemar besar di Tiongkok. Namun di sisi lain, ketegangan nasionalisme kerap membayangi perjalanan karier mereka.

Sorotan tajam sempat mengarah kepada Tomokazu menjelang Olimpiade Paris 2024. Kunjungannya ke sebuah kuil bersejarah di Tokyo memicu kemarahan publik dan warganet di Tiongkok, mengingat situs tersebut kerap diasosiasikan dengan glorifikasi militerisme masa lalu Jepang. Kendati demikian, tekanan emosional dan sentimen lintas batas ini justru menjadi bahan bakar bagi keduanya untuk terus menorehkan prestasi.

Poin Kunci Transformasi Harimoto Bersaudara

  • Dominasi Usia Muda: Tomokazu mencetak sejarah sebagai juara dunia junior termuda pada usia 13 tahun setelah menjuarai Japan Open U-21 di usia 12 tahun.
  • Peringkat Elit Dunia: Tomokazu menempati peringkat ke-4 dunia sektor putra, sementara Miwa melesat ke peringkat ke-3 dunia sektor putri.
  • Target Utama: Merebut medali emas dan menundukkan para pemain papan atas Tiongkok di hadapan publik sendiri pada Asian Games Nagoya.

Kini, Harimoto bersaudara tidak hanya bertanding untuk mengejar gelar juara, tetapi juga mendefinisikan ulang peta kekuatan tenis meja modern di tengah persilangan budaya dan gengsi antarnegara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User