Catatan Tangan Sinwar Ungkap Skenario Nuklir dalam Serangan 7 Oktober
Dokumen yang ditulis tangan oleh Yahya Sinwar, pemimpin Hamas yang tewas dalam serangan Israel, memperlihatkan bahwa kelompok militan tersebut telah memperhitungkan kemungkinan Israel membalas dengan ...
Dokumen yang ditulis tangan oleh Yahya Sinwar, pemimpin Hamas yang tewas dalam serangan Israel, memperlihatkan bahwa kelompok militan tersebut telah memperhitungkan kemungkinan Israel membalas dengan bom nuklir setelah operasi 7 Oktober 2023. Catatan itu memberikan gambaran mengerikan tentang antisipasi pemusnahan massal dan upaya Hamas untuk menghadapinya.
Berisi puluhan halaman coretan pena, dokumen tersebut membeberkan koordinasi antara sayap militer dan politik Hamas. Yang paling mencengangkan adalah bagian yang secara eksplisit menyebut “al-silah al-nawawi” atau senjata nuklir, serta prediksi bahwa respons Israel bisa mencapai “titik penghancuran total.” Temuan ini mengubah persepsi bahwa Hamas hanyalah kelompok gerilya tanpa perhitungan matang.
Detil Perencanaan dan Antisipasi Respon Israel
Dalam catatan itu, Sinwar menjabarkan target-target potensial, mulai dari pos militer hingga permukiman. Namun, ruang yang tak kalah besar dialokasikan untuk memproyeksikan spektrum respons Israel. Mulai dari serangan udara massif, invasi darat, hingga skenario paling ekstrem: penggunaan senjata pemusnah massal.
Peneliti yang memeriksa dokumen ini menyebut bahwa Sinwar dan timnya menganalisis “ambang batas” Israel. Mereka berasumsi bahwa jika korban di pihak Israel melampaui ribuan jiwa, maka kemungkinan respons tidak lagi terikat aturan konvensional. Dalam analisis itu, bom nuklir dianggap sebagai pilihan yang “rasional” bagi Israel jika keberadaannya sebagai negara benar-benar dalam bahaya.
Untuk mendukung skenario ini, pemimpin Hamas itu merujuk pada pernyataan-pernyataan tidak resmi dari mantan pejabat Israel dan doktrin pertahanan yang dikenal dengan istilah “Pilihan Samson”. Ia menulis bahwa “musuh tidak akan membiarkan dirinya kalah, bahkan jika itu berarti menghancurkan seluruh wilayah.”
Bagaimana Hamas Menyiapkan Diri Menghadapi Nuklir
Tak hanya mengantisipasi, dokumen itu juga memuat langkah-langkah kontingensi. Hamas membangun bunker-bunker yang diperkuat, menyimpan stok oksigen dan makanan, serta menginstruksikan kader untuk tetap berada di terowongan selama berminggu-minggu jika perlu. Sinwar menekankan pentingnya “perlindungan vertikal” — penguburan jauh di bawah tanah — untuk mengurangi dampak gelombang panas dan radiasi.
Bahkan, terdapat instruksi bagi komandan lapangan untuk segera mengaktifkan “jaringan bayangan” pasca ledakan nuklir, guna memperkuat narasi bahwa serangan Israel yang tidak proporsional telah melanggar hukum internasional. Langkah ini dirancang untuk memperoleh simpati global dan mendorong intervensi negara-negara besar.
Dalam salah satu paragraf, Sinwar menulis bahwa “dosa kehancuran akan ditanggung penjajah, sementara syuhada kita akan dikenang sebagai pembebas.” Kalimat itu menunjukkan pemahaman bahwa serangan balasan nuklir bisa saja menjadi kenyataan, tetapi diyakini akan membawa kemenangan politik bagi Palestina di pentas internasional.
Konteks Persenjataan Nuklir Israel
Israel adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang diyakini memiliki senjata nuklir, meskipun tidak pernah mengakuinya secara resmi. Estimasi para ahli, termasuk dari SIPRI dan Federasi Ilmuwan Amerika, menempatkan jumlah hulu ledak Israel antara 80 hingga 400 unit. Kemampuan pengiriman mencakup rudal balistik Jericho, pesawat tempur, dan mungkin kapal selam yang dipersenjatai nuklir.
Kebijakan ambiguitas nuklir Israel selama ini dianggap berhasil mencegah perang besar dengan negara-negara Arab. Namun, dokumen Sinwar menunjukkan bahwa ambiguitas itu tidak cukup untuk menakut-nakuti musuh non-negara yang siap mati. Dengan kata lain, deterren nuklir yang selama ini diandalkan Israel menghadapi tantangan baru dari aktor yang tidak memiliki infrastruktur negara konvensional.
Pengungkapan ini juga mengundang pertanyaan: Apakah militer Israel benar-benar mempertimbangkan opsi nuklir pada Oktober 2023? Sumber-sumber anonim di lingkungan keamanan Israel belum mengonfirmasi, namun beberapa analis mengingatkan bahwa dalam situasi darurat nasional, langkah itu tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan.
Implikasi terhadap Konflik dan Dunia Internasional
Jika keaslian dokumen ini terkonfirmasi, maka akan ada dampak besar pada cara pandang global terhadap Hamas. Selama ini kelompok itu sering digambarkan sebagai gerakan ideologis tanpa pemikiran strategis jangka panjang. Akan tetapi, rincian antisipasi nuklir menunjukkan bahwa para pemimpinnya justru sangat sadar akan risiko eksistensial yang mereka timbulkan.
Di sisi lain, Israel berpotensi menghadapi tekanan diplomatik. Sebab, meskipun senjata nuklirnya tidak lagi menjadi rahasia, munculnya bukti bahwa musuh internal ikut menghitung-hitung penggunaannya bisa memaksa Israel untuk lebih transparan atau justru memperkuat pengamanan terhadap aset-aset nuklirnya. Pertanyaan tentang legalitas dan moralitas pencegahan nuklir di kawasan padat penduduk pun akan kembali mengemuka.
Bagi masyarakat internasional, temuan ini adalah peringatan bahwa konflik Israel-Palestina bukan lagi sekadar perang darat atau roket, melainkan bisa menyeret kawasan ke jurang kehancuran nuklir. Seruan untuk perlucutan senjata di Timur Tengah dan pengawasan yang lebih ketat terhadap program senjata ilegal akan terdengar lebih keras.
Dokumen tulisan tangan Yahya Sinwar telah membuka cakrawala baru tentang alam pikir para perancang serangan 7 Oktober. Di tengah duka dan kehancuran, satu pesan muncul jelas: risiko nuklir, yang selama ini dianggap tabu, ternyata telah menjadi bagian dari kalkulasi perang di Gaza.
Baca juga:
Comments (0)