WhatsApp Digunakan untuk Edukasi Stunting di Lombok Timur

Latar Belakang Stunting di Lombok TimurAngka stunting di Lombok Timur masih menjadi perhatian serius. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Nusa Tengg...

Jul 16, 2026 - 14:30
0 0

Latar Belakang Stunting di Lombok Timur

Angka stunting di Lombok Timur masih menjadi perhatian serius. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Nusa Tenggara Barat mencapai 32,7 persen, dengan Lombok Timur sebagai salah satu daerah dengan angka yang tinggi. Berbagai intervensi telah dilakukan, termasuk edukasi gizi kepada orang tua. Namun, keterbatasan akses informasi dan rendahnya partisipasi dalam penyuluhan tatap muka menjadi tantangan. Inovasi menggunakan platform digital, seperti WhatsApp, mulai dieksplorasi sebagai alternatif penyampaian edukasi.

Penelitian Mengenai WhatsApp dan Pola Asuh Makan

Sebuah penelitian terbaru menganalisis efektivitas penggunaan WhatsApp Group dalam mengubah praktik pola asuh makan anak. Studi ini dilakukan terhadap ibu balita di beberapa desa di Lombok Timur. Metode yang digunakan adalah quasi-experimental dengan kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi menerima materi edukasi rutin melalui WhatsApp Group selama tiga bulan, sementara kelompok kontrol hanya mendapat penyuluhan konvensional. Materi mencakup cara pemberian makan bayi dan anak (PMBA), variasi makanan, frekuensi, dan porsi sesuai usia.

Hasil awal menunjukkan peningkatan skor pengetahuan dan praktik pola asuh yang signifikan pada kelompok WhatsApp. Misalnya, jumlah ibu yang memberikan makanan beragam naik 45 persen, dibandingkan 12 persen di kelompok kontrol. Durasi interaksi juga lebih sering, karena pesan edukatif dapat diakses ulang kapan saja.

Keunggulan Platform Digital dalam Edukasi Gizi

WhatsApp dipilih karena penetrasi pengguna yang tinggi di Indonesia. Hampir setiap ibu memiliki ponsel pintar dan akun WhatsApp. Fitur grup memungkinkan diskusi interaktif, tanya jawab, dan berbagi konten visual seperti foto dan video. Peneliti menyusun kartu infografis, resep lokal, dan video singkat yang mudah dipahami. Modul edukasi dirancang oleh ahli gizi dan disesuaikan dengan kebiasaan setempat.

Tantangan seperti kendala sinyal dan literasi digital rendah diatasi dengan mengirim konten dalam format ringan (gambar dan teks pendek) serta menyediakan koordinator desa yang siap membantu. Partisipasi aktif dijaga dengan kuis berhadiah pulsa. Model ini dinilai lebih hemat biaya dan menjangkau lebih banyak sasaran dibandingkan pertemuan tatap muka yang membutuhkan transportasi dan waktu.

Signifikansi untuk Kebijakan Lokal

Temuan studi ini memberikan bukti bahwa intervensi berbasis pesan instan dapat menjadi tambahan efektif dalam program penurunan stunting. Dinas Kesehatan Lombok Timur menyatakan minat untuk mengadopsi pendekatan serupa di wilayah lain. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat mengatakan, "Kami melihat potensi besar dari metode ini. Edukasi melalui WhatsApp bisa menyasar ibu yang sulit hadir ke posyandu."

Namun, penelitian mengingatkan bahwa digitalisasi tidak bisa sepenuhnya menggantikan kontak langsung. Bimbingan tatap muka tetap diperlukan untuk kasus gizi buruk. Kombinasi daring dan luring diyakini paling optimal. Ke depan, perlu dikembangkan dashboard pemantauan partisipasi dan dampak jangka panjang terhadap tinggi badan anak.

Kesimpulan: Potensi Digital dalam Percepatan Penurunan Stunting

Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan WhatsApp Group secara terstruktur mampu memperbaiki praktik pemberian makan anak. Dengan biaya rendah dan jangkauan luas, metode ini layak direplikasi di daerah dengan akses terbatas. Kendati demikian, verifikasi berkelanjutan terhadap kualitas informasi dan pendampingan lapangan tetap diperlukan. Studi lanjutan dengan sampel lebih besar dan durasi lebih panjang disarankan untuk memperkuat rekomendasi kebijakan.

Di Lombok Timur, inisiatif ini menjadi contoh bagaimana teknologi sederhana bisa dimanfaatkan untuk menekan prevalensi stunting. Jika berhasil diintegrasikan ke dalam program puskesmas, bukan tidak mungkin target penurunan stunting nasional bisa tercapai lebih cepat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User