Mochamad Nur Arifin: Profil dan Kinerja Bupati Trenggalek
<h2>Mochamad Nur Arifin: Profil dan Kinerja Bupati Trenggalek</h2> <p>Mochamad Nur Arifin, pria kelahiran 19 April 1990, mencatat sejarah sebagai bupati termuda di Indonesia saat dilantik pada 26 Febr
Mochamad Nur Arifin: Profil dan Kinerja Bupati Trenggalek
Mochamad Nur Arifin, pria kelahiran 19 April 1990, mencatat sejarah sebagai bupati termuda di Indonesia saat dilantik pada 26 Februari 2021. Mengusung bendera PDI Perjuangan, ia bersama wakilnya Syah Muhamad Natanegara memimpin Kabupaten Trenggalek untuk periode 2021-2024. Sosok yang akrab disapa Gus Arifin ini berhasil merebut perhatian publik karena usianya yang baru 30 tahun saat menjabat, namun mampu membawa sejumlah terobosan digitalisasi dan pembangunan infrastruktur di wilayah selatan Jawa Timur tersebut.
Profil Singkat
Mochamad Nur Arifin menempuh pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Trenggalek sebelum melanjutkan studi S1 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang. Ia meraih gelar Magister Manajemen dari kampus yang sama pada tahun 2015. Latar belakang pendidikannya yang kuat di bidang ekonomi menjadi bekal signifikan dalam merumuskan kebijakan pembangunan daerah.
Sebelum terjun ke politik praktis, Arifin aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang. Pengalaman organisasi ini membentuk karakter kepemimpinannya yang inklusif dan responsif terhadap aspirasi masyarakat. Ia juga dikenal dekat dengan kalangan santri dan pesantren di Trenggalek, sebuah modal sosial penting di daerah dengan basis religius yang kuat.
Karier dan Riwayat Jabatan
Karier politik Arifin dimulai saat ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Trenggalek periode 2014-2019 dari daerah pemilihan Trenggalek 1 yang meliputi Kecamatan Trenggalek, Pogalan, dan Durenan. Di parlemen, ia ditempatkan di Komisi III yang membidangi keuangan dan aset daerah. Kinerjanya yang moncer membuat ia dipercaya maju sebagai calon Wakil Bupati Trenggalek mendampingi Emil Elestianto Dardak pada Pilkada 2015.
Pasangan Emil-Arifin memenangkan kontestasi tersebut, dan Arifin resmi menjabat sebagai Wakil Bupati Trenggalek periode 2016-2021. Sebagai wakil bupati, ia fokus pada pengembangan ekonomi kreatif dan teknologi informasi. Saat Emil Dardak diangkat menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur pada 2019, Arifin otomatis naik menjadi Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Trenggalek. Momentum ini menjadi batu loncatan krusial untuk pencalonannya sebagai bupati definitif pada Pilkada 2020, yang ia menangkan dengan perolehan suara dominan.
Kinerja dan Program Unggulan
Program Trenggalek Smart City menjadi flagship Arifin. Sejak 2021, ia mempercepat implementasi layanan publik berbasis digital. Pada 2023, sebanyak 152 desa di Trenggalek telah terlayani jaringan internet melalui program Desa Digital. Realisasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Trenggalek meraih indeks 3,21 (kategori "Baik") pada evaluasi KemenPAN-RB tahun 2023, naik signifikan dari indeks 2,55 pada 2021.
Di sektor infrastruktur, pada 2022-2023 pemerintahannya mengalokasikan anggaran Rp 89,7 miliar untuk pembangunan dan pemeliharaan jalan kabupaten, dengan capaian kemantapan jalan mencapai 78,4 persen. Program Jalan Lingkar Selatan Trenggalek sepanjang 24,3 kilometer berhasil diselesaikan, membuka akses ekonomi ke kawasan pesisir selatan. Di bidang ekonomi, Arifin mendorong kebangkitan UMKM pascapandemi. Data Dinas Koperasi dan UMKM mencatat, pada akhir 2023 terdapat 67.340 unit UMKM yang kembali aktif, meningkat 23 persen dibandingkan 2020. Ia juga menginisiasi program Trenggalek Hub, inkubator bisnis yang telah melahirkan 45 startup lokal per 2024.
Tantangan dan Harapan
Kritik utama tertuju pada penanganan kemiskinan. Meskipun tren menurun, persentase penduduk miskin Trenggalek masih di angka 11,43 persen per Maret 2024, di atas rata-rata provinsi yang 9,79 persen. Beberapa pengamat menilai program unggulan Arifin lebih menyentuh sektor digital dan infrastruktur, namun belum optimal menyasar kelompok petani subsisten dan nelayan tradisional yang mendominasi angka kemiskinan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Trenggalek pada 2023 mencapai 73,41, naik dari 71,42 di 2021, namun masih tertinggal secara regional.
Terpilih kembali untuk periode 2025-2030 dengan dukungan koalisi besar, Arifin dihadapkan pada ekspektasi tinggi menyelesaikan PR kemiskinan dan meningkatkan konektivitas antarwilayah. Masyarakat berharap janji pembangunan pabrik pengolahan hasil laut di kawasan Prigi dan peningkatan status RSUD Trenggalek menjadi tipe B dapat direalisasikan, selaras dengan visinya menjadikan Trenggalek sebagai simpul ekonomi baru di koridor selatan Jawa.
Comments (0)