Amin Prihantono Pimpin Perubahan Timnas Basket Putri U18 Menuju FIBA Asia 2026
Selepas sesi latihan yang berlangsung di GOR Soemantri Brodjonegoro, suasana di tepi lapangan terasa berbeda. Di bawah sorot lampu yang mulai meredup, soso
Selepas sesi latihan yang berlangsung di GOR Soemantri Brodjonegoro, suasana di tepi lapangan terasa berbeda. Di bawah sorot lampu yang mulai meredup, sosok berseragam pelatih dengan papan taktik di tangan kanannya berdiri tegap. Itu adalah Amin Prihantono, yang kini resmi mengemban tugas sebagai juru taktik anyar Timnas Basket Putri Indonesia. Udara sore yang biasanya diisi oleh canda pemain selepas latihan, siang itu terasa lebih khusyuk. Sebab, perubahan besar tengah berlangsung di dalam tubuh tim yang akan mewakili Indonesia di FIBA U18 Women's Asia Cup 2026.
Federasi Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) mengonfirmasi bahwa penunjukan Amin Prihantono disertai dengan perombakan skuad dan pola permainan. Ini bukan sekadar pergantian nama di kursi pelatih, melainkan sebuah langkah radikal yang disiapkan untuk mendongkrak performa tim muda Garuda di panggung Asia nanti. Lantas, apa saja yang berubah dari tim yang dulu kerap diprediksi hanya menjadi bulan-bulanan lawan di fase grup ini?
Pergantian di Hel Kemudi
Keputusan menunjuk Amin Prihantono bukan datang tiba-tiba. Pria yang menghabiskan puluhan tahun di akademi basket ibu kota ini dikenal piawai meracik atribut pertahanan fundamental. Perbasi memandang, kelemahan klasik basket putri Indonesia—turnover tinggi dan transisi pertahanan yang rapuh—adalah pekerjaan rumah yang harus dituntaskan pendekatan baru.
“Saya bukan untuk mencipta revolusi, tapi membangun kembali fondasi. Anak-anak ini punya bakat, hanya perlu disiplin yang runtut,” ujar Amin Prihantono di sela-sela sesi pengenalan program latihan.
Pelatih berusia 48 tahun itu menggantikan pelatih sebelumnya yang kontraknya habis selepas kualifikasi zona Asia Tenggara tahun lalu. Amin tak serta-merta membuang semua yang sudah berjalan. Namun, ia menyuntikkan ritme latihan berbasis drill defense yang lebih panjang durasinya, sekaligus menekankan pengambilan keputusan cepat di area transisi—sesuatu yang sering membuat Indonesia kerepotan saat menghadapi tim dengan mobilitas tinggi seperti Jepang atau Korea Selatan.
Skuad Segar, Emosi Baru
Perubahan paling mencolok terjadi dalam daftar 15 pemain yang dipanggil. Sebanyak sembilan di antaranya adalah wajah baru yang sama sekali belum pernah merasakan atmosfer kejuaraan Asia. Ini adalah pertaruhan besar. Namun, tim pemandu bakat Perbasi meyakini bahwa regenerasi ini hasil dari pantauan panjang kompetisi pelajar dan liga mahasiswa. Pemain andalan sebelumnya seperti Akira Wulandari (guard) dan Vania Emanuella (forward) tetap dipertahankan sebagai tulang punggung pengalaman. Sementara, sejumlah nama dari Sumatra dan Sulawesi mulai mencuat mengisi posisi depan.
“Kami sengaja memberikan jam terbang internasional kepada mereka yang diproyeksikan hingga U20 nanti. Bila tidak sekarang, kapan lagi? Asia Cup ini ajang pematangan, sekaligus tolok ukur mental bertanding,” jelas Manajer Timnas Putri, Astridiah Maharani, saat pengumuman pemanggilan pemain.
Untuk pertama kalinya, center setinggi 186 cm asal Surabaya, Ramadhani Putri, masuk dalam daftar. Kehadirannya diharapkan mampu menjadi jangkar di bawah ring, posisi yang selama ini menjadi titik terlemah Indonesia saat berjibaku dengan tim-tim yang memiliki forward agresif.
Taktik Baru: Dari Lambat-Sabar Menjadi Agresif-Terukur
Di bawah asistennya, Amin Prihantono menyusun modul ofensif yang tidak lagi berkutat pada half-court set yang lambat. Ia mengadopsi pola "disruptive defense, swift transition"—bertahan dengan agresif untuk memicu bola mati atau steal, lalu secepat mungkin mengalirkan bola ke sayap. Gaya ini terinspirasi pola pelatih-pelatih Eropa Timur yang menangani tim putri, yang menempatkan efisiensi gerak tanpa bola dan akurasi tembakan jarak menengah sebagai prioritas.
Butuh waktu sembilan bulan untuk menanamkan filosofi ini hingga jadi refleks. Amin mengakui, kendala terbesar adalah adaptasi pemain dari pola kompetisi lokal yang masih terpusat pada isolasi pemain bintang. Kini, setiap penguasaan bola lebih banyak melibatkan rotasi tiga titik dan penyerangan berlapis. Latihan tambahan untuk free throw juga dikhususkan, mengingat di ajang Asia, selisih poin bisa sangat ditentukan dari keberhasilan mengeksekusi pelanggaran.
Target Realistis di Panggung Asia
Keikutsertaan di FIBA U18 Women's Asia Cup 2026 bukan semata mengejar podium. Divisi A Asia penuh oleh kekuatan mapan seperti China, Jepang, Australia, dan Korea Selatan. Namun, Perbasi menetapkan sasaran tim ini: menghindari dasar klasemen dan memastikan setidaknya satu kemenangan mengamankan status Divisi A. Target itu mungkin tampak sederhana, tapi untuk basket putri Indonesia yang sering terdegradasi ke Divisi B, mempertahankan tempat adalah langkah strategis jangka panjang.
“Kami sadar keterbatasan, tapi kami tidak lagi ingin dipandang sebelah mata. Setiap pertandingan akan jadi final untuk tetap bertahan di level ini,” tegas Amin Prihantono dengan mata tajam menatap papan skor yang masih menunjukkan angka nol.
Kini, persiapan memasuki fase pemusatan latihan nasional yang lebih ketat. Menjelang keberangkatan, tim ini akan menjalani uji tanding melawan tim nasional Filipina dan sebuah klub Australia. Dengan fondasi pertahanan yang tengah dibangun, Amin Prihantono ingin para pemainnya membawa pulang satu hal ke Indonesia: rasa percaya diri bahwa basket putri layak diperhitungkan.
Mengintip Peta Kekuatan dan Kunci Sukses
Secara historis, FIBA U18 Women's Asia Cup menjadi ajang pembuktian negara-negara Asia dalam mencetak pemain muda. Indonesia yang pernah absen dari Divisi A pada edisi 2022, akhirnya kembali berkat performa di U18 SEABA. Langkah selanjutnya adalah menjaga konsistensi. Perubahan yang dibawa Amin Prihantono bukan jaminan instan, namun setidaknya menyuntikkan harapan baru bahwa Indonesia tak lagi sekadar peserta.
Bagi publik bola basket nasional, sorotan terbesar terletak pada bagaimana sinergi pemain senior dan junior terbentuk. Akira Wulandari yang jadi jenderal lapangan, serta Ramadhani Putri sang newcomer, akan jadi barometer. Dan di atas kertas, perubahan ini menjadi cermin bahwa Indonesia tengah melakukan transisi serius menuju tata kelola basket yang lebih profesional. Roda belum sepenuhnya berputar, tapi setidaknya arah angin sudah berubah.
Comments (0)