Kiprah Ade Safitri di Program Magister Ilmu Komunikasi Unpad

Universitas Padjadjaran (Unpad) kembali menjadi sorotan dengan hadirnya mahasiswa pascasarjana yang tidak hanya mengejar gelar akademik, tetapi juga aktif mengembangkan kompetensi di luar kelas. Ade S...

Jul 12, 2026 - 11:02
0 0
Kiprah Ade Safitri di Program Magister Ilmu Komunikasi Unpad

Universitas Padjadjaran (Unpad) kembali menjadi sorotan dengan hadirnya mahasiswa pascasarjana yang tidak hanya mengejar gelar akademik, tetapi juga aktif mengembangkan kompetensi di luar kelas. Ade Safitri, mahasiswi program Magister Ilmu Komunikasi, adalah salah satu contohnya. Memasuki tahun kedua studi, ia telah menorehkan sejumlah pencapaian, baik di bidang riset maupun pengabdian masyarakat. Nama Ade mulai dikenal sejak ia terlibat dalam berbagai forum diskusi media dan literasi digital di tingkat nasional.

Latar Belakang Pendidikan dan Motivasi

Ade Safitri mengawali perjalanan akademiknya di bidang komunikasi dengan meraih gelar sarjana dari sebuah universitas swasta di Bandung. Semasa sarjana, ia aktif di unit kegiatan jurnalistik kampus dan sering menjadi editor untuk buletin mahasiswa. Kecintaannya pada dunia tulis-menulis dan analisis media mendorongnya untuk melanjutkan studi ke jenjang magister. Unpad menjadi pilihan utamanya karena reputasi program studi Ilmu Komunikasi yang terakreditasi unggul dan memiliki dosen-dosen berpengalaman di tingkat internasional.

"Saya merasa ilmu komunikasi tidak cukup hanya dipahami secara permukaan. Era banjir informasi menuntut kita untuk memiliki fondasi teoretis yang kuat agar mampu memilah, mengkritisi, dan memproduksi konten yang bertanggung jawab," ujarnya saat ditemui di perpustakaan kampus Jatinangor. Ia menambahkan bahwa dukungan keluarga dan lingkungan akademik yang kondusif menjadi faktor penting dalam kelancaran studinya.

Fokus Riset dan Tantangan Penelitian

Saat ini, Ade tengah menyusun proposal tesis yang mengulas pengaruh algoritma rekomendasi media sosial terhadap terbentuknya echo chamber di kalangan pemilih pemula. Topik ini tergolong baru dan multidisipliner, memadukan teori komunikasi politik, psikologi kognitif, dan ilmu data. Dalam prosesnya, ia harus melakukan observasi digital terhadap empat platform utama, yaitu TikTok, Instagram, X (Twitter), dan YouTube, serta mewawancarai setidaknya 30 responden yang mewakili segmen usia 17–24 tahun.

Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah mengakses data algoritma yang sering kali bersifat rahasia perusahaan. Untuk menyiasatinya, Ade menggunakan pendekatan digital ethnography dan analisis jaringan komunikasi. "Meskipun kompleks, riset ini sangat penting karena menyentuh akar masalah fragmentasi masyarakat akibat desain platform yang tidak transparan," jelasnya. Ia berharap hasil penelitiannya dapat memberikan rekomendasi bagi regulator dan pengembang teknologi.

Selain itu, Ade juga aktif mempresentasikan gagasannya di beberapa seminar, termasuk The 3rd International Conference on Media and Communication (ICMC) 2024 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Ia membawakan makalah tentang literasi digital sebagai instrumen mitigasi konflik sosial di ruang virtual.

Keterlibatan Organisasi dan Pengabdian Masyarakat

Tak hanya fokus pada riset, Ade juga menunjukkan kepeduliannya dengan bergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana (FKMP) Unpad. Melalui wadah ini, ia sering menjadi fasilitator dalam workshop literasi media untuk siswa SMA dan SMK di daerah perbatasan kota. Program tersebut melatih remaja untuk memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, sekaligus memperkenalkan dasar-dasar produksi konten positif.

Di dunia profesional, Ade pernah menjalani magang di redaksi salah satu media daring nasional dan menjadi kontributor lepas untuk beberapa portal berita lokal. Pengalaman itu membekalinya dengan pemahaman langsung tentang dinamika newsroom dan tekanan deadline. Kini, ia mengaplikasikan keterampilan itu dengan mengelola kanal YouTube edukatif bernama "Ruang Litera", yang berisi materi seputar kajian media dan tips akademik.

Pandangan dan Cita-Cita

Ke depan, Ade melihat lanskap komunikasi akan semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan dan personalisasi konten. Ia menekankan pentingnya humanisme digital agar teknologi tidak mereduksi nilai-nilai kemanusiaan. "Mahasiswa komunikasi harus menjadi jembatan antara inovasi dan etika. Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen pasif dari algoritma yang didesain oleh pihak lain," tegasnya.

Setelah meraih gelar magister, Ade berencana melanjutkan karier sebagai dosen dan peneliti, sambil mengembangkan start-up di bidang konsultasi media dan pelatihan komunikasi publik. Ia juga menyimpan mimpi untuk mendirikan lembaga riset independen yang fokus pada studi komunikasi digital dan demokrasi. Baginya, ilmu yang diperoleh di Unpad adalah modal awal untuk terjun dalam ekosistem yang lebih besar.

Pesan untuk Generasi Muda

Di sela-sela aktivitasnya, Ade kerap menyampaikan motivasi melalui akun media sosialnya. "Jangan takut mencoba dan gagal, karena proses itulah yang membentuk karakter. Ambil peran sebagai agen perubahan di lingkungan terkecil sekalipun," tulisnya dalam sebuah unggahan. Ia juga mendorong mahasiswa sarjana untuk mempertimbangkan studi lanjut sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar formalitas.

Sosok Ade Safitri menjadi cerminan bahwa mahasiswa pascasarjana tidak hanya berkutat pada buku dan jurnal, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak kesadaran kritis di masyarakat. Unpad, melalui program studi Ilmu Komunikasi, tampaknya berhasil menciptakan lingkungan yang mendukung lahirnya pemikir-pemikir seperti Ade. Publik berharap, kontribusi nyatanya dapat segera dirasakan dalam pembangunan komunikasi nasional yang lebih sehat dan inklusif.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User