Kebakaran TPA Jatiwaringin di Tangerang Memasuki Hari Kedelapan

TANGERANG — Asap putih kehitaman masih membumbung tinggi dari tumpukan sampah yang terbakar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tanger

Jul 13, 2026 - 04:23
0 0
Kebakaran TPA Jatiwaringin di Tangerang Memasuki Hari Kedelapan

TANGERANG — Asap putih kehitaman masih membumbung tinggi dari tumpukan sampah yang terbakar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (7/7/2026). Memasuki hari kedelapan, kobaran api di gunungan sampah seluas lebih dari 10 hektare itu belum juga berhasil dipadamkan sepenuhnya.

Ratusan petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran, BPBD, TNI, dan relawan terus berjibaku menjinakkan si jago merah. Sejak kebakaran besar pertama kali terjadi pada 30 Juni 2026, hingga kini baru sekitar 60 persen area yang berhasil dikendalikan apinya. Kendala utama adalah tumpukan sampah yang menggunung hingga ketinggian 15 meter, sehingga api terus menyala di bagian dalam dan sulit dijangkau.

Pemadaman Darat-Udara Terus Dikerahkan

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang, Andi Wijaya, mengatakan bahwa pihaknya telah mengerahkan 250 personel pemadam, 20 unit mobil tangki, dan 3 helikopter untuk water bombing. Setiap hari, helikopter melakukan lebih dari 50 sortie menjatuhkan air dari Waduk Karian. “Medan yang ekstrem dan arah angin yang berubah-ubah menjadi tantangan terbesar. Kami berusaha memutus jalur api agar tidak meluas ke permukiman,” ujarnya saat ditemui di posko darurat.

“Kami terus menyemprotkan air dari udara dan darat, namun api di lapisan dalam masih menyala. Butuh waktu untuk memastikan tidak ada bara tersisa,” jelas Andi.

Puluhan ribu liter air telah disiramkan, tetapi material sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana yang mudah terbakar dan menjaga api tetap hidup. Tim di lapangan juga membuat sekat bakar untuk mencegah perambatan ke area yang belum terdampak.

Dampak Kesehatan: Ratusan Warga Alami ISPA

Asap pekat yang mengandung partikel berbahaya telah menyebar ke sejumlah desa di sekitar TPA, seperti Desa Jatiwaringin, Desa Bojong, dan Desa Rawa Burung. Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat sedikitnya 380 warga mengeluhkan gangguan pernapasan, iritasi mata, dan kulit gatal-gatal. Dari jumlah tersebut, 200 kasus batuk, 120 sesak napas, dan 60 iritasi mata. Sebanyak 12 orang di antaranya harus dirujuk ke rumah sakit karena sesak napas akut.

“Bau busuk dan asapnya bikin kami susah tidur. Anak saya batuk terus, sudah tiga hari tidak masuk sekolah,” keluh Sari, warga Kampung Cikokol yang rumahnya hanya berjarak 1,5 kilometer dari TPA.

Pemerintah setempat telah membagikan ribuan masker N95 dan mendirikan tiga posko kesehatan darurat. Sekolah-sekolah di radius 2 kilometer diliburkan sementara sejak 3 Juli lalu. Sebagian warga dari kampung terdekat memilih mengungsi ke rumah kerabat atau tenda darurat yang disediakan pemerintah desa untuk menghindari paparan asap berkepanjangan.

Ancaman Lingkungan yang Tak Bisa Diabaikan

Pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ratna Dewi, mengingatkan bahwa pembakaran sampah terbuka menghasilkan dioksin, furan, dan partikel halus (PM2.5) yang bersifat karsinogenik. “Masyarakat yang terpapar dalam jangka panjang berisiko tinggi terkena kanker, gangguan pernapasan kronis, dan penurunan fungsi paru,” paparnya. Pantauan alat ukur kualitas udara di sekitar TPA menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 250 mikrogram per meter kubik, jauh di atas ambang batas aman 65 mikrogram.

Selain polusi udara, air lindi (leachate) yang bercampur dengan air pemadaman dikhawatirkan mencemari sumur warga dan aliran sungai di sekitar TPA. Dinas Lingkungan Hidup telah mengambil sampel untuk uji kualitas air dan menyiagakan tangki air bersih bagi warga sebagai langkah antisipasi.

Evaluasi Tata Kelola Sampah yang Mendesak

Kebakaran ini kembali menyoroti persoalan pengelolaan sampah di TPA Jatiwaringin yang sudah overload. Data Dinas Lingkungan Hidup menunjukkan, TPA yang dirancang dengan kapasitas ideal 800 ton per hari ini menerima lebih dari 1.300 ton sampah setiap hari dari Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Tangerang Selatan. Gunungan sampah bahkan sudah melampaui daya tampung hingga 300 persen. Ini bukan kali pertama TPA Jatiwaringin terbakar—pada 2023 kebakaran serupa melanda selama lima hari, namun skala kali ini jauh lebih besar.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Budi Santoso, menyatakan bahwa penyebab pasti kebakaran masih diselidiki, namun dugaan kuat mengarah pada akumulasi gas metana yang tersulut puntung rokok atau cuaca panas ekstrem. “Kami akan mengevaluasi sistem pembuangan dan mempercepat rencana pembangunan TPA baru yang lebih modern dengan teknologi sanitary landfill,” janjinya. Anggota DPRD Kabupaten Tangerang dari Komisi C, Hadi Susanto, mendesak pemerintah daerah segera menetapkan status darurat dan mengalokasikan anggaran untuk relokasi warga jika diperlukan. “Ini bukan bencana alam biasa, ini akibat kelalaian kita dalam mengelola sampah. Harus ada langkah konkret,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, petugas masih bekerja tanpa henti. Pemerintah Kabupaten Tangerang berencana mengajukan status darurat bencana lingkungan jika api belum padam dalam tiga hari ke depan. Sementara itu, warga hanya bisa pasrah dan berharap hujan deras segera turun membantu meredakan bara yang tak kunjung mati.

[SOCIAL_TWEET]: Asap tebal dari TPA Jatiwaringin masih menyelimuti permukiman di hari kedelapan. Ratusan warga alami ISPA. Pemadaman darat-udara terus dilakukan. #KebakaranTPA #Tangerang #DaruratLingkungan[SOCIAL_TG]: 🔥 Api di TPA Jatiwaringin masih berkobar! 380 warga alami gangguan napas. Petugas terus berjibaku. Info lengkap di sini 👇

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User