Irtja Tangahu Hadju Luncurkan Buku Gorontalo: Takdir Pohala'a di Usia 89 Tahun
Panggung budaya Gorontalo baru saja mencatat sejarah penting. Irtja Tangahu Hadju, seorang sesepuh yang telah lama berkecimpung dalam dunia akademik dan adat, resmi memperkenalkan mahakaryanya kepada ...
Panggung budaya Gorontalo baru saja mencatat sejarah penting. Irtja Tangahu Hadju, seorang sesepuh yang telah lama berkecimpung dalam dunia akademik dan adat, resmi memperkenalkan mahakaryanya kepada publik. Buku setebal ratusan halaman itu diberi judul Gorontalo: Takdir Pohala’a. Peluncuran yang dilangsungkan secara sederhana namun khidmat ini sekaligus menjadi perayaan atas rampungnya penelitian mendalam selama lebih dari dua dasawarsa.
Hadir di tengah keluarganya, Hadju yang kini berusia 89 tahun menyampaikan bahwa buku tersebut bukan sekadar kumpulan narasi sejarah. Lebih dari itu, buku ini merupakan usaha rekonstruksi ingatan kolektif masyarakat Gorontalo tentang asal-usul dan sistem pemerintahan tradisional mereka yang dikenal dengan sebutan Pohala’a. Konsep Pohala’a merupakan struktur konfederasi kerajaan-kerajaan kecil yang pernah berjaya di jazirah Gorontalo sebelum masa kolonial.
Riset Marathon Dua Puluh Tahun
Proses penggarapan buku ini bisa disebut sebagai marathon intelektual. Irtja Tangahu Hadju mengawali risetnya pada awal 2000-an. Ia melakukan penelusuran lapangan ke pedalaman Limboto, Suwawa, Bolango, dan Atinggola yang merupakan wilayah-wilayah cikal bakal Pohala’a. Wawancara dengan para tokoh adat dan pemegang tradisi lisan menjadi fondasi awal pengumpulan data. Tidak jarang ia harus mendatangi narasumber yang sudah lanjut usia untuk menggali ingatan sebelum mereka berpulang membawa serta pengetahuan yang tak terdokumentasi.
Selain tradisi lisan, Hadju juga menyelami arsip-arsip kuno. Ia menelusuri dokumen-dokumen peninggalan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) serta catatan para misionaris dan penjelajah Eropa abad ke-17 hingga ke-19. Perpustakaan Nasional di Jakarta dan Arsip Nasional menjadi tempat yang puluhan kali ia kunjungi. Semua sumber itu kemudian dijalin menjadi sebuah narasi yang koheren, menghubungkan mitos, legenda, dan fakta historis yang terverifikasi.
Menjaga Identitas di Tengah Arus Globalisasi
Hadju menyadari bahwa generasi muda Gorontalo semakin tercerabut dari akar budayanya. Arus globalisasi dan modernisasi sering kali membuat sejarah lokal dipandang sebelah mata. Melalui buku Gorontalo: Takdir Pohala’a, ia ingin menunjukkan bahwa identitas budaya bukanlah beban, melainkan peta jalan untuk memahami posisi masyarakat di masa kini. Buku ini menjelaskan secara gamblang bagaimana sistem nilai dan struktur politik tradisional mampu menciptakan tatanan sosial yang harmonis selama berabad-abad.
Salah satu bagian menarik dalam buku ini adalah uraian tentang olohuta dan pohutu, yaitu mekanisme musyawarah dan pembagian peran dalam pemerintahan adat. Menurut Hadju, kearifan lokal semacam ini relevan untuk dihidupkan kembali dalam konteks demokrasi modern di tingkat lokal. Buku ini pun dilengkapi dengan peta, foto-foto dokumentasi, serta glosarium istilah adat untuk memudahkan pembaca awam.
Proses Kreatif di Balik Layar
Menariknya, penulisan buku ini tidak selalu berjalan mulus. Hadju mengaku beberapa kali mengalami kebuntuan saat menyusun narasi karena minimnya sumber tertulis untuk beberapa periode penting. Untuk mengatasinya, ia mengandalkan metode komparasi dengan sejarah kerajaan-kerajaan tetangga seperti Bolaang Mongondow dan Ternate yang memiliki hubungan diplomatik dan perkawinan dengan kerajaan-kerajaan di Gorontalo. Pendekatan lintas disiplin ini membuat buku Gorontalo: Takdir Pohala’a memiliki perspektif yang lebih luas dan tidak bersifat isolatif.
Hadju juga melibatkan para ahli bahasa untuk memastikan bahwa istilah-istilah adat yang digunakan dalam buku ini telah sesuai dengan kaidah linguistik setempat. Beberapa naskah kuno berbahasa Gorontalo dan Melayu Pasar yang ia temukan pun sempat diterjemahkan ulang oleh tim kecil yang ia bentuk. Kerja kolaboratif ini berlangsung diam-diam selama bertahun-tahun hingga akhirnya naskah final siap untuk diterbitkan oleh sebuah penerbit independen di Kota Gorontalo.
Apresiasi dari Akademisi dan Pemerintah Daerah
Peluncuran buku ini mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Sejumlah sejarawan dari universitas negeri di Sulawesi menyatakan bahwa karya Hadju mengisi kekosongan literatur sejarah Gorontalo yang selama ini masih minim. Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui dinas terkait juga menyambut baik penerbitan ini dan menyatakan komitmennya untuk menjadikan buku ini sebagai referensi dalam pendidikan muatan lokal di sekolah-sekolah.
Tidak sedikit yang mengagumi semangat Hadju yang tetap produktif di usia senja. Dedikasinya menjadi teladan bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi peradaban. Hadju sendiri berharap agar bukunya dapat memicu minat peneliti muda untuk menggali lebih dalam kekayaan sejarah daerah mereka. Baginya, setiap suku di Nusantara memiliki Pohala’a versinya masing-masing yang menunggu untuk diungkapkan kembali.
Warisan untuk Generasi Mendatang
Kini, Gorontalo: Takdir Pohala’a bukan hanya menjadi koleksi pribadi Hadju dan keluarganya. Buku ini telah didistribusikan ke sejumlah perpustakaan daerah dan nasional. Karya ini diharapkan menjadi warisan intelektual yang akan terus dibaca oleh anak cucu. Irtja Tangahu Hadju telah membuktikan bahwa tulisan, ketika didasari oleh kejujuran riset dan cinta pada tanah kelahiran, mampu melampaui batas usia dan waktu.
Momentum peluncuran buku ini sekaligus menjadi panggilan bagi masyarakat Gorontalo di mana pun berada untuk tidak melupakan asal-usul mereka. Sebab, sebagaimana tertuang dalam pengantar buku, takdir sebuah bangsa terletak pada bagaimana ia menghormati dan memahami masa lalunya. Pohala’a bukan sekadar kenangan, melainkan fondasi masa depan.
Baca juga:
Comments (0)