Ade Safitri Teliti Disinformasi, Hasil Riset Dipresentasikan di Forum Internasional

Seorang mahasiswi program pascasarjana dari Universitas Padjadjaran (Unpad) menjadi sorotan setelah berhasil mempresentasikan temuan risetnya tentang disinformasi di kancah internasional. Mahasiswi te...

Jul 12, 2026 - 12:21
0 0
Ade Safitri Teliti Disinformasi, Hasil Riset Dipresentasikan di Forum Internasional

Seorang mahasiswi program pascasarjana dari Universitas Padjadjaran (Unpad) menjadi sorotan setelah berhasil mempresentasikan temuan risetnya tentang disinformasi di kancah internasional. Mahasiswi tersebut adalah Ade Safitri, yang tengah menempuh studi Magister Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Penelitiannya yang mendalam mengenai pola penyebaran informasi palsu di media sosial menuai apresiasi dari para akademisi lintas negara.

Latar Belakang Akademik

Ade Safitri merupakan mahasiswi S2 Ilmu Komunikasi yang memiliki ketertarikan khusus pada kajian media digital dan dampak sosial teknologi informasi. Sebelum melanjutkan ke jenjang magister, ia menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang yang relevan, membekalinya dengan pemahaman multidisiplin tentang komunikasi massa, jurnalisme, dan dinamika media baru. Di Unpad, ia dikenal sebagai mahasiswi yang aktif dalam berbagai diskusi ilmiah dan penelitian kolaboratif bersama dosen. Selama menempuh studi, ia juga rajin mengikuti seminar internasional dan telah menerbitkan sejumlah artikel di jurnal nasional terakreditasi yang membahas isu komunikasi dan teknologi.

Ketertarikan Ade pada fenomena disinformasi bermula dari keprihatinannya terhadap masifnya peredaran berita bohong yang kerap memicu keresahan di masyarakat. "Saya melihat banyak orang yang rentan terpapar hoaks tanpa mampu membedakan mana fakta dan mana opini," ujarnya dalam sebuah kesempatan. Hal ini mendorongnya untuk menjadikan isu tersebut sebagai fokus utama tesisnya, dengan harapan dapat memberikan kontribusi nyata dalam melawan misinformasi.

Riset Disinformasi dan Temuan Kunci

Riset yang dilakukan Ade Safitri menggunakan pendekatan campuran antara analisis konten kuantitatif dan wawancara mendalam. Dengan mengambil sampel ribuan unggahan media sosial selama periode satu tahun, ia berhasil memetakan pola narasi yang paling sering digunakan dalam penyebaran hoaks. Salah satu temuan utamanya adalah bahwa sebagian besar disinformasi disebarkan oleh akun-akun anonim yang memanfaatkan isu sensitif seperti kesehatan, politik, dan bencana alam. Akun-akun tersebut biasanya tidak memiliki identitas jelas dan aktif dalam grup-grup tertutup yang mempersulit penelusuran.

Data yang dikumpulkannya menunjukkan bahwa format video pendek dan infografis yang tidak diverifikasi menjadi media paling efektif dalam memviralkan klaim palsu. Lebih lanjut, risetnya mengidentifikasi bahwa algoritma platform turut memperparah penyebaran karena konten emosional mendapat prioritas lebih tinggi di linimasa pengguna. Temuan ini memperkuat urgensi literasi digital dan regulasi platform yang lebih ketat. Ade menyarankan agar platform menerapkan mekanisme verifikasi berlapis sebelum konten dapat menjangkau audiens luas.

Presentasi di Forum Internasional

Atas kualitas risetnya, Ade Safitri terpilih untuk mewakili Unpad dalam International Conference on Communication and Media Studies yang digelar secara hybrid di Kuala Lumpur, Malaysia, pada awal tahun ini. Di hadapan panelis dari berbagai universitas ternama Asia-Pasifik, ia memaparkan hasil penelitiannya dengan lugas dan berbasis data. Ia menyertakan visualisasi yang menggambarkan jaringan penyebaran hoaks dan korelasinya dengan keterlibatan pengguna, sehingga mendapat tanggapan antusias dari peserta.

"Responsnya sangat positif. Banyak peserta yang tertarik untuk berkolaborasi mengembangkan model deteksi disinformasi berbasis konteks lokal," ungkap Ade. Keikutsertaannya dalam forum tersebut bukan hanya membawa nama baik almamater, tetapi juga membuka jaringan riset global yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu komunikasi di Indonesia. Ia berkesempatan berdiskusi dengan peneliti dari India, Australia, dan Jepang yang memiliki fokus serupa, membuka peluang pertukaran data dan metodologi.

Implikasi dan Harapan ke Depan

Temuan riset Ade Safitri diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemangku kebijakan, platform media sosial, dan lembaga pemeriksa fakta dalam merancang strategi penanggulangan disinformasi. Ia menekankan pentingnya kolaborasi multipihak, mengingat hoaks tidak bisa diatasi hanya oleh satu sektor saja. "Perlu ada sinergi antara pemerintah, platform, akademisi, dan masyarakat sipil," tegasnya. Menurut Ade, riset ini hanyalah langkah awal: "Saya ingin hasil ini bisa diakses publik dan menjadi dasar kebijakan yang lebih inklusif," katanya.

Ke depan, Ade berencana melanjutkan risetnya ke jenjang doktoral dengan fokus pada pengembangan alat verifikasi otomatis berbasis kecerdasan buatan yang disesuaikan dengan konteks Indonesia. Ia juga tengah merintis gerakan literasi digital bersama komunitas mahasiswa yang menyasar kelompok rentan, seperti lansia dan pelajar di daerah terpencil. Program tersebut mengedepankan pelatihan langsung dan modul interaktif yang mudah dipahami.

Dengan dedikasi dan kontribusinya, Ade Safitri menjadi contoh bahwa mahasiswa pascasarjana mampu menghasilkan penelitian berdampak nyata bagi masyarakat. Kiprahnya menegaskan bahwa Ilmu Komunikasi tidak hanya tentang teori, tetapi juga solusi aplikatif untuk tantangan era informasi. Ia berharap semakin banyak peneliti muda yang tergerak menjadikan kajian komunikasi sebagai garda terdepan dalam menjaga ekosistem digital yang sehat.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User