KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa di Masjid Sunda Kelapa
JAKARTA — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, ketika Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mus
JAKARTA — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, ketika Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, secara resmi meluncurkan karya monumentalnya yang bertajuk Ithafu Ummati Al-Muqtafa bi Syarhi Tashili Al-Masaili Al-Fiqhiyyah li Al-Quduri. Peluncuran kitab fiqh bermadzhab Hanafi ini tidak sekadar seremoni akademik, tetapi juga menjadi penanda penting bagi khazanah intelektual Islam Nusantara di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.
Jembatan Madzhab Hanafi di Bumi Syafi'i
Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa merupakan syarah atau penjelasan komprehensif atas kitab Tashil Al-Masail karya Syekh Abdul Wahhab Al-Hanafi. Bagi KH Zulfa Mustofa, upaya menulis kitab berbahasa Arab ini adalah sebuah misi intelektual untuk menjembatani pemahaman lintas madzhab, khususnya memperkenalkan khazanah fiqh Hanafi kepada publik pesantren yang secara tradisi kuat memegang madzhab Syafi'i.
"Kitab ini saya tulis sebagai bentuk khidmah kepada umat. Kita hidup di era di mana sekat-sekat madzhab sering kali diperdebatkan secara tidak produktif. Saya ingin menunjukkan bahwa mendalami madzhab lain justru memperkaya cara pandang kita terhadap hukum Islam, bukan menjauhkan kita dari akar tradisi,"
— KH Zulfa Mustofa dalam sambutannya di Masjid Sunda Kelapa
Peluncuran karya ini disambut antusias oleh ratusan hadirin yang memadati ruang utama masjid bersejarah tersebut. Mereka berasal dari kalangan santri, akademisi, hingga para muhibbin yang meluangkan waktu untuk menyaksikan langsung lahirnya sebuah kitab yang penggarapannya memakan waktu bertahun-tahun.
Proses Panjang di Balik Syarah Berkualitas
Menempuh jalan sebagai seorang faqih bukanlah perkara instan. KH Zulfa Mustofa termasuk ulama yang sangat produktif dalam tradisi tulis-menulis kitab kuning, sebuah keahlian langka yang semakin minim peminat di era digital. Kitab induk yang disyarahinya, Tashil Al-Masail, adalah rujukan penting dalam mazhab Hanafi, dan kehadiran syarah berbobot ini ibarat oase di padang pasir bagi para pengkaji fiqh perbandingan.
Struktur kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa disusun dengan sangat sistematis, mencakup bab-demi-bab esensial dalam disiplin fiqh seperti thaharah, shalat, zakat, muamalah, hingga jinayah. Dengan gaya bahasa Arab yang lugas, KH Zulfa Mustofa tidak hanya menjelaskan teks asli, melainkan juga menyertakan tafsil dan tahqiq yang kuat, memperkuat argumentasi hukum dengan dalil-dalil syar'i serta pandangan ulama-ulama mu'tabarah.
Mengokohkan Tradisi Akademik di Era Digital
Di tengah derasnya arus informasi instan dan fatwa-fatwa pragmatis yang kerap beredar di media sosial, kehadiran karya deep-literacy seperti ini dianggap krusial. Para ulama yang hadir dalam acara tersebut sepakat bahwa kebutuhan akan otoritas keilmuan yang teruji melalui sanad dan kitab tetaplah mutlak. Kitab karangan KH Zulfa Mustofa ini bukan hanya bacaan, melainkan alat ukur bagi para pencari ilmu untuk memahami kompleksitas hukum Islam.
Masjid Sunda Kelapa sendiri dipilih sebagai lokasi peluncuran bukan tanpa alasan. Masjid yang menjadi ikon peradaban Islam di jantung ibu kota ini kerap menjadi saksi bisu berbagai diskursus keislaman kelas tinggi. Momen launching kitab ini turut dihadiri oleh jajaran pengurus PBNU, tokoh masyarakat, serta para duta besar negara sahabat yang menaruh minat pada studi Islam inklusif.
Selain pemaparan materi dan prosesi penyerahan simbolis kitab, acara semakin semarak dengan sesi tanya jawab interaktif. Para hadirin menggali lebih dalam tentang metodologi penulisan, tantangan dalam menginterpretasi teks-teks klasik, serta relevansi fiqh Hanafi dalam konteks keindonesiaan yang plural. KH Zulfa Mustofa dengan rendah hati menjawab setiap pertanyaan, menekankan bahwa kitab ini adalah bagian dari ikhtiar menjaga sanad keilmuan agar tidak terputus.
Peresmian kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan intelektual klasik tetap memiliki tempat terhormat di hati umat. Di saat banyak pihak berlomba mengejar modernitas, ada segelintir ulama yang memilih duduk, membaca, dan menulis—menghidupkan peradaban melalui tinta dan kertas. Langkah KH Zulfa Mustofa bukan hanya meluncurkan sebuah buku, melainkan merawat nyala keilmuan agar terus berpendar bagi generasi mendatang.
FAQ Esensial Seputar Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa
1. Apa isi utama dari kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa?
Kitab ini merupakan syarah atau penjelasan komprehensif atas kitab Tashil Al-Masail karya Syekh Abdul Wahhab Al-Hanafi, yang membahas berbagai persoalan fiqh dalam perspektif mazhab Hanafi mulai dari ibadah hingga muamalah.
2. Mengapa KH Zulfa Mustofa menulis syarah mazhab Hanafi di Indonesia yang mayoritas bermazhab Syafi'i?
Tujuannya adalah untuk membuka wawasan lintas mazhab dan memperkaya khazanah fiqh perbandingan. Menurut beliau, memahami madzhab lain merupakan bagian dari memperluas cara pandang terhadap hukum Islam secara lebih objektif dan mendalam.
3. Di mana kitab ini bisa didapatkan dan siapa target pembacanya?
Kitab ini dapat diakses melalui jaringan pesantren dan penerbit terkait. Target pembacanya adalah para santri tingkat lanjut, mahasiswa jurusan syariah, dosen, serta siapa pun yang memiliki minat mendalam terhadap kajian fiqh klasik berbasis literatur Arab.
Tags: KH Zulfa Mustofa, Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa, Masjid Sunda Kelapa, Nahdlatul Ulama, Fiqh Hanafi
Comments (0)