Cek Fakta Liputan6.com: Video Erupsi Anak Krakatau Hoaks

Sebuah tangkapan layar yang menampilkan potongan video Gunung Anak Krakatau tengah mengeluarkan kolom abu dan lava pijar kembali ramai di media sosial. Pes

Jul 13, 2026 - 18:22
0 1
Cek Fakta Liputan6.com: Video Erupsi Anak Krakatau Hoaks

Sebuah tangkapan layar yang menampilkan potongan video Gunung Anak Krakatau tengah mengeluarkan kolom abu dan lava pijar kembali ramai di media sosial. Pesan berantai di WhatsApp dan unggahan di Facebook menyebutkan bahwa gunung api di Selat Sunda itu sedang erupsi dahsyat, mengancam wilayah pesisir. Namun, setelah ditelusuri oleh tim Cek Fakta Liputan6.com, klaim tersebut dipastikan tidak benar. Video yang digunakan merupakan rekaman lama yang disebarkan dengan narasi menyesatkan, memanfaatkan ketakutan publik terhadap aktivitas vulkanik di Indonesia.

Fenomena penyebaran informasi keliru tentang bencana alam bukanlah hal baru. Di era digital, dokumen visual seperti video dan foto kerap dipakai untuk membangun narasi palsu yang cepat viral. Kasus klaim erupsi Anak Krakatau kali ini menjadi contoh bagaimana misinformasi kebencanaan dapat menimbulkan keresahan massal hanya dalam hitungan jam. Liputan6.com memutuskan untuk menelusuri kebenaran video tersebut menggunakan pendekatan jurnalistik berbasis data dan verifikasi ahli.

Kronologi Penyebaran Klaim

Klaim bermula dari sebuah unggahan di grup Facebook pada 11 Maret 2025. Akun anonim membagikan tangkapan layar video yang menunjukkan gunung api dengan letusan strombolian, memuntahkan lava pijar dan abu tebal ke langit malam. Narasi yang menyertai unggahan berbunyi, "Anak Krakatau erupsi lagi, warga pesisir diminta waspada tsunami." Dalam waktu singkat, unggahan itu dibagikan lebih dari 5.000 kali dan menyebar ke platform X serta Telegram.

Tim Cek Fakta Liputan6.com menemukan bahwa video yang sama pernah viral pada bulan Desember 2018, saat Anak Krakatau benar-benar mengalami erupsi dan memicu longsoran bawah laut yang menyebabkan tsunami di Selat Sunda. Dengan menggunakan alat pencarian gambar terbalik (reverse image search), teridentifikasi bahwa potongan video tersebut berasal dari rekaman dokumentasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat kejadian lima tahun lalu. Tidak ada indikasi bahwa kejadian serupa sedang berlangsung pada Maret 2025.

Verifikasi dengan Sumber Resmi

Untuk memastikan status terkini Gunung Anak Krakatau, Liputan6.com menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui sambungan telepon. Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api PVMBG, Dr. Andi Suryono, menegaskan bahwa gunung tersebut dalam keadaan normal. Berikut kutipan pernyataannya:

"Berdasarkan data pemantauan instrumental kami hingga 12 Maret 2025 pukul 14.00 WIB, Gunung Anak Krakatau berada pada Level I (Normal). Tidak terdeteksi adanya kegempaan erupsi maupun tremor menerus yang mengindikasikan peningkatan aktivitas magmatik. Video yang beredar adalah dokumentasi tahun 2018 dan tidak mencerminkan kondisi aktual saat ini," jelasnya.

PVMBG menambahkan bahwa meskipun kegempaan vulkanik dangkal masih terekam sesekali—sekitar 2-3 kali per hari—aktivitas tersebut adalah bagian dari proses pertumbuhan tubuh gunung api muda dan tidak berpotensi menyebabkan erupsi besar dalam waktu dekat. Masyarakat diminta untuk selalu mengacu pada informasi resmi dari PVMBG atau BNPB melalui kanal resmi mereka.

