Kisah Wagino, 25 Tahun Jualan Buku di DU Kini Pasrah Digusur

Bandung – Suara gemuruh alat berat memecah pagi di sepanjang Jalan Dipatiukur dan Jalan Singaperbangsa, Rabu (24/6/2026). Satu per satu bangunan liar di atas trotoar dirubuhkan oleh petugas gabunga

Jul 07, 2026 - 23:55
0 0
Kisah Wagino, 25 Tahun Jualan Buku di DU Kini Pasrah Digusur

Bandung – Suara gemuruh alat berat memecah pagi di sepanjang Jalan Dipatiukur dan Jalan Singaperbangsa, Rabu (24/6/2026). Satu per satu bangunan liar di atas trotoar dirubuhkan oleh petugas gabungan. Di tengah kepulan debu dan reruntuhan papan, seorang pria berambut putih masih tampak tenang menyusun tumpukan buku di lapak kayu miliknya. Ia adalah Wagino, 64 tahun, yang menggantungkan hidup dari berjualan buku di atas trotoar kawasan Dipatiukur sejak 1999.

Cerita Panjang Selembar Trotoar

Lapak Wagino bukan sekadar tempat berdagang. Bagi warga sekitar, kios sempit itu sudah menjadi penanda jalan, bahkan semacam perpustakaan kecil bagi mahasiswa dan pencinta buku bekas. Dari komik lawas, novel sastra, hingga buku-buku kuliah, ia menatanya sebaik mungkin agar menarik pembeli. Lurusin.com mencatat, Wagino memulai usaha ini setelah sebelumnya bekerja serabutan. Dengan modal warisan, ia membangun lapak dan perlahan menjadi bagian dari denyut ekonomi di seputar kampus Universitas Padjadjaran Dipatiukur.

“Saya di sini sudah 25 tahun. Anak-anak saya sekolah dari uang buku ini. Sekarang ya beginilah waktunya,” ujar Wagino seraya mengelap keringat, matanya menerawang jauh ke arah tumpukan puing bekas kios tetangganya.

Penggusuran kali ini merupakan bagian dari penertiban trotoar yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung. Sebanyak 63 bangunan liar di kawasan Monju serta belasan lapak di sepanjang Dipatiukur dan Singaperbangsa diratakan. Langkah itu, menurut rencana, akan melanjutkan pembersihan jalur pejalan kaki yang telah belasan tahun dikuasai oleh pedagang informal.

Tak Lagi Punya Tempat Berlabuh

Sejatinya, Wagino sudah bisa membaca tanda-tanda penggusuran ini sejak dua pekan lalu. Sosialisasi dari Dinas Perhubungan dan Satpol PP terus digaungkan. Namun, karena belum ada lokasi relokasi yang pasti, ia bertahan sambil berharap ada kebijakan yang mempertimbangkan nasib pedagang sekaliber dirinya.

Sejumlah pedagang di sepanjang trotoar itu mengaku sudah menerima surat peringatan tiga kali. “Kami bukan tidak mau pindah, tapi mau ke mana? Di tempat baru belum tentu ada yang beli,” kata seorang pedagang makanan ringan yang lapaknya juga dirobohkan, menimpali pertanyaan tim liputan kami.

Wagino sendiri menegaskan ia tak akan melawan atau berunjuk rasa. Dengan raut pasrah, ia mengatakan hanya bisa mengikuti proses. “Semua barang saya sumbangkan ke perpustakaan keliling kalau tidak muat dibawa pulang. Mungkin ini saatnya saya istirahat,” katanya sambil merapikan beberapa buku bersampul lusuh yang hendak ia masukkan ke dalam karung.

Hingga pukul 12.00 siang, proses pembongkaran masih berlangsung dengan pengamanan ketat dari petugas. Trotoar yang tadinya riuh oleh tawar-menawar pembeli kini lengang dan dibiarkan kembali ke fungsi aslinya: tempat pejalan kaki. Bagi Wagino, besi-besi penyangga lapak yang patah turut mengakhiri babak panjang hidupnya sebagai penjual buku di jantung Dipatiukur.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dina-aulia

Editor Cek Fakta. Editor naskah cek fakta sebelum publikasi.

Comments (0)

User