Bukan Klakson, Survei Ini Ungkap Penyebab Utama Orang Emosional di Jalan

Jakarta - Kemacetan dan gesekan antar pengguna jalan raya sudah menjadi pemandangan sehari-hari yang sayangnya seringkali berujung pada konfrontasi. Namun, di balik adu mulut dan klakson yang bersahu

Jul 06, 2026 - 13:37
0 0
Bukan Klakson, Survei Ini Ungkap Penyebab Utama Orang Emosional di Jalan

Jakarta - Kemacetan dan gesekan antar pengguna jalan raya sudah menjadi pemandangan sehari-hari yang sayangnya seringkali berujung pada konfrontasi. Namun, di balik adu mulut dan klakson yang bersahutan, ternyata terdapat pemicu spesifik yang lebih dominan membuat emosi para pengendara tersulut. Lurusin.com merangkum temuan terbaru dari sebuah survei global yang menguak akar permasalahan dari fenomena "road rage" atau kemarahan di jalan raya.

Metodologi Survei: Melibatkan Wisatawan Global

Data ini berhasil dihimpun melalui survei yang dilakukan oleh DiscoverCars pada April 2026. Survei ini melibatkan lebih dari 700 responden yang merupakan pelanggan setia platform penyewaan mobil internasional. Menariknya, responden dalam laporan ini bukanlah pengendara harian di kota asalnya, melainkan mayoritas merupakan wisatawan asing yang tengah melakukan perjalanan lintas negara menggunakan kendaraan sewaan. Dengan karakteristik responden yang demikian, survei ini mampu menangkap perspektif lintas budaya mengenai standar kesopanan dan pemicu stres selama berkendara di lingkungan asing. Partisipan diminta untuk secara jujur membagikan pengalaman personal mereka saat menghadapi situasi panas di jalan, serta secara spesifik menyebutkan perilaku pengguna jalan lain yang dianggap paling mengganggu ketenangan mereka selama di balik kemudi.

Hasil Mengejutkan: Bukan Klakson, Tapi Manuver Agresif

Hasil analisis survei tersebut menunjukkan fakta yang cukup mengejutkan. Selama ini klakson panjang atau klakson berulang kali sering dituding sebagai biang keladi keributan. Namun, laporan tersebut mengungkap bahwa penyebab utama emosional pengemudi justru adalah perilaku "tailgating" atau menguntit dari belakang dengan jarak yang sangat rapat. Para responden merasa bahwa aksi mengekor terlalu dekat dengan kecepatan tinggi menciptakan tekanan psikologis dan rasa terancam yang luar biasa, melebihi gangguan dari suara bising klakson.

"Saya bisa mentolerir klakson, karena itu hanya suara. Tapi ketika sebuah mobil menempel sangat dekat di bumper belakang saat saya sudah berada di batas kecepatan maksimal, itu terasa seperti sebuah intimidasi fisik yang sulit diabaikan. Perasaan panik dan ingin segera menyingkir itulah yang akhirnya sering memicu kemarahan," tulis salah satu responden dalam survei tersebut.

Pemicu Gesekan Lain di Jalan Tol dan Perkotaan

Selain aksi menguntit atau menempel terlalu dekat, survei ini juga mencatat beberapa pemicu emosi lain yang berkontribusi besar terhadap keributan. Tindakan berpindah jalur secara tiba-tiba tanpa menyalakan lampu sein menempati posisi teratas berikutnya. Responden menilai manuver "nyelonong" ini sangat tidak dapat diprediksi dan berpotensi memicu kecelakaan fatal. Faktor lain yang turut memanaskan situasi adalah pengendara yang memotong jalur antrean, penggunaan lampu sorot jarak jauh secara berlebihan yang menyilaukan, serta pengemudi yang terlalu lambat berada di lajur kanan atau lajur cepat. Media kami mencatat, temuan ini mengindikasikan bahwa toleransi antar pengguna jalan lebih tipis ketika dihadapkan pada tindakan yang dianggap egois dan membahayakan keselamatan jiwa, bukan sekadar polusi suara. Laporan ini diharapkan bisa menjadi cerminan bagi para pengemudi untuk lebih mengedepankan prediktabilitas dan etika dalam berkendara ketimbang sekadar menghindari membunyikan klakson.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hafiz-rahman

Verifikator. Memverifikasi klaim viral via sumber terbuka.

Comments (0)

User