MANILA — Departemen Kesehatan Filipina (DOH) mencatat sebanyak 521 kasus leptospirosis di rumah sakit-rumah sakit milik DOH di wilayah Metro Manila. Dari jumlah tersebut, mayoritas pasien, yakni 158 kasus, saat ini tengah menjalani perawatan intensif di San Lazaro Hospital, rumah sakit rujukan utama penyakit menular di negara itu.
Angka ini diumumkan dalam konferensi pers pada Jumat yang dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan DOH, Dr. Gloria Balboa. Ia menegaskan bahwa lonjakan kasus ini tidak bisa dianggap remeh, terutama karena sebagian besar wilayah Metro Manila baru saja dilanda banjir akibat curah hujan tinggi yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
"Kami mencatat 521 kasus leptospirosis di rumah sakit-rumah sakit DOH di Metro Manila, dengan mayoritas pasien saat ini dirawat di San Lazaro Hospital. Secara kumulatif, total kasus leptospirosis di Filipina telah mencapai 5.486 kasus," ujar Dr. Gloria Balboa dalam jumpa pers.
San Lazaro Hospital Jadi Pusat Beban Terberat
San Lazaro Hospital, yang selama ini dikenal sebagai fasilitas kesehatan rujukan untuk penyakit menular dan tropis di Filipina, menjadi rumah sakit dengan beban pasien tertinggi. Hampir sepertiga dari total kasus di Metro Manila terkonsentrasi di fasilitas ini, menunjukkan bahwa lonjakan kasus terjadi secara terpusat di kawasan perkotaan yang padat penduduk dan rentan banjir.
Pihak DOH sendiri belum merinci secara lengkap kondisi pasien yang dirawat, termasuk tingkat keparahan dan angka kematian. Namun, para ahli kesehatan masyarakat mengingatkan bahwa keterlambatan penanganan leptospirosis dapat berujung pada komplikasi serius, seperti kerusakan ginjal, gagal hati, hingga meningitis.
Apa Itu Leptospirosis dan Bagaimana Penularannya?
Leptospirosis adalah penyakit bakteri yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung dengan air, tanah, atau lumpur yang telah terkontaminasi urine tikus atau hewan lain yang terinfeksi. Luka terbuka di kulit, selaput lendir, hingga mata menjadi pintu masuk utama bakteri ini ke dalam tubuh manusia.
Risiko penularan meningkat drastis ketika banjir melanda, karena air banjir yang menggenang kerap membawa bakteri leptospira dari got, saluran drainase, hingga permukiman kumuh. Kondisi inilah yang membuat kasus leptospirosis selalu melonjak setiap musim hujan di Filipina, khususnya di Metro Manila yang memiliki kepadatan penduduk sangat tinggi.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
DOH mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala khas leptospirosis setelah terendam banjir, antara lain:
- Demam tinggi mendadak yang berlangsung lebih dari dua hari
- Sakit kepala hebat yang tidak kunjung reda
- Nyeri otot, terutama di bagian betis dan punggung
- Mata merah atau konjungtivitis
- Kulit dan mata menguning (jaundice), tanda awal gangguan hati
- Penurunan produksi urine, indikasi awal gangguan ginjal
Fakta kunci: Leptospirosis dapat diobati secara efektif dengan antibiotik jika ditangani pada tahap awal. Sebaliknya, keterlambatan pengobatan meningkatkan risiko komplikasi fatal, termasuk gagal ginjal akut yang membutuhkan cuci darah seumur hidup.
Langkah Pencegahan di Tengah Musim Banjir
Menghadapi lonjakan kasus ini, para tenaga kesehatan menekankan pentingnya langkah pencegahan, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan banjir. Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain:
- Selalu memakai sepatu bot karet saat menerjang atau beraktivitas di genangan air banjir
- Menghindari berenang atau bermain di air banjir, terutama bagi anak-anak
- Menutup luka terbuka dengan plester kedap air sebelum bersentuhan dengan air
- Menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan pemberantasan sarang tikus di sekitar permukiman
- Segera mandi dan membersihkan tubuh dengan sabun setelah terendam banjir
- Segera ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala awal, untuk mendapatkan pengobatan pencegahan dengan antibiotik
Waspada, Musim Hujan Belum Berakhir
Lonjakan kasus leptospirosis kali ini menjadi pengingat bahwa ancaman kesehatan di musim hujan tidak hanya datang dari demam berdarah. Pemerintah Filipina diharapkan memperkuat sistem kewaspadaan dini, memastikan ketersediaan stok antibiotik di rumah sakit, serta menggencarkan edukasi kesehatan di komunitas-komunitas rawan banjir.
Bagi warga Metro Manila, pesan DOH sangat jelas: jangan pernah menyepelekan gejala setelah terendam banjir. Penanganan dini adalah kunci utama untuk mencegah leptospirosis berubah menjadi penyakit yang mengancam jiwa.
Comments (0)