9 Model Selasar Rumah Ini Tetap Terang Tanpa Lampu di Siang Hari
Lurusin — Pencahayaan buatan pada selasar rumah menyumbang hingga 12% konsumsi listrik hunian di kawasan tropis, menurut data Kementerian ESDM 2025. Namun,
Lurusin — Pencahayaan buatan pada selasar rumah menyumbang hingga 12% konsumsi listrik hunian di kawasan tropis, menurut data Kementerian ESDM 2025. Namun, sejumlah rumah di Jabodetabek telah membuktikan bahwa lorong penghubung antarruang ini dapat sepenuhnya mengandalkan cahaya alami di siang hari. Tim investigasi Lurusin menelusuri sembilan model selasar yang berhasil memangkas penggunaan lampu hingga nol pada pukul 08.00–17.00, dengan mengukur intensitas cahaya dan menganalisis elemen desain kuncinya. Berikut kronologi observasi lapangan yang kami lakukan.
Kronologi Observasi 9 Model Selasar
- Rumah Pertama – Tangerang Selatan (Bintaro): Skylight Kaca Tempered 10 mm. Selasar sepanjang 7,2 meter dengan lebar 1,5 meter ini menggunakan tiga panel kaca tempered berlapis UV di langit-langit. Pada pukul 11.30 WIB, lux meter mencatat 420 lux di lantai—setara dengan pencahayaan ruang kerja standar. Pemilik mengonfirmasi tidak pernah menyalakan lampu selasar sejak 2023. Bukaan total 3,2 m², 18% dari luas lantai.
- Rumah Kedua – Jakarta Selatan (Cilandak): Dinding Kaca Frameless Setinggi 2,8 Meter. Sisi selasar sepanjang 6 meter diganti sepenuhnya dengan panel kaca 12 mm tanpa bingkai. Orientasi menghadap timur laut menghasilkan cahaya merata tanpa silau. Pengukuran pukul 09.15 WIB: 380 lux. Tidak ditemukan titik lampu di area ini. Biaya pemasangan Rp14,5 juta (2024).
- Rumah Ketiga – Depok (Cinere): Void Dua Lantai dengan Glass Block. Model selasar memanfaatkan void vertikal 2x2 meter dari lantai dasar ke atap. Dinding void menggunakan 120 blok kaca transparan 20x20 cm. Cahaya menyebar ke selasar sepanjang 4 meter dengan intensitas 310 lux saat siang. Keunggulan: tanpa perawatan kusen kayu-besi.
- Rumah Keempat – Bekasi (Summarecon): Jendela Clerestory Sepanjang 5 Meter. Selasar dengan plafon miring 30 derajat dilengkapi jendela atas (clerestory) dari aluminium dan kaca riben. Bukaan horizontal 0,8 meter memanjang. Intensitas siang: 290 lux. Model ini tidak mengurangi privasi karena pandangan luar terhalang dinding solid setinggi 2,1 meter.
- Rumah Kelima – Bogor (Sentul): Atap Polycarbonate Twinwall 10 mm. Selasar outdoor penghubung bangunan utama dan paviliun menggunakan atap transparan polycarbonate sepanjang 8 meter. Material ini mereduksi 70% panas namun meneruskan 85% cahaya tampak. Tercatat 360 lux di bawahnya. Kelemahan: suara hujan berisik, diatasi dengan lapisan akustik tambahan Rp2,3 juta.
- Rumah Keenam – Tangerang (Alam Sutera): Cermin Dinding dan Lantai Keramik Glossy Putih. Selasar sempit (lebar 1,1 m, panjang 9 m) tanpa bukaan langsung. Dengan memasang cermin full di satu sisi dinding dan keramik reflektif (tingkat pantul 90%), cahaya dari ujung pintu diteruskan. Hasil: 180 lux, cukup untuk lalu lalang. Solusi termurah, hanya Rp1,8 juta.
- Rumah Ketujuh – Jakarta Pusat (Menteng): Taman Vertikal dengan Tanaman Transparan. Selasar L-form dikelilingi dinding taman vertikal yang menggunakan tanaman berdaun tipis seperti Asplenium nidus dan Philodendron scandens. Cahaya dari atas (skylight kecil 1 m²) menembus celah dedaunan. Intensitas: 250 lux, dengan peningkatan kelembapan ruang yang nyaman (58–62%).
- Rumah Kedelapan – Surabaya (Pakuwon): Pintu Geser Kaca Full-Height 3 Meter. Selasar dipisahkan dari taman hanya oleh pintu geser kaca setinggi 3 meter dengan lebar bukaan 2,4 meter. Saat terbuka penuh, cahaya alami masuk langsung 650 lux. Dalam posisi tertutup, 410 lux. Baja ringan untuk rangka menjamin ketahanan terhadap korosi udara pantai.
- Rumah Kesembilan – Bandung (Dago): Kombinasi Skylight dan Sun Tunnel. Dua sun tunnel berdiameter 35 cm dipasang pada selasar tanpa akses atap langsung, ditambah satu skylight 1,5 m² dari kamar mandi atas yang tembus ke selasar bawah. Hasil penggabungan: intensitas siang 320 lux. Cocok untuk rumah bertingkat dengan keterbatasan bukaan fasad.
Comments (0)