Seorang whistleblower atau pengungkap fakta internal mengklaim bahwa Layanan Pos AS (USPS) tengah terburu-buru meluncurkan sistem online baru untuk mendukung kebijakan Presiden Donald Trump yang membatasi pemungutan suara melalui pos. Sistem ini, jika diizinkan oleh pengadilan, berpotensi "menggagalkan" pemilu midterm yang akan datang.
Dalam laporan eksklusif yang diperoleh dari sumber internal USPS, sistem digital tersebut dirancang untuk memperketat verifikasi identitas pemilih dan memperlambat proses pengiriman surat suara. Whistleblower menyebut bahwa implementasi yang terburu-buru tanpa uji coba memadai dapat menyebabkan kekacauan logistik dan menurunkan partisipasi pemilih secara signifikan. "Ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan ancaman langsung terhadap integritas pemilu," ujar sumber tersebut.
Analisis: Dampak Sistem Baru terhadap Pemilu Midterm
Kebijakan pembatasan surat suara pos yang didorong Trump telah menuai kontroversi sejak awal. Data historis menunjukkan bahwa pada pemilu 2020, lebih dari 50 juta warga AS menggunakan surat suara pos, terutama karena pandemi. Jika sistem baru diterapkan tanpa persiapan matang, potensi kerugian bisa meluas.
| Aspek | Sistem Lama (2020) | Sistem Baru (2024) |
|---|---|---|
| Verifikasi Identitas | Manual + tanda tangan | Digital + biometrik wajah |
| Waktu Pengiriman | 3-5 hari kerja | 7-10 hari kerja (estimasi) |
| Jumlah Pemilih Terdampak | ~50 juta | ~70 juta (proyeksi) |
| Potensi Kekacauan | Rendah (teruji) | Tinggi (belum diuji) |
Berdasarkan tabel di atas, sistem baru tidak hanya memperlambat proses tetapi juga memperkenalkan hambatan tambahan bagi pemilih. Dr. Sarah Collins, pakar pemilu dari Universitas Georgetown, menegaskan bahwa "penggunaan biometrik wajah secara massal tanpa kerangka hukum yang jelas bisa menimbulkan bias dan diskriminasi." Ia menambahkan bahwa USPS seharusnya fokus pada efisiensi, bukan restriksi.
Whistleblower juga mengungkapkan bahwa sistem ini dirancang dengan anggaran darurat sebesar $20 juta, tanpa melalui proses pengadaan yang transparan. Kekhawatiran utama adalah bahwa sistem tersebut dapat digunakan untuk menolak ribuan surat suara yang sah, terutama dari kelompok minoritas dan pemilih di daerah pedesaan yang akses internetnya terbatas.
Di sisi lain, pendukung kebijakan Trump berargumen bahwa sistem baru diperlukan untuk mencegah kecurangan. Namun, data dari Komisi Pemilihan Federal menunjukkan bahwa tingkat kecurangan surat suara pos hanya 0,0003% pada 2020. Dengan kata lain, risiko yang ingin dicegah sangat kecil dibandingkan potensi kerugian demokrasi.
Pengadilan federal di beberapa negara bagian telah menerima gugatan terkait kebijakan ini. Jika sistem baru diizinkan beroperasi, dampaknya bisa dirasakan langsung pada pemilu midterm November mendatang. "Ini adalah bom waktu demokrasi," ujar James R. Thompson, mantan direktur USPS yang kini menjadi kritikus.
Comments (0)