Wall Street Anjlok Usai WHO Tetapkan COVID-19 Sebagai Pandemi

New York — Bursa saham Wall Street mengalami salah satu hari perdagangan paling dramatis dalam sejarah modern pada Rabu (11/3/2020). Indeks-indeks utama pa

Jul 13, 2026 - 21:48
0 1
Wall Street Anjlok Usai WHO Tetapkan COVID-19 Sebagai Pandemi

New York — Bursa saham Wall Street mengalami salah satu hari perdagangan paling dramatis dalam sejarah modern pada Rabu (11/3/2020). Indeks-indeks utama pasar saham Amerika Serikat anjlok tajam setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menetapkan virus corona COVID-19 sebagai pandemi global. Kepanikan massal melanda lantai perdagangan New York Stock Exchange (NYSE) ketika investor menyadari bahwa ancaman kesehatan ini telah berubah menjadi krisis ekonomi berskala besar.

Pada hari yang sama, foto ikonik diabadikan oleh Associated Press menunjukkan pialang Steven Kaplan berdiri di tengah para pedagang di lantai NYSE, dengan ekspresi tegang dan mata tertuju pada layar monitor yang memancarkan cahaya merah. Momen tersebut menjadi simbol bagaimana guncangan pandemi mengubah wajah perdagangan saham yang biasanya tenang menjadi arena penuh ketegangan.

Detik-Detik Kejatuhan Indeks Dow Jones

Indeks Dow Jones Industrial Average mencatat penurunan sekitar 1.464,94 poin atau 5,86 persen, ditutup di level 23.553,22. Ini merupakan penurunan harian terbesar sejak Agustus 2011 dan menjadi hari kelimanya berturut-turut indeks utama Wall Street mengalami koreksi. Indeks S&P 500 juga jatuh 4,89 persen ke level 2.741,38, sementara Nasdaq Composite melemah 4,70 persen.

Keputusan WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi memicu gelombang penjualan besar-besaran. Sebelumnya, pasar sudah tertekan oleh dua faktor utama: kejatuhan harga minyak mentah akibat perang harga antara Arab Saudi dan Rusia, serta kekhawatiran bahwa pemerintah Amerika Serikat belum memiliki strategi konkret untuk menahan dampak ekonomi.

Langkah Agresif yang Dinantikan Investor

Selama berhari-hari, para pelaku pasar menunggu langkah agresif dari pemerintahan Presiden Donald Trump dan Federal Reserve. Namun respons yang dianggap terlambat membuat kepercayaan investor semakin terkikis. Akhirnya, pada sore hari itu, Trump mengumumkan declarasi darurat nasional sekaligus rencana stimulus ekonomi senilai 50 miliar dolar AS.

"Kami sedang menghadapi momen yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pasar membutuhkan kepastian, bukan sekadar pernyataan politik," ujar seorang analis senior dari sebuah bank investasi terkemuka di Manhattan.

Federal Reserve juga bergerak dengan menyuntikkan likuiditas sebesar 1,5 triliun dolar AS ke sistem perbankan untuk menjaga stabilitas keuangan. Bank sentral bahkan memangkas suku bunga acuan secara darurat sebesar 50 basis poin minggu sebelumnya, namun langkah tersebut belum cukup meredam kepanikan pasar.

Dampak pada Pekerja dan Pasar Global

Di lantai NYSE, suasana berubah dari biasanya ramai menjadi tegang. Para pialang yang biasanya bekerja dengan tenang kini harus mengenakan masker dan menjaga jarak satu sama lain. Beberapa perusahaan bahkan mulai menerapkan sistem kerja dari rumah atau work from home bagi staf administrasi. Sentimen ketidakpastian ini tercermin dari volatilitas ekstrem yang membuat circuit breaker atau mekanisme penghentian perdagangan otomatis terpicu beberapa kali dalam seminggu.

  • Dow Jones: -5,86% (penurunan harian terbesar sejak 2011)
  • S&P 500: -4,89%
  • Nasdaq Composite: -4,70%
  • VIX (Indeks Ketakutan): melonjak ke level tertinggi sejak 2008

Dampak kejatuhan Wall Street menjalar ke bursa-bursa global. Indeks FTSE 100 London ditutup turun 1,40 persen, DAX Frankfurt anjlok 0,35 persen, dan Nikkei Tokyo jatuh 2,46 persen pada sesi perdagangan Kamis (12/3/2020) akibat efek contagion dari Amerika Serikat.

Respons Trump dan Harapan Pemulihan

Dalam konferensi pers di Rose Garden, Gedung Putih, Presiden Trump mengakui bahwa pandemi corona akan memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi. Namun ia tetap optimistis bahwa dengan langkah-langkah stimulus yang diambil, ekonomi AS akan pulih pada akhir tahun. Pernyataan ini sedikit menenangkan pasar setelah sesi perdagangan yang penuh gejolak.

Para analis Wall Street memperingatkan bahwa volatilitas tinggi kemungkinan akan berlanjut dalam beberapa minggu ke depan. Dengan jumlah kasus COVID-19 yang meningkat pesat di lebih dari 100 negara, ketidakpastian mengenai durasi pandemi menjadi faktor utama yang membuat investor enggan masuk kembali ke pasar.

Mata Investor Tertuju pada The Fed

Mata dunia kini tertuju pada rapat kebijakan Federal Reserve yang dijadwalkan pada 15-16 April 2020. Banyak pihak berharap bank sentral akan kembali memangkas suku bunga secara agresif atau bahkan menerapkan program pembelian aset berskala besar seperti yang dilakukan saat krisis keuangan 2008. Langkah-langkah seperti quantitative easing dianggap sebagai senjata pamungkas untuk menstabilkan pasar keuangan yang tengah goncang.

Krisis Wall Street akibat pandemi corona ini menjadi pengingat bahwa di era globalisasi, ancaman kesehatan dapat dengan cepat bertransformasi menjadi krisis ekonomi. Seperti yang dikatakan oleh salah satu pialang veteran di NYSE, "Kita tidak hanya menghadapi virus, kita menghadapi kepanikan pasar yang bisa lebih merusak daripada virus itu sendiri."

[SOCIAL_TWEET]: Wall Street anjlok 5,86% setelah WHO tetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Dow Jones jatuh 1.464 poin, terbesar sejak 2011. #WallStreet #COVID19 #Pandemi[SOCIAL_TG]: 📉 Wall Street ANJLOK! Dow Jones jatuh 1.464 poin dalam sehari setelah WHO tetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Pasar global ikut panas 🔥💰

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User