Kronologi Aksi Damai Mahasiswa di Simpang Gramedia
Aksi yang dimulai tepat pukul 09.00 WIB ini diikuti oleh sekitar 300 mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Yogyakarta. Mereka berkumpul di titik kumpul di kawasan Tugu Pal Putih sebelum bergerak menuju perempatan Gramedia. Berikut adalah urutan kejadian yang tercatat selama aksi berlangsung:
- Pukul 08.30 WIB – Puluhan mahasiswa mulai berdatangan di Tugu Pal Putih, membawa spanduk dan poster. Koordinator aksi memberikan arahan singkat mengenai rute dan aturan sopan santun demonstrasi.
- Pukul 09.00 WIB – Massa bergerak berjalan kaki melalui Jalan Malioboro menuju Jalan Sudirman. Suasana tetap tertib dengan pengawalan dari petugas kepolisian yang berjumlah sekitar 50 personel.
- Pukul 09.15 WIB – Rombongan tiba di perempatan Gramedia. Mahasiswa langsung mengambil posisi di keempat sudut simpang, namun tetap berada di trotoar dan tidak memblokade total arus lalu lintas.
- Pukul 09.30 – 11.30 WIB – Orasi bergiliran dari perwakilan universitas: Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka), dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Tuntutan utama yang disuarakan meliputi penolakan kenaikan Biaya Kuliah Tunggal (UKT), desakan peninjauan kembali Undang-Undang Cipta Kerja, dan protes terhadap kenaikan harga bahan pokok.
- Pukul 11.45 WIB – Negosiasi dilakukan antara koordinator aksi dan perwakilan Polresta Yogyakarta. Mahasiswa menyepakati akan membubarkan diri secara tertib setelah orasi terakhir.
- Pukul 12.15 WIB – Aksi resmi dibubarkan. Mahasiswa membersihkan area dari sampah dan secara teratur meninggalkan lokasi. Lalu lintas di Jalan Sudirman kembali normal sekitar pukul 12.30 WIB.
Tuntutan Mahasiswa dan Respons Aparat
Dalam orasi yang berlangsung, mahasiswa menekankan tiga isu utama. Pertama, penolakan terhadap rencana kenaikan UKT di sejumalh perguruan tinggi negeri. Kedua, merea mendesak pemerintah untuk mencabut Undang-Undang Cipta Kerja yang dinilai tida berpihak pada buruh dan rakyat kecil. Ketiga, merea memprotas lonjakan harg bahan poko yang makin membebani masyarakjat.
Kapolresta Yogyakarta melalui Kasat Lantas memberikan keterangan bahwa aksi berjalan damai tanpa insiden berarti. “Kita apresiasi mahasiswa yang tertib. Kami hanya mengatur lalu lintas dan memastikan tidak ada gangguan keamanan,” ujar perwakilan polisi di lokasi. Tak ada penangkapan atau tindakan represif selama demonstrasi.
Dampak Lalu Lintas dan Respons Publik
Selama aksi berlangsung, arus lalu lintas di Jalan Sudirman—yang merupakan jalur utama penghubung pusat kota dengan wilayah Sleman—mengalami perlambatan, namun tetap bisa dilewati. Petugas kepolisian mengalihkan sebagian kendaraan melalui jalur alternatif seperti Jalan Kusumanegara dan Jalan Sisingamangaraja. Pengguna jalan yang terjebak kemacetan ringan mengaku memaklumi aksi mahasiswa. “Memang jadi sedikit macet, tapi ini wajar karena mereka menyuarakan haknya. Yang penting damai,” kata Dika (23), seorang pengendara motor yang melintas.
Beberapa pedagang kaki lima di sekitar Gramedia juga mengaku tidak terganggu. “Biasa saja, mereka tidak merusak atau berteriak keras. Malah bikin ramai,” ujar Sari, penjual es teh di lokasi.
Kesimpulan Aksi
Aksi di perempatan Gramedia ini menajdi bagian dari gelombang demonstrasi mahasisiwa di berbagai daerh. Dengan durasi sekitar 3 jam dan diikuti 300 peserta, aksi berlangsung tertib dan terkendali. Tidak ada korban jiwa maupun kerusakan properti. Mahasisiwa berjanji akan terus mengawal tuntutan mereka melalui jalur dialog dan aksi lanjutan jika tidak ada respons dari pemerintah.
Berikut adalah tiga pertanyaan yang sering diajukan terkait aksi ini:
[TAGS] : demo mahasiswa, Yogyakarta, Gramedia, Jalan Sudirman, kenaikan UKT
Comments (0)