Buyback Raksasa Tak Mampu Angkat Harga Saham GOTO, Masih 'Gocap' Sejak Sebulan
Jakarta - Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terus melanjutkan tren stagnasi. Meskipun perusahaan telah mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) dalam jumlah besar, pergerakan harg
Jakarta - Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terus melanjutkan tren stagnasi. Meskipun perusahaan telah mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) dalam jumlah besar, pergerakan harga sahamnya tetap belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Berdasarkan pantauan data pasar yang dihimpun Lurusin.com pada Rabu (17/6/2026), harga saham GOTO bertengger di level Rp50 per saham, atau yang kerap disebut 'gocap'.
Kondisi ini sangat kontras dengan ekspektasi pasar yang biasanya menyambut positif aksi buyback. Namun, sejak pengumuman buyback tersebut, saham GOTO justru tetap mandek di kisaran Rp50. Grafik pergerakan harga saham bahkan menunjukkan stagnasi sejak 18 Mei 2026.
Kinerja Saham GOTO Sepanjang 2026
Sepanjang tahun 2026, harga saham GOTO telah mengalami penurunan signifikan. Dari level Rp69 per saham pada awal tahun, kini terpangkas hingga 21,88%. Dengan kapitalisasi pasar yang besar, penurunan ini tentu menjadi perhatian serius bagi para investor ritel maupun institusi.
"Saham GOTO masih mandek di Rp50, tidak bergerak sejak 18 Mei lalu. Ini menunjukkan bahwa sentimen buyback belum mampu mengatasi tekanan jual yang masih tinggi," demikian catatan Lurusin.com mengutip data perdagangan.
Aksi buyback yang diumumkan perusahaan sebenarnya bertujuan untuk menstabilkan harga dan memberikan sinyal positif bahwa manajemen yakin prospek bisnis ke depan tetap cerah. Namun, dengan tidak adanya pergerakan harga yang berarti, pasar tampaknya masih mencermati fundamental bisnis GOTO yang tengah bertransformasi.
Sejumlah analis yang dihubungi Lurusin.com menilai, stagnasi ini bisa jadi disebabkan oleh masih besarnya volume penjualan dari investor yang ingin keluar, seiring dengan valuasi yang dianggap masih tinggi oleh sebagian pihak. Selain itu, kondisi makroekonomi dan persaingan di industri teknologi juga menjadi faktor yang membayangi.
Meskipun demikian, GOTO tetap merupakan salah satu emiten teknologi terbesar di Indonesia dengan ekosistem yang luas mencakup layanan ride-hailing, e-commerce, dan fintech. Rencana buyback ini mungkin akan terasa dampaknya dalam jangka panjang jika diikuti dengan perbaikan kinerja keuangan.
Lurusin.com akan terus memantau perkembangan harga saham GOTO dan dampak dari aksi korporasi ini dalam beberapa minggu mendatang.
Comments (0)