2 Bus Stop Biskita Bogor Dinonaktifkan Sementara Usai Diprotes Sopir Angkot
Lurusin.com, Bogor — Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor mengambil langkah cepat dengan menonaktifkan sementara dua titik bus stop Trans Biskita di ruas Jalan Raya Tajur–Ciawi. Keputusan ini me
Lurusin.com, Bogor — Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor mengambil langkah cepat dengan menonaktifkan sementara dua titik bus stop Trans Biskita di ruas Jalan Raya Tajur–Ciawi. Keputusan ini menyusul protes keras dari para pengemudi angkutan perkotaan (angkot) yang merasa trayek mereka tergerus oleh keberadaan halte baru tersebut.
Penonaktifan Demi Jaga Kondusivitas
Berdasarkan laporan yang diterima tim Lurusin.com, sebelumnya Dishub Kota Bogor telah membangun total delapan titik bus stop di sepanjang Jalan Raya Tajur. Fasilitas itu dipersiapkan untuk mendukung operasional Biskita Koridor 2 dengan rute Bubulak–Ciawi, yang menjadi salah satu jalur strategis transportasi massal di wilayah Bogor. Namun, ketika kedelapan titik itu rampung dan mulai digunakan, gelombang penolakan datang dari pengemudi angkot trayek 21. Mereka menilai penempatan bus stop yang terlalu berdekatan dengan pangkalan angkot akan mengurangi jumlah penumpang dan mengancam pendapatan harian mereka.
Kepala Bidang Angkutan Dishub Kota Bogor, Doddy Wahyudin, saat dikonfirmasi membenarkan penonaktifan tersebut. Ia menyebut ini hanya bersifat sementara sambil menunggu komunikasi dan penataan ulang titik pemberhentian yang lebih adil bagi semua pihak.
"Betul, ada dua titik bus stop yang kita nonaktifkan dulu, untuk sementara. Langkah ini diambil agar suasana tetap kondusif, dan kami bisa berdialog dengan para sopir angkot untuk mencari jalan tengah," ujar Doddy kepada Lurusin.com, Jumat (3/7/2026).
Dampak pada Layanan Biskita
Penonaktifan dua bus stop ini membuat penumpang Biskita di segmen Tajur-Ciawi harus menyesuaikan titik naik-turun. Meskipun Dishub memastikan enam bus stop lainnya tetap beroperasi normal, jarak antar titik pemberhentian menjadi lebih jauh, sehingga berpotensi mengurangi kenyamanan pengguna. Beberapa calon penumpang mengaku terpaksa berjalan lebih jauh atau beralih ke angkot untuk mencapai titik bus stop terdekat.
Doddy menegaskan bahwa Biskita merupakan bagian dari program Buy The Service (BTS) Kementerian Perhubungan yang bertujuan menyediakan angkutan massal terjangkau dan nyaman. Keberadaan bus stop wajib ada untuk menunjang keselamatan penumpang, bukan untuk mematikan usaha angkot. Ia berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penempatan seluruh bus stop, termasuk mempertimbangkan masukan dari komunitas sopir angkot.
Sementara itu, perwakilan sopir angkot trayek 21 yang enggan disebutkan namanya menyambut baik penonaktifan sementara ini. Ia berharap Dishub tidak hanya menghapus dua titik, tetapi juga merelokasi beberapa bus stop lain yang dinilai mengganggu ritase angkot. Pihaknya siap duduk bersama merumuskan titik singgah yang tidak saling mematikan.
Evaluasi dan Dialog
Dishub Kota Bogor, melalui bidang angkutan, mengagendakan pertemuan dengan sejumlah pemangku kepentingan dalam pekan depan. Selain perwakilan sopir angkot, manajemen Biskita dan unsur kepolisian juga akan diundang untuk memastikan tata letak bus stop mengakomodasi kepentingan publik tanpa menimbulkan gesekan. Selama evaluasi berlangsung, dua bus stop yang dinonaktifkan akan dipasangi papan pengumuman dan rambu peringatan agar tidak digunakan penumpang.
Doddy mengimbau seluruh pengguna Biskita untuk memantau informasi resmi Dishub Kota Bogor dan memanfaatkan bus stop yang masih aktif. Sementara angkot trayek 21 diharapkan tetap mengedepankan pelayanan prima kepada masyarakat selama proses penataan belum rampung.
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bahwa integrasi transportasi massal dengan angkutan konvensional memerlukan komunikasi intensif. Lurusin.com akan terus mengawal perkembangan penataan bus stop ini dan menyampaikan informasi terbaru kepada pembaca.
Comments (0)