Hadiri Peringatan PD II, PM Jepang Diteriaki Demonstran yang Marah

Tokyo - Suasana peringatan Perang Dunia II di Jepang berubah menjadi ajang unjuk rasa pada Selasa (23/6). Perdana Menteri Sanae Takaichi mendapat sambutan keras dari para demonstran yang meneriakinya

Jul 07, 2026 - 23:56
0 0
Hadiri Peringatan PD II, PM Jepang Diteriaki Demonstran yang Marah

Tokyo - Suasana peringatan Perang Dunia II di Jepang berubah menjadi ajang unjuk rasa pada Selasa (23/6). Perdana Menteri Sanae Takaichi mendapat sambutan keras dari para demonstran yang meneriakinya saat menghadiri acara tersebut. Kemarahan massa ini dipicu oleh pergeseran kebijakan Jepang yang semakin menjauh dari prinsip pasifisme yang telah menjadi landasan negara itu selama beberapa dekade terakhir.

Demonstran menyuarakan penolakan terhadap langkah pemerintahan Takaichi yang dinilai mengkhianati semangat perdamaian yang diusung pasca-kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. Gelombang protes ini mencuat seiring dengan keputusan pemerintah Jepang pada April lalu yang melonggarkan regulasi ekspor senjata mematikan, sebuah perubahan signifikan yang menandai transformasi kebijakan pertahanan negeri matahari terbit itu.

Takaichi sendiri secara terbuka telah menyatakan keinginannya untuk merevisi Konstitusi Jepang, khususnya pasal yang membatasi kapasitas militer negara. Sosoknya telah lama dikenal sebagai tokoh garis keras dalam isu keamanan nasional. Sikap tegas Takaichi ini kembali menjadi sorotan setelah pernyataannya tentang Taiwan tahun lalu memicu kemarahan China, menegaskan posisinya yang vokal dalam geopolitik regional.

Kontroversi Kebijakan Keamanan Jepang

Pelaksanaan acara peringatan yang seharusnya berlangsung khidmat tersebut terganggu oleh aksi demonstrasi yang merefleksikan keresahan sebagian warga Jepang. Mereka khawatir perubahan kebijakan pertahanan ini akan menyeret Jepang ke dalam konflik internasional yang sebelumnya dihindari. Prinsip pasifis yang dipegang teguh selama ini dianggap sebagai pelajaran berharga dari sejarah kelam perang.

Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, ketegangan di lokasi acara meningkat ketika Takaichi tiba untuk memberikan pidato. Para demonstran yang didominasi oleh kelompok masyarakat sipil dan aktivis perdamaian spontan menyuarakan penolakan, menciptakan suasana yang jauh dari kondusif. Aparat keamanan yang berjaga terpaksa meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi eskalasi situasi yang tidak diinginkan.

Kebijakan pelonggaran ekspor senjata yang diambil pemerintahan Takaichi merupakan bagian dari aliansi strategis dengan Amerika Serikat. Langkah ini memungkinkan Jepang memainkan peran lebih aktif dalam kerja sama pertahanan regional. Namun bagi para pengkritiknya, perubahan fundamental ini justru mengaburkan identitas Jepang sebagai bangsa yang menjunjung tinggi perdamaian dan menolak keterlibatan dalam aktivitas militer ofensif.

Para pengamat menilai bahwa penolakan terhadap revisi konstitusi dan kebijakan militer agresif akan terus membayangi pemerintahan Takaichi ke depan, seiring menguatnya suara-suara yang menginginkan Jepang tetap setia pada jalur pasifisme yang telah mengantarkan negara tersebut pada era kemakmuran dan stabilitas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
oky-pratista

Editor Edukasi Media. Editor konten literasi media bagi pembaca.

Comments (0)

User