Djoko Setijowarno, Akademisi Teknik Sipil yang Aktif Mengadvokasi Transportasi Publik
Di tengah dinamika mobilitas perkotaan Indonesia yang kian kompleks, sosok bernama Djoko Setijowarno terus menyuarakan pentingnya perencanaan transportasi yang berkeadilan dan berwawasan lingkungan. S...
Di tengah dinamika mobilitas perkotaan Indonesia yang kian kompleks, sosok bernama Djoko Setijowarno terus menyuarakan pentingnya perencanaan transportasi yang berkeadilan dan berwawasan lingkungan. Sebagai akademisi yang malang melintang di ranah teknik sipil, ia tak hanya mengajar di ruang kuliah, tetapi juga berkecimpung langsung dalam lingkar kebijakan nasional melalui posisinya di Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).
Latar Belakang Keilmuan yang Kokoh
Djoko Setijowarno menapaki perjalanan akademiknya di Program Studi Teknik Sipil, Unika Soegjapranata, di mana ia mengabdikan diri sebagai pengajar dan peneliti. Fokus utamanya adalah rekayasa transportasi, dengan perhatian besar pada desain jalan berkeselamatan, manajemen lalu lintas perkotaan, serta integrasi angkutan umum massal. Pengalaman panjangnya sebagai dosen menjadikannya rujukan bagi banyak mahasiswa yang ingin mendalami isu mobilitas berkelanjutan. Kepakarannya juga tercermin dari berbagai riset yang ia publikasikan, mulai dari analisis dampak kemacetan hingga evaluasi efektivitas jalur pedestrian.
Kontribusi Melalui Masyarakat Transportasi Indonesia
Peran Djoko Setijowarno semakin strategis ketika ia bergabung sebagai Dewan Penasehat di MTI, sebuah organisasi profesi dan keahlian yang menjadi mitra pemerintah dalam merumuskan kebijakan transportasi. Di forum ini, ia sering memberikan telaah kritis terhadap proyek-proyek strategis, mulai dari pembangunan moda raya terpadu (MRT) hingga revitalisasi angkutan perkotaan berbasis bus. Suaranya kerap hadir dalam diskusi publik, seminar, dan dengar pendapat di DPR, menekankan perlunya pendekatan holistik yang tidak hanya mengejar kecepatan, melainkan juga keselamatan, kenyamanan, dan aksesibilitas bagi seluruh lapisan masyarakat.
Gagasan transformatifnya berulang kali disampaikan kepada pemangku kepentingan, yakni bahwa transportasi umum bukan sekadar moda alternatif, melainkan tulang punggung keadilan sosial di kota-kota besar.Gagasan Besar untuk Transportasi Nasional
Salah satu isu yang paling sering menjadi sorotan dari Djoko Setijowarno adalah urgensi perbaikan tata kelola angkutan umum berbasis jalan. Ia mencatat bahwa lebih dari separuh perjalanan masyarakat dilakukan dengan sepeda motor, tetapi infrastruktur dan regulasi masih jauh dari memadai untuk melindungi pengguna. Dalam studinya, ia menekankan perlunya kebijakan berani membatasi penggunaan kendaraan pribadi sembari meningkatkan frekuensi dan jangkauan layanan bus kota yang terintegrasi. Dengan merujuk data kecelakaan lalu lintas yang tinggi, ia mendorong pemerintah menerapkan standar keselamatan yang lebih ketat, termasuk desain halte yang melindungi pejalan kaki dan pesepeda.
Kolaborasi Lintas Sektor
Pendekatan Djoko Setijowarno tidak bersifat tunggal. Ia meyakini bahwa masalah kemacetan dan polusi udara tidak bisa diselesaikan hanya oleh Kementerian Perhubungan, melainkan butuh sinergi antara pemerintah daerah, operator transportasi, pengembang properti, dan masyarakat sipil. Lewat MTI, ia kerap memediasi dialog antarpihak, merumuskan rekomendasi berbasis bukti, dan mendorong transparansi data pergerakan penduduk. Posisinya di Unika Soegjapranata juga memungkinkannya melibatkan mahasiswa dalam riset aksi, seperti survei persepsi pengguna angkutan umum yang hasilnya dipakai sebagai dasar advokasi.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Di kampus, Djoko Setijowarno dikenal sebagai pembimbing yang memotivasi mahasiswa untuk melihat teknik sipil bukan sekadar soal struktur beton, melainkan juga tentang rekayasa sosial yang berdampak luas. Ia mendorong mereka untuk terjun langsung meneliti persoalan sehari-hari, seperti antrean panjang di terminal atau ketidaknyamanan pejalan kaki di trotoar sempit. Dengan bimbingannya, sejumlah skripsi dan tesis berhasil melahirkan ide-ide solutif yang kemudian dipresentasikan di forum akademik nasional. Semangatnya ini merupakan cerminan dari keyakinan bahwa transportasi yang baik lahir dari perencanaan yang berbasis pada kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar ambisi teknokratik.
Baca juga:
Comments (0)