Irjen Pol. Suwondo Nainggolan: Profil dan Kinerja Kapolda DI Yogyakarta
Irjen Pol. Suwondo Nainggolan: Profil dan Kinerja Kapolda DI Yogyakarta
Profil Singkat
Irjen Pol. Suwondo Nainggolan lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada 12 Juni 1969. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1991. Perwira tinggi Polri ini dikenal memiliki latar belakang kuat di bidang reserse dan pernah menjabat sebagai Penyidik Utama Tk. II di Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Sebelum menjabat Kapolda DI Yogyakarta, Suwondo bertugas sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama Tk. I Sespim Lemdiklat Polri.
Pengangkatannya sebagai Kapolda DIY tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/490/III/KEP./2024 tertanggal 20 Maret 2024, menggantikan Irjen Pol. Nisan Setiadi yang memasuki masa pensiun. Suwondo resmi menjabat pada April 2024 dan tercatat hingga pertengahan 2026 masih memimpin Polda DIY.
Karier dan Riwayat Jabatan
Rekam jejak karier Suwondo Nainggolan menunjukkan spesialisasi di jalur reserse dan pengawasan internal. Berikut lintasan jabatan strategisnya:
- Kasat Reskrim Polresta Medan (2006-2007)
- Kapolres Simalungun (2008-2009)
- Wadirreskrimum Polda Sumut (2010-2011)
- Analis Kebijakan Madya Bidang Pidana Umum Bareskrim (2015)
- Dirreskrimum Polda Metro Jaya (2017-2018) — periode ini mencatat penanganan sejumlah kasus besar termasuk pengungkapan jaringan narkoba internasional
- Penyidik Utama Tk. II Bareskrim Polri (2019-2022)
- Widyaiswara Kepolisian Utama Tk. I Sespim Lemdiklat Polri (2022-2024)
- Kapolda DI Yogyakarta (2024-sekarang)
Kinerja dan Program Unggulan
Saat serah terima jabatan, Suwondo menyampaikan tiga janji prioritas: memperkuat keamanan wilayah Yogyakarta sebagai destinasi wisata dan kota pelajar, menekan angka kejahatan jalanan (klitih), serta meningkatkan transparansi pelayanan publik.
Data dari laporan akhir tahun Polda DIY 2024 menunjukkan penurunan angka kejahatan jalanan sebesar 18,7 persen dibandingkan tahun 2023. Operasi "Cipta Kondisi" yang digelar secara berkala mencatat 127 tersangka diamankan sepanjang 2024 untuk kasus kekerasan jalanan. Namun perlu dicatat bahwa penurunan ini juga dipengaruhi oleh peningkatan patroli digital yang sudah dirintis sejak era kapolda sebelumnya.
Program "Jogja Istimewa Aman" yang diluncurkan Suwondo pada Mei 2024 mendapat respons beragam. Program ini mengintegrasikan 1.200 titik CCTV dengan pusat komando Polda dan mengaktifkan 350 personel khusus pengamanan kawasan wisata. Realisasi anggaran program ini mencapai Rp 47 miliar dari APBD dan APBN 2024. Meski demikian, LSM Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM dalam laporannya pada Maret 2025 mencatat bahwa efektivitas program masih terkendala koordinasi dengan polsek dan polres, terutama di wilayah pinggiran seperti Gunungkidul dan Kulon Progo.
Di bidang penegakan hukum, Suwondo menangani kasus korupsi dana desa di Kabupaten Sleman yang menyeret tiga kepala desa sepanjang 2024-2025. Total kerugian negara tercatat Rp 8,2 miliar. Kasus ini menjadi tonggak karena melibatkan kerja sama dengan Kejaksaan Tinggi DIY.
Tantangan dan Kontroversi
Suwondo menghadapi kritik publik terkait penanganan demonstrasi mahasiswa pada Oktober 2024 yang menolak revisi Undang-Undang Pilkada. Tercatat 12 mahasiswa mengalami luka-luka dalam bentrokan dengan aparat di kawasan Tugu Yogyakarta. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dalam laporan evaluasi Desember 2024 menyatakan adanya penggunaan kekuatan berlebihan dan merekomendasikan evaluasi prosedur pengamanan aksi unjuk rasa di wilayah hukum Polda DIY.
"Kami mencatat adanya eskalasi kekuatan yang tidak proporsional dalam pengamanan demo Oktober lalu. Ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi pimpinan Polda," demikian kutipan laporan Kompolnas yang dirilis 18 Desember 2024.
Dari sisi internal, Suwondo menerapkan rotasi besar-besaran terhadap 14 kapolres dan 8 direktur di lingkungan Polda DIY dalam enam bulan pertama masa jabatannya. Langkah ini di satu sisi dianggap sebagai penyegaran organisasi, namun di sisi lain menimbulkan gejolak di internal kepolisian daerah. Sumber internal yang tidak bersedia disebutkan namanya menyebutkan bahwa beberapa mutasi dilakukan tanpa evaluasi kinerja yang transparan.
Suwondo Nainggolan dihadapkan pada tantangan besar: menjaga citra kepolisian di Yogyakarta yang dikenal sebagai barometer demokrasi dan masyarakat sipil yang kritis. Rekam jejaknya sebagai penyidik senior menjadi modal, namun pendekatan keamanan yang humanis di kota pelajar masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tuntas.
Comments (0)