Ciri-Ciri Video Hoaks yang Perlu Diwaspadai

Dari penelusuran ini, dapat diidentifikasi sejumlah karakteristik umum video hoaks kebencanaan yang sering beredar. Berikut tabel perbandingan antara video asli dokumentasi resmi dan video hoaks yang disebarkan tanpa konteks:

AspekVideo Asli (2018)Video Hoaks (2025)
SumberBNPB/PVMBG, metadata lengkapAkun anonim, tanpa metadata
NarasiPeringatan dini dan data kejadianMenakut-nakuti, tidak ada rujukan
Waktu Kejadian22 Desember 2018, pukul 21.03 WIBDiklaim "baru terjadi"
Konfirmasi AhliAdaTidak ada
Kualitas VisualResolusi tinggi, ada logo lembagaResolusi rendah, logo dihapus

Selain itu, video hoaks seringkali dipotong sedemikian rupa untuk menghilangkan bagian yang dapat memberi petunjuk waktu. Misalnya, dalam video yang ditelusuri kali ini, bagian yang menunjukkan siaran langsung televisi dengan teks "Breaking News Erupsi Anak Krakatau 2018" sengaja di-crop. Modus seperti ini bertujuan mengelabui penonton dan membangun urgensi palsu.

Dampak Misinformasi Vulkanik

Penyebaran informasi keliru tentang erupsi gunung api tidak hanya menimbulkan ketakutan, tetapi juga dapat mengganggu upaya mitigasi bencana riil. Ketika masyarakat terbiasa menerima hoaks, kepercayaan terhadap peringatan dini resmi bisa menurun—sebuah fenomena yang dikenal sebagai "alert fatigue". Dr. Andi menambahkan, "Setiap kali hoaks erupsi viral, kami harus mengeluarkan klarifikasi yang justru menyita sumber daya yang seharusnya dipakai untuk pemantauan aktif. Ini adalah bahaya sekunder dari misinformasi."

Dari sisi sosial, kepanikan akibat hoaks juga bisa memicu pergerakan massa yang tidak perlu, seperti evakuasi mandiri tanpa koordinasi, yang pada akhirnya meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas dan kerugian ekonomi. Studi Pusat Riset Kebencanaan Universitas Indonesia pada 2023 menunjukkan bahwa hoaks gunung api mampu menurunkan aktivitas ekonomi lokal hingga 15 persen dalam seminggu akibat ketakutan dan penutupan tempat usaha.

Langkah Verifikasi Mandiri bagi Masyarakat

Untuk menghindari menjadi korban atau penyebar hoaks, masyarakat dapat menerapkan langkah sederhana sebelum membagikan informasi bencana:

  • Periksa sumber: Pastikan video berasal dari akun resmi lembaga seperti PVMBG, BNPB, atau media terverifikasi.
  • Gunakan reverse image search: Tangkap layar frame video dan unggah di mesin pencari gambar untuk menemukan konteks aslinya.
  • Cek waktu kejadian: Cari tanggal pasti di situs resmi; banyak hoaks mendaur ulang rekaman lama.
  • Tanya ahli: Jika ragu, jangan sebarkan. Tanyakan melalui kanal resmi atau hotline mitigasi bencana.
  • Waspadai narasi provokatif: Kata-kata seperti "sebarkan sebelum dihapus" atau "dirahasiakan pemerintah" adalah bendera merah.

Dengan semakin mudahnya teknologi manipulasi visual berbasis kecerdasan buatan (AI), tantangan verifikasi akan semakin kompleks. Namun, kombinasi antara sikap kritis individu dan kehadiran kanal resmi yang responsif dapat menjadi tembok pertahanan kuat melawan banjir informasi palsu.

Kasus klaim erupsi Anak Krakatau ini menjadi pengingat bahwa bencana adalah realitas yang harus dihadapi dengan data akurat, bukan dengan narasi liar yang hanya melayani sensasi. Liputan6.com akan terus melakukan penelusuran fakta untuk memastikan publik mendapatkan informasi yang benar.

[SOCIAL_TWEET]: Tangkapan layar video yang mengklaim Gunung Anak Krakatau erupsi Maret 2025 ternyata hoaks. Tim Cek Fakta Liputan6.com temukan itu rekaman 2018. PVMBG tegaskan status gunung normal. Jangan mudah percaya video viral tanpa verifikasi! #CekFakta #AnakKrakatau #StopHoaks[SOCIAL_TG]: 🔍 Klaim video erupsi Anak Krakatau viral lagi? Setelah dicek, itu rekaman lama tahun 2018 yang diedit narasinya. PVMBG bilang status masih Normal. Jangan termakan hoaks, ya!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User