Kesepakatan Tercapai, Trump Masih Tunjukkan Sikap Keras
Jakarta - Putaran terbaru negosiasi teknis antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang digelar di Swiss akhirnya membuahkan kesepakatan awal. Meski secercah harapan mulai terlihat dari meja perundingan
Jakarta - Putaran terbaru negosiasi teknis antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang digelar di Swiss akhirnya membuahkan kesepakatan awal. Meski secercah harapan mulai terlihat dari meja perundingan, Presiden AS Donald Trump dilaporkan masih mempertahankan retorika ancaman yang selama ini menjadi ciri khas kebijakan luar negerinya terhadap Teheran.
Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami dari berbagai sumber pada Selasa (23/6), kedua pihak sepakat untuk membentuk sejumlah kelompok kerja negosiasi yang akan menangani isu-isu krusial, terutama terkait program nuklir dan rezim sanksi. Langkah ini menjadi penanda kemajuan signifikan dalam dialog yang selama ini berlangsung alot.
Para negosiator memutuskan bahwa empat kelompok kerja akan dibentuk: Penghentian Sanksi, Urusan Nuklir, Rekonstruksi dan Pembangunan Ekonomi, serta Pemantauan dan Implementasi
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, seperti dikutip kantor berita pemerintah Iran, IRNA. Pembentukan empat kelompok kerja ini menunjukkan bahwa pembahasan tidak lagi bersifat umum, melainkan sudah memasuki detail teknis yang menyangkut pencabutan sanksi ekonomi dan pengawasan aktivitas nuklir Iran.
Kendati demikian, atmosfer diplomasi yang mulai mencair ini tampaknya belum mampu meredam ketegangan dari pihak Gedung Putih. Menurut informasi yang dihimpun Lurusin.com, Donald Trump tetap melontarkan ancaman keras, sebuah sinyal bahwa AS tidak akan memberikan kelonggaran tanpa adanya jaminan kepatuhan yang ketat dari negara para Mullah tersebut. Sikap ambivalen ini memunculkan pertanyaan besar mengenai konsistensi arah kebijakan luar negeri AS di bawah kendali Trump, di mana negosiasi berjalan paralel dengan retorika konfrontatif.
Keempat kelompok kerja yang dibentuk akan memikul tanggung jawab besar. Kelompok Penghentian Sanksi akan fokus pada mekanisme pencabutan blokade ekonomi yang telah memukul telak perekonomian Iran. Sementara itu, kelompok Urusan Nuklir akan merumuskan batasan-batasan teknis pengayaan uranium demi menjamin program nuklir Iran tetap damai.
Yang tak kalah penting, pembentukan kelompok Rekonstruksi dan Pembangunan Ekonomi mengindikasikan bahwa kedua pihak mulai memikirkan langkah pemulihan pasca-kesepakatan. Untuk memastikan seluruh kesepakatan tidak sekadar menjadi dokumen mati, kelompok Pemantauan dan Implementasi akan bertugas mengawasi kepatuhan kedua belah pihak terhadap poin-poin yang telah dinegosiasikan di Swiss.
Para pengamat hubungan internasional menilai bahwa ancaman lanjutan dari Trump merupakan bagian dari taktik tawar-menawar untuk menekan Iran agar tidak bermain-main dalam implementasi kesepakatan. Namun, langkah ini berisiko memicu respons keras dari kalangan konservatif di Teheran yang sejak awal skeptis terhadap niat baik Washington. Publik internasional kini menanti apakah arsitektur diplomasi yang baru dibangun ini mampu bertahan di tengah terjangan ancaman yang terus menerus dikirimkan oleh Presiden AS ke-47 tersebut.
Comments (0)