JAKARTA — Indonesia menempati posisi ketiga dunia dalam jumlah kasus kusta baru,
Beban Kasus dan Data Nasional Menurut laporan Weekly Epidemiological Record WHO edisi September 2024, tiga negara penyumbang kasus kusta terbanyak global a
Beban Kasus dan Data Nasional
Menurut laporan Weekly Epidemiological Record WHO edisi September 2024, tiga negara penyumbang kasus kusta terbanyak global adalah India, Brasil, dan Indonesia. Pada tahun 2023, Indonesia melaporkan lebih dari 16.000 kasus baru kusta, dengan proporsi kasus anak-anak sekitar 9–10 persen — menandakan rantai penularan yang masih aktif di komunitas. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa lima provinsi dengan beban tertinggi adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. Meskipun program eliminasi kusta secara nasional telah berjalan sejak 2000-an, sejumlah kabupaten/kota masih mencatat prevalensi di atas satu per 10.000 penduduk.
Stigma yang Memperparah
Di luar angka statistik, penyintas kusta menghadapi persoalan sosial yang tidak kalah berat. Stigma berlapis — mulai dari diskriminasi di tempat kerja, pengusiran dari keluarga, hingga isolasi oleh tetangga — sering kali dialami bahkan setelah pengobatan selesai. Sebuah studi yang diterbitkan di BMC Public Health pada 2022 menemukan bahwa lebih dari 50% penyintas kusta di Indonesia mengalami setidaknya satu bentuk diskriminasi sosial. Hal ini menyebabkan keterlambatan diagnosis karena rasa malu dan takut, yang pada akhirnya memperbesar risiko kecacatan.
“Stigma adalah penyakit kedua yang diderita pasien. Banyak yang menyembunyikan gejala hingga bertahun-tahun karena khawatir dikucilkan. Padahal, pengobatan dini dengan Multi-Drug Therapy (MDT) dapat sembuh total dan mencegah cacat,” kata dr. Siti Nadia Tarmizi, Plt. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, dalam temu media di Jakarta (12/6).
Upaya Eliminasi dan Target 2030
Pemerintah Indonesia telah menandatangani komitmen global Global Leprosy Strategy 2021–2030 dengan target nol kasus baru tingkat kabupaten/kota pada 2030. Strategi tersebut bertumpu pada:
- Deteksi aktif dan pemeriksaan kontak serumah.
- Pemberian MDT gratis di seluruh puskesmas.
- Pelibatan kader dan tokoh masyarakat untuk mengurangi stigma.
- Rehabilitasi sosial-ekonomi bagi penyintas, termasuk pelatihan keterampilan.
Meskipun demikian, tantangan pendanaan dan distribusi tenaga kesehatan di daerah terpencil membuat kemajuan berjalan lambat. WHO dan Kemenkes berharap pendekatan person-centered dan kampanye publik yang masif dapat menurunkan stigma sekaligus mempercepat eliminasi.
[TAGS]: kusta, WHO, stigma, Indonesia, penyakit tropis terabaikan [SOCIAL_TWEET]: Indonesia menempati posisi ke-3 dunia kasus baru kusta versi WHO. Di balik 16.000+ kasus per tahun, stigma sosial masih membelenggu penyintas. Pengobatan gratis ada, tapi ketakutan lebih kuat. #HapusStigmaKusta #EliminasiKusta2030 #SehatIndonesia [SOCIAL_FB]: Faktanya, Indonesia masih jadi negara ketiga dengan kasus kusta terbanyak di dunia. Tapi masalahnya bukan hanya soal bakteri — stigma diam-diam justru memperparah kondisi penyintas. Apa yang sebenarnya terjadi? Klik untuk membaca lengkapnya. [SOCIAL_TG]: 🇮🇩 Indonesia peringkat 3 dunia kasus kusta. 16.000+ kasus baru per tahun. Stigma masih menghantui penyintas. Pengobatan gratis ada, tapi… baca selengkapnya. 🦠⚠️ [SOCIAL_THREADS]: Kenyataan pahit: Indonesia nomor 3 dunia untuk kasus kusta baru. Di balik angka, ada cerita tentang orang-orang yang dikucilkan karena penyakit yang sebenarnya bisa sembuh total. Stigma itu lebih menular dari bakterinya, dan itu PR kita bersama.
Comments (0)