Kompos Keliling Jadi Solusi Kurangi Sampah Organik dari Rumah

Jakarta — Upaya mengurangi volume sampah organik terus digencarkan warga di kawasan Jakarta Selatan. Sebuah inisiatif bernama Kompos Keliling kini menjadi andalan untuk mengubah limbah dapur dan si

Jul 06, 2026 - 13:25
0 0
Kompos Keliling Jadi Solusi Kurangi Sampah Organik dari Rumah

Jakarta — Upaya mengurangi volume sampah organik terus digencarkan warga di kawasan Jakarta Selatan. Sebuah inisiatif bernama Kompos Keliling kini menjadi andalan untuk mengubah limbah dapur dan sisa makanan menjadi pupuk berkualitas. Berdasarkan laporan Lurusin.com, gerakan ini semakin diminati karena praktis, ramah lingkungan, dan langsung diterapkan dari rumah ke rumah.

Program ini berawal dari keprihatinan sejumlah warga terhadap tumpukan sampah organik yang selama ini hanya berakhir di tempat pembuangan tanpa pengolahan. Dengan menggunakan kendaraan roda tiga yang dimodifikasi, petugas Kompos Keliling berkeliling permukiman untuk mengambil sampah organik yang sudah dipilah warga. Setelah itu, sampah diproses menjadi kompos di tempat pengelolaan yang berada di lingkungan setempat.

Proses Sederhana dan Partisipatif

Setiap rumah tangga diberikan wadah khusus untuk mengumpulkan sisa sayuran, kulit buah, daun kering, dan sisa makanan non-hewani. Dua kali seminggu, petugas mendatangi rumah-rumah dan mengangkut sampah organik tersebut. Warga yang rutin berpartisipasi kemudian mendapat jatah kompos jadi yang bisa digunakan untuk tanaman hias, kebun, atau penghijauan lingkungan.

Menurut pantauan Lurusin.com, proses pengomposan dilakukan dengan metode aerob sederhana, mencampur sampah organik dengan serbuk gergaji dan aktivator mikroba. Dalam waktu tiga hingga empat minggu, limbah dapur itu berubah menjadi pupuk hitam yang gembur dan kaya nutrisi.

“Saya tidak perlu lagi bingung membuang sisa makanan. Sekarang setiap hari kami kumpulkan, nanti diangkut, dan dalam sebulan saya dapat kompos untuk tanaman di pekarangan. Lingkungan juga jadi lebih bersih,” ujar Ratna, salah satu warga yang bergabung sejak awal program.

Dampak Positif dan Potensi Perluasan

Pengelola Kompos Keliling mencatat, sejak diluncurkan awal tahun ini, lebih dari 200 kepala keluarga sudah menjadi peserta rutin. Volume sampah organik yang diolah mencapai puluhan ton per bulan, signifikan mengurangi beban tempat pembuangan akhir dan emisi gas metana yang timbul dari pembusukan sampah di TPA.

Keberhasilan ini menarik perhatian dinas lingkungan hidup dan mendapat dukungan berupa pelatihan teknis serta bantuan alat pencacah. Rencana ke depan, program serupa akan diperluas ke kelurahan-kelurahan tetangga dengan melibatkan lebih banyak relawan dan generasi muda.

Dengan model kemitraan antara warga, kader lingkungan, dan pemerintah lokal, Kompos Keliling membuktikan bahwa solusi atas persoalan sampah organik dapat lahir dari kolaborasi akar rumput. Langkah kecil dari rumah ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk menciptakan ekosistem perkotaan yang lebih berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sinta-pradana

Peneliti Data. Peneliti dan analis data untuk verifikasi.

Comments (0)

